Komunikasih: 8 Prinsip Komunikasi Suami Istri yang Diajarkan Nabi

komunikasi suami istri

Tahukah Bunda, 70% persoalan suami istri dipicu oleh kegagalan komunikasi. Di Indonesia, setiap jam ada 40 kasus perceraian. Sebagian besarnya bermula dari masalah komunikasi suami istri. Sedih banget ya baca data begini.

Kabar baiknya, Rasulullah telah mengajarkan prinsip-prinsip komunikasi suami istri. Ada 8 prinsip yang jika kita praktikkan, insya Allah akan tercipta Komunikasih. Komunikasi suami istri yang penuh kasih.

Prinsip 1: Menyamakan Frekuensi

Ibarat radio, ketika frekuensi sama, kita bisa menikmati suaranya. Garpu tala bisa menghasilkan resonansi ketika frekuensinya sama.

Dalam komunikasi suami istri, menyamakan frekuensi berarti saling memahami. Lalu berkomunikasi menyesuaikan diri dengan pasangan hidupnya.

Prinsip ini bersumber dari hadits:

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ

“Berbicaralah kepada manusia dengan bahasa yang mereka mengerti” (HR. Bukhari)

أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ

“Tempatkanlah manusia sesuai kedudukannya” (HR. Abu Dawud)

أمرنا أن نكلم الناس على قدر عقولهم

“Kami diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai kadar intelektualnya” (HR. Dailami dari Ibnu Abbas)

Setelah melakukan penelitian selama 7 tahun tentang komunikasi suami istri, John Gray menemukan bahwa keluhan yang paling sering disampaikan istri adalah, suaminya tidak mendengarkan. Sedangkah keluhan yang disampaikan suami, istri sering terkesan mau mengubah suami.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena istri tidak begitu memahami karakter suaminya yang laki-laki. Demikian pula sebaliknya, suami tidak memahami karakter istrinya yang perempuan. Laki-laki dan perempuan itu berbeda, sejak dari fitrahnya.

Karenanya Rasulullah mengajarkan, komunikasi perlu dibangun di atas pemahaman komunikan. Beliau berkomunikasi dengan anak-anak, berbeda dengan beliau berkomunikasi sama istri. Bahkan, komunikasi beliau dengan Khadijah radhiyallahu ‘anha tidak sama persis dibandingkan komunikasi beliau dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Perbedaan Organ Fisik Laki-Laki dan Perempuan

Menyamakan frekuensi bukan berarti harus menjadi pribadi yang sama. Nggak bisa. Laki-laki dan perempuan itu secara fitrah berbeda.

Apa saja perbedaan itu? Saya ingin mengutip dari buku Saikulujiyyah ar Rajul wa al Mar’ah karya Dr Thariq Kamal An Nu’aimi. Pertama, perbedaan organ fisik.

  • Organ s*ksual. Ini tidak perlu dijelaskan ya, semua pasti sudah mengerti.
  • Kulit. Laki-laki lebih tebal. Karena lebih tipis, umumnya kulit perempuan lebih cepat keriput.
  • Pita suara laki-laki lebih panjang sehingga suaranya lebih keras dan dalam.
  • Darah laki-laki lebih tebal dan jumlah butir darahnya lebih banyak. Dengan demikian, oksigen laki-laki pun lebih banyak sekitar 20 persen.
  • Tulang laki-laki ukurannya lebih besar dan susunannya berbeda dibandingkan perempuan. Ini membentuk gaya berjalan yang berbeda.
  • Tulang pinggul perempuan lebih besar, dirancang untuk menjaga kehamilan dan memudahkan persalinan.
  • Kandungan lemak dalam otot laki-laki lebih berimbang sehingga lebih mudah menurunkan berat badan.

Kedua, perbedaan psikologis.

Perbedaan Psikologis Laki-Laki dan Perempuan

Perbedaan laki-laki dan perempuan bukan hanya dalam organ fisik. Secara psikologis juga berbeda. Jika kita memahami perbedaan ini dan kemudian menyesuaikan komunikasi berdasarkan pemahaman ini, hasilnya akan luar biasa.

Perbedaan psikologis laki-laki dan perempuan antara lain:

  • Gerak intuisi perempuan lebih tinggi daripada laki-laki
  • Perempuan lebih berorientasi memperkuat dan meningkatkan hubungan dengan orang lain
  • Respon perempuan ketika lelah berbeda dengan laki-laki
  • Kebiasaan mengeluh dan menggerutu juga berbeda

Memahami Perbedaan, Menyamakan Frekuensi

Mari kita mencoba memahami suami kita. Atau tepatnya, tipe laki-laki secara umum. Laki-laki menghargai kemampuan, prestasi dan kesuksesan. Laki-laki tidak suka “digurui.” Laki-laki tidak suka diberi tahu apa yang harus dilakukannya. Ia ingin mencoba sendiri, dan merasa sukses ketika bisa menyelesaikan sendiri.

Sementara, kita sebagai istri, tipe perempuan itu ingin membantu. Bagi perempuan membantu adalah nilai yang dijunjung tinggi tapi bagi laki-laki secara umum, itu dianggap “menggurui”.

Contoh ketika bepergian, suami tidak tahu jalan. Kita pasti segera berkomentar, “coba berhenti Mas, tanya orang”
Niat kita baik, membantu. Bagi wanita itu biasa tapi bagi laki-laki itu kurang disukai.
Apalagi kalau kemudian ternyata suami benar-benar salah jalan. “Nah, Mas. Lebih baik berhenti sebentar. Tanya orang.”

Apa yang terjadi? Umumnya justru masalah tidak selesai. Malah timbul perselisihan.

Cobalah diam, bersabar. Begitu suami berhasil menemukan jalan, entah dengan Google map atau lainnya, itu kesuksesan tersendiri baginya.

Sebaliknya, ketika istri mengungkapkan masalah, suami segera menanggapi dengan memberikan solusi dan pemecahan masalah.

Bagi laki-laki, saat ada permasalahan harus dipecahkan dan ia adalah pemecah masalah.

Padahal bagi perempuan, ia inginnya didengarkan dan dimengerti. Yang ia harapkan adalah empati, bukan solusi.

Sementara ini, insya Allah kiat sambung lagi. Khususnya untuk prinsip kedua dan seterusnya. [Ummi Liha/KeluargaCinta]

Previous articleMengapa di Era Smartphone Banyak Orang Tak Bahagia? Ini Jawaban Ali bin Abu Thalib
Next articleSemangat Qur’ani dari Kartini
Seorang istri, ibu, pemerhati keluarga dan pendidikan anak. Owner Indogamis, pendiri komunitas Sahabat keluarga Cinta.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.