8 Kunci Agar Anak Tak Jadi Generasi Home Service

0
generasi home service
ilustrasi anak mandiri (500px)

Kini ada istilah generasi home service. Apa artinya, apa saja penyebabnya dan bagaimana agar anak terhindar darinya?

“Ma, sepatuku mana?” Milena berteriak. Hampir setiap pagi ia seperti itu. “Kaos kakinya nggak ada Ma. Cepetan cariin!”

“Ih, ini kusut. Pasti belum disetrika ya,” katanya bersungut-sungut. “Ini rok abu-abuku sudah mulai kusam Ma. Nanti siang beliin ya. Soalnya besok kupakai.”

Bukan hanya Milena yang bersikap seperti itu. Banyak anak SMA lainnya yang dikeluhkan oleh orangtua karena mengalami gejala serupa. Sudah besar, tapi belum mandiri. Sudah berseragam putih abu-abu, tapi masih minta semuanya dilayani. Belum bisa mengerjakan sendiri.

Generasi “Home Service”, demikian istilah untuk mereka. Generasi home service adalah generasi yang selalu minta dilayani. Dalam istilah Al Quran, mereka termasuk dzurriyatan dhi’afa (generasi lemah). Lemah dalam kemandirian, lemah dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Penyebab Anak Jadi Generasi Home Service

Mengapa anak menjadi generasi home service? Setidaknya ada delapan sebab secara umum, sebagai berikut:

1. Sejak kecil dilayani (pembantu)

Sejak kecil dilayani, apalagi oleh pembantu, bisa membuat anak terpola untuk selalu minta dilayani.

2. Ke mana-mana diikuti babbysitter

Di zaman sekarang, kadang ada anak-anak yang ke mana-mana diikuti babbysitter. Ketika ada sesuatu, dengan cekatan babbysitter melakukan aksinya. Beberapa kali saya melihat di plaza dan mall.

Seharusnya, anak bisa mulai bermain sendiri bersama teman. Kadang berselisih, kadang ada yang menangis, tidak masalah. Itu melatih kemandirian dan emosi mereka. Orangtua tidak perlu turun tangan yang justru bisa menghambat kemandirian anak dan membuat anak tergantung. Bahkan bisa timbul pertengkaran antar tetangga jika orangtua turun tangan.

3. Keperluan selalu dipenuhi tanpa dilatih berusaha sendiri

Jika keperluan anak selalu dipenuhi tanpa dilatih berusaha sendiri, anak bisa tumbuh menjadi generasi home service. Anak mau mainan, diambilkan. Anak mencari kaos kaki, dicarikan. Anak habis makan, orangtua yang merapikan.

4. Terlalu lama pakai popok bayi dan disuapi

Umumnya, bagi orangtua yang ingin praktis dan tidak mau repot, mereka memilih anak-anaknya pakai popok bayi saja.

“Daripada nanti ngompol, repot membersihkan lantai dan cucian menumpuk,” demikian pertimbangannya.

Pun karena tak ingin anaknya lapar, anak disuapi. Jika terbawa sampai besar, ini akan berbahaya. Apalagi anak minta disuapi sambil mainan gadget. Faktanya, ada anak usia SD masih disuapi kalau makan.

penyebab anak jadi generasi home service

5. Terbiasa dicarikan tanpa berusaha mencari sendiri

Usia tiga tahun: “Ma, mana mainanku yang kemarin?

Usia SD: “Ma, ambilkan tasku”

Usia SMP: “Ma, mana buku pelajaranku?”

Kalau selalu dicarikan tanpa ia berusaha mencari sendiri, sampai dewasa pun akan terbiasa begitu. Menjadi generasi home service.

6. Terbiasa dibantu

Pakai baju dibantu, pakai sepatu dibantu, mengancingkan baju dibantu. Terus begitu. Akhirnya ia selalu membutuhkan bantuan dan sulit mandiri.

7. Terlalu banyak main gadget yang serba instan

Dengan google, anak bisa mencari apa pun secara cepat. Di playstore, anak bisa mendapatkan aplikasi apa pun yang diinginkannya secara instan. Apalagi jika ia selalu main game, otaknya bisa terpola untuk mengharap sesuatu secara instan tanpa proses yang semestinya.

Baca juga: Dampak Gadget bagi Anak

8. Keinginan selalu dipenuhi orangtua

Saya sering mendapati anak-anak SD bahkan TK sudah punya smartphone sendiri. Ini salah satu indikasi keinginan anak yang selalu dipenuhi orangtua dan itu berbahaya. Dealer resmi iPhone dan iPad hanya mau menjual gadget itu pada usia minimal 17 tahun.

8 Kunci Agar Anak Tidak Menjadi Generasi Home Service

Ada delapan kunci agar anak tidak menjadi generasi home service. Yuk kita bahas dan kita amalkan.

1. Latih anak mandiri sejak dini

Mandiri bukan generasi home service

Melatih anak toilet training, mandi sendiri, pakai baju sendiri dan pakai sepatu sendiri akan membuat anak lebih mandiri. Toilet training bisa dilakukan pada usia 2-3 tahun, bahkan kurang dari itu.

Memakai baju sendiri juga merupakan tonggak psikologis dan emosional yang penting. Motorik kasar anak terlatih saat mengangkat lengan dan kaki ketika berganti baju, motorik halus terlatih saat memakai kancing atau membetulkan resleting, kognitifnya juga terlatih dengan memahami urutan memakai baju.

Anak-anak bisa mulai dilatih memakai baju usia 2 tahun atau lebih cepat. Dimulai dari yang sederhana, dibantu memakaikan kancingnya. Tapi di usia 5 tahun, anak harus sudah bisa mengancingkan baju sendiri.

2. Latih anak bertanggung jawab

Sejak dini, tanamkan rasa tanggung jawab kepada anak. Di usia 2-3 tahun, anak-anak perlu dilatih membereskan mainan dan merapikan bukunya.

Di usia 4 tahun sudah mulai dibiasakan membereskan tempat tidur, meletakkan piring kotor di tempatnya, dan membuang sampah. Saat ia masuk sekolah, sejak saat ini harus dilatih untuk merapikan tasnya dan mempersiapkan peralatan sekolah.

Saat SD, sebisa mungkin setiap ada tugas anak berusaha menyelesaikan sendiri. Kecuali hal yang memang benar-benar membutuhkan bantuan dan bimbingan orangtua.

3. Biasakan anak tumbuh dengan tantangan

bukan generasi home service

Biasakan anak-anak tumbuh dengan tantangan. Bukan menuruti semua keinginannya. Misalnya anak ingin mainan. Ajak ia menabung terlebih dahulu.

Carol Dweck, Psikolog dari Stanford University, mengatakan, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan.”

4. Libatkan ayah mengurus pekerjaan rumah

Bagaikan spons yang menyerap  banyak air dengan cepat, begitulah kira-kira gambaran otak anak. Apa yang dilakukan ayah dan ibu akan segera ia tiru.

Ketika anak melihat seluruh anggota keluarga terlibat dalam mengurus pekerjaan rumah, maka ia pun menyerap nilai tanggungjawab dan terbiasa melakukannya. Jangan sampai anak memiliki pemahaman keliru bahwa seluruh pekerjaan rumah adalah tanggung jawab ibu atau pembantu.

Dan meskipun memiliki pembantu, harus ada pekerjaan tertentu yang dikerjakan oleh ayah. Misalnya menyiram tanaman dan mencuci mobil. Jangan sampai anak terbiasa tidak mengerjakan apa pun dan akhirnya saat dewasa tidak bisa melakukan apa pun.

Rasulullah mencontohkan, meskipun beliau adalah kepala negara dan manusia termulia, beliau menjahit sendiri bajunya yang sobek dan memperbaiki sendiri sandalnya.

Baca juga: Wanita yang Dirindukan Surga

5. Latih kedisiplinan

Latih kedisiplinan anak sejak dini. Dimulai dari hal-hal sederhana, terkait waktu dan tempat, misalnya. Jam berapa waktunya main, jam berapa harus pulang. Tas diletakkan di mana, sepatu diletakkan di mana, dan sebagainya.

Salah satu kunci menanamkan kedisiplinan adalah dengan mendirikan shalat di awal waktu. Rasulullah bersabda, “Perintahkan anak-anakmu  untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun” (HR. Abu Daud)

6. Jadilah teladan dengan ketaqwaan

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan tentang generasi yang lemah dalam Al Quran, Dia juga memberikan solusinya. Pertama, agar orangtua bertaqwa. Dengan taqwa itu orangtua menjadi teladan bagi anak-anaknya.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An Nisa: 9)

Orang yang bertaqwa, dia tidak akan menyikapi sesuatu kecuali dengan dua hal yakni sabar dan syukur.

7. Tanamkan Kejujuran

Solusi kedua, masih dalam ayat yang sama, hendaklah orangtua hanya berbicara kepada anak dengan perkataan yang benar (qaulun syadiid). Menanamkan kejujuran kepada anak-anak sejak dini hingga selamanya.

Qulun syadid ini pernah kita bahas pada Kulwap beberapa waktu yang lalu. Kata Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir, qaulan sadida adalah perkataan yang benar dan lurus. Kontennya benar, cara menyampaikannya juga benar.

Ketika anak jatuh, jangan katakan: “Mejanya salah ya Nak, bikin kamu jatuh.” Itu nggak benar, anak akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang suka menyalahkan, tidak bertanggung jawab. Akhirnya menjadi generasi home service.

Atau, “Jangan menangis, gitu aja kok. Nggak sakit kok.” Akhirnya anak tumbuh menjadi pribadi yang mengabaikan perasaannya. Atau anak ditinggal pergi dengan cara ditilap, akhirnya anak belajar, “O, boleh menipu ya.”

8. Doakan anak

Kunci yang paling utama agar anak terhindar dari generasi home service adalah doa. Mengapa? Karena pada hakikatnya, hati anak itu dalam genggaman Allah. Allah yang Menguasai dan bisa membolak-balikkannya.

Karenanya kita perlu memperbanyak doa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang mandiri, bukan menjadi generasi home service. Dan doa orangtua ini luar biasa. Insya Allah pasti dikabulkanNya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa musafir dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud)

Baca juga: Asmaul Husna

Demikian 8 penyebab anak jadi generasi home service dan 8 kunci agar anak tak jadi generasi home service. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang kuat, mandiri dan penyejuk hati. [Ummi Liha/KeluargaCinta]

Berita sebelumyaIstri Butuh Didengar, Suami Butuh Dihargai
Berita berikutnya8 Adab Bergaul dengan Lawan Jenis
Seorang istri, ibu, pemerhati keluarga dan pendidikan anak. Owner Indogamis, pendiri komunitas Sahabat keluarga Cinta.