Memberi Nama Usaha Kuliner dengan Istilah Horor

1
6776

Kuliner setan - ilustrasiSaat ini banyak usaha, khususnya makanan dan minuman, yang memakai nama-nama horor dan mengerikan. Misalnya “Mie Setan”, “Mie Iblis”, “Es Genderuwo”, “Es Sarang Kuntilanak”, “Rawon Setan”, “Ceker Setan” dan sebagainya.

Bolehkah menamai usaha atau makanan dengan nama-nama horor seperti itu? Terus terang, sampai saat ini saya tidak pernah makan di tempat-tempat seperti itu meskipun penasaran. Katanya, namanya dibuat seperti itu agar kontroversial dan mudah dikenal.

Jawaban
Islam adalah agama yang menghendaki kebaikan bagi umatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Karenanya Al Qur’an mengajarkan doa:

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS. Al Baqarah : 205)

Islam melarang umatnya meyakini sesuatu yang dapat menjerumuskannya ke dalam kesyirikan dan menghambat kebaikan. Karena dua faktor ini, Islam mengharamkan tathayyur. Yakni merasa sial lantaran ada sebuah kejadian atau hal tertentu. Misalnya seseorang yang akan bepergian kemudian melihat burung terbang ke arah kiri, lalu ia meyakini bahwa itu adalah tanda sial, isyarat akan terjadi kecelakaan atau hal buruk. Ini contoh tathayyur dan hal seperti ini diharamkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ طِيَرَةَ

“Tidak ada tathayyur” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan dalam riwayat Abu Dawud:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

”Tathayyur adalah syirik, tathayyur adalah syirik, tathayyur adalah syirik”

Sebaliknya, Islam menyukai optimisme. Rasulullah menyukai fa’l, kata-kata positif yang menumbuhkan otimisme. Beliau bersabda:

لاَ طِيَرَةَ وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ . قَالَ وَمَا الْفَأْلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ

”Tidak ada ‘thiyarah, dan sebaik-baiknya adalah fa’l.” Para sahabat bertanya, “Apa itu fa’l?” Beliau menjawab, “Kalimat baik yang didengar oleh kalian” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam praktiknya, Rasulullah mengganti nama dan istilah negatif yang dapat mengantarkan seseorang pada tathayyur menjadi nama dan istilah positif yang menumbuhkan optimisme dan doa. Beliau mengganti nama ‘Ashi (pendosa) menjadi Abdullah. Beliau mengganti nama Huzn (sedih) menjadi Sahl (mudah). Beliau mengganti nama Zahm (repot) menjadi Basyir. Beliau mengganti nama Ghawi (sesat) menjadi Rusyd (lurus).

Pun, saat beliau melewati beberapa alternatif jalan menuju tujuan yang sama, beliau memilih nama jalur yang positif. Misalnya saat menuju Khaibar untuk berperang, beliau dihadapkan pada empat jalan, yakni Huzn (kesedihan), Syasy (kacau), Hathib (sial), dan Marhab (selamat datang). Maka beliau memilih melewati jalan Marhab.

Nama-nama yang berkonotasi negatif, apalagi yang langsung terkait dengan syetan sebagai “aduwwun mubin” (musuh yang yang nyata), seharusnya dihindari sebagaimana petunjuk Rasulullah. Nama-nama negatif dan mengerikan tersebut bisa membuat usaha tidak barakah. Coba perhatikan usaha-usaha yang bermerk seperti itu, mungkin di awal-awal ramai karena orang penasaran. Namun, setelah berlalu sekian lama, keberkahan itu tidak tampak.

Pernah terjadi di zaman Umar, seseorang yang namanya negatif menamakan anaknya dengan negatif. Lalu hal buruk pun terjadi padanya.

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ لِرَجُلٍ مَا اسْمُكَ فَقَالَ جَمْرَةُ. فَقَالَ ابْنُ مَنْ فَقَالَ ابْنُ شِهَابٍ. قَالَ مِمَّنْ قَالَ مِنَ الْحُرَقَةِ. قَالَ أَيْنَ مَسْكَنُكَ قَالَ بِحَرَّةِ النَّارِ. قَالَ بِأَيِّهَا قَالَ بِذَاتِ لَظًى. قَالَ عُمَرُ أَدْرِكْ أَهْلَكَ فَقَدِ احْتَرَقُوا. قَالَ فَكَانَ كَمَا قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضى الله عنه

Dari Yahya bin Sa’id bahwa Umar bin al Khattab menanyai seseorang tentang namanya maka ia menjawab, “Namaku Jamroh (yang maknanya adalah bara api)”.
“Siapa nama bapakmu?” tanya Umar berikutnya.
“Syihab (cahaya api)”, jawab orang itu.
“Dari mana engkau?”
“Huraqah”
“Di mana tempat tinggalmu?”
“Di daerah yang bernama Harrah an Nar (panasnya api)”.
“Tepatnya di daerah mana?”
“Suatu tempat namanya Dzat Lazha (yang memiliki nyala api)”
Akhirnya Umar berkata, “Pulanglah sungguh rumamuh telah terbakar”.
Orang itu langsung pulang dan dijumpai rumahnya terbakar sebagaimana yang dikatakan oleh Umar.
(Diriwayatkan Imam Malik dalam Al Muwatha’)

Dari pendekatan sains, ada sebuah penelitian DR Masaru Emoto dari Jepang yang menunjukkan, ketika air diberi label negatif atau disebutkan kata-kata negatif, kristal air tersebut menjadi berantakan. Bisa dibayangkan jika makanan dan minuman yang kita konsumsi diberi label negatif seperti setan, iblis, dan sejenisnya, mungkin hal yang sama akan terjadi. Meskipun penelitian ini masih diperdebatkan, setidaknya kita sudah mendapatkan petunjuk yang jelas dari Rasulullah untuk hanya memberikan nama yang positif. Wallahu a’lam bish shawab. [Tim Redaksi Keluargacinta.com]

1 COMMENT

  1. Maaf, kolom iklan di samping kanan layar menutupi beberapa huruf dalam artikel, sehingga sedikit mengganggu. mohon diperbaiki. Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here