Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Halangan Belajar Al Qur’an

1
3546
anak mengaji © 500px.com
anak mengaji © 500px.com
anak mengaji © 500px.com

Banyak orang tua yang bingung ketika anaknya belum juga naik jilid ketika mengaji bahkan sampai jengkel dan gemas mengapa tak jua kunjung bisa mengaji. Ada pengalaman pribadiku mengenai hal ini yang kiranya perlu para bunda tahu.

Kulihat kala itu ia berlari ke arahku dengan senyumnya yang ceria. Sekilas aku berfikir bahwa ia akan menubrukku tapi ternyata aku keliru. Ia sibak barisan teman-temannya dan langsung menempati posisi paling depan memburu alat peraga mengaji di sampingku. Ia raih tanganku yang membawa spidol besar yang biasa kugunakan untuk menunjuk huruf-huruf hijaiyah dan ia arahkan ke huruf-huruf itu.

Spontan saja kutunjuk mulai dari huruf alif. Tiba-tiba dari bibirnya ia bunyikan dengan lantang dan gembira, “aaa, baaa, ssssaaa, jjjjaaaa”, sembari aku menunjuk masing-masing huruf.

Tak pernah kulupakan wajah bahagianya kala itu membaca huruf-huruf hijaiyah.

Sesuatu yang biasa memang bagi anak-anak pada umumnya. Akan tetapi tidak untuk Rafaku. Awalnya aku mengira Rafa termasuk anak ‘authis’ tapi setelah membaca beberapa buku dan mengikuti beberapa seminar, ternyata Rafaku adalah anak ‘gifted’, anak cerdas luar biasa, speech delay.

Ia mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dua arah dengan orang lain karena keterlambatan bicaranya. Ketika Rafa awal kali masuk kelompok TK A, ia hanya membunyikan ‘bahasa planet’ seperti “gagagugu”. Rafa pun sering emosi karena keinginan atau maksudnya yang tak dimengerti banyak orang itu atau justru sebaliknya, ia yang tak mengerti apa yang kita bicarakan. Jika sedang ‘tantrum’ atau marah yang menjadi, biasanya ia mencakar, menggigit, menendang, memukul, atau apa pun yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan yang ia inginkan atau menolak yang tidak ia inginkan.

Di awal ajaran baru, ketika aku pertama kalinya menjadi wali kelas dengan amanah anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), aku selalu berfikir bagaimana agar Rafaku bisa seperti anak-anak normal apalagi aku sendiri belum pernah mendapat amanah ini sebelumnya.

Dengan berbagai macam cara dan trik, aku, ustadzah pendamping, ustadzah terapis di sekolah tempatku mengajar, mama Rafa,dan tak ketinggalan juga teman-teman Rafa yang sangat menyayanginya berusaha untuk membantu Rafa.

Dan pagi itu, untuk kesekian kalinya ia membuat kami terkejut dan menangis haru. Dulu kami berfikir bagaimana cara untuk mengajarinya mengaji. Akan tetapi, hari itu ia membuktikan pada kami bahwa Al Qur’an bisa dipelajari semua orang termasuk Rafa yang tergolong ‘speech delay’ dimana mengucapkan kata lebih dari dua suku kata saja belum bisa.

Satu semester telah berlalu dan Rafaku sudah naik jilid dua. Sekarang ia mulai mempelajari huruf hijaiyah dengan harokat kasroh setelah tuntas membaca semua huruf hijaiyah dengan harokat fathah secara acak.

Subhanallah! Muridku yang lain saja di mana tidak ada kekurangan fisik atau pun perkembangannya masih ada yang jilid satu. Menurut pemahaman kami, setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda, masa peka yang berbeda-beda pula. Akan tetapi, jika belajar dari hal ini, peran orang tua dan orang di sekitarnya juga sangat berpengaruh. Tidak bisa kita hanya mengkambinghitamkan waktu dengan dalih ‘memang belum saatnya’, ‘tidak apa masih kecil’, ‘kalau besar juga bisa sendiri’.

Setelah dirunut, kesimpulan yang dapat kuambil, Rafaku mendapatkan banyak sekali stimulus. Awalnya ia sangat menolak untuk diajari membaca huruf hijaiyah. Melihat alat peraga mengaji pun mati-matian kami berusaha. Walau memang ada penanganan yang berbeda antara anak ABK dengan anak normal, akan tetapi benang merah dalam hal ini adalah jika orang tua juga memaksimalkan waktu kebersamaan dengan ananda di rumah dengan lebih produktif maka alangkah beruntungnya anak-anak. Bisa jadi, ‘pasrah bongkok’an’ atau kepasrahan penuh kepada pihak sekolah tanpa ada keterpaduan dengan pola asuh orang tua di rumah menjadi salah satu penyebab ketertinggalan ananda.

Sampai saat ini, ketika Rafaku sudah dijemput, selalu kulepas dengan doa, “Semoga kelak menjadi seorang hafidz ya nak….”. Dan begitu juga dengan yang lain. Aamiin. Wallahu a’lam bish showab. (Gresia Divi)

SHARE
Previous articleBolehkah Orang Tua Menikahkan Putrinya Tanpa Persetujuannya?
Next articleTips Ketika Marah pada Ibu

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here