Mengapa Rasulullah Melarang Mendoakan Pengantin “Semoga Bahagia dan Banyak Anak”?

33
pengantin baru © lamancinta

Hari itu, Uqail bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu menikah. Di tengah kebahagiaannya, ia merasakan kegundahan saat mendengar tamu mendoakannya dengan mengucapkan

بِالرَّفَاءِ وَ الْبَنِيْن

“semoga bahagia dan banyak anak”

Tak mau berlarut-larut dalam kegundahan dan demi meluruskan kekeliruan, Uqail pun mengatakan kepada tamu tersebut: “Janganlah kamu mendoakan demikian karena Rasulullah telah melarangnya.”

“Lalu, aku harus mendoakan bagaimana?”

“Ucapkanlah doa yang diajarkan Rasulullah:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَ بَارَكَ عَلَيْكَ وَ جَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ

‘Semoga Allah menganugerahkan barakah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barakah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan’

Mengapa Rasulullah melarang seseorang mendoakan pengantin dengan ucapan “semoga bahagia dan banyak anak”? Wallahu a’lam bish shawab. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui hakikat sejati di balik larangan ini. Namun, kita bisa memetik hikmah sebagaimana dijelaskan Ustadz Muhammad Fauzil Adhim dalam buku Kado Pernikahan untuk Istriku dan ditulis Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta.

Hukumnya makruh

Para ulama menerangkan bahwa hukum mendoakan pengantin dengan ucapan “semoga bahagia dan banyak anak” ini adalah makruh. Larangan tersebut tidak serta merta haram karena dalam hadits yang lain Rasulullah membanggakan banyaknya jumlah umatnya dibanding umat nabi-nabi sebelumnya. Jadi dalam Islam, banyak anak itu bagus. Bahagia dalam pernikahan juga bukan sebuah hal yang dilarang. Namun, mendoakan pengantin dengan ucapan “semoga bahagia dan banyak anak” bukanlah doa yang tepat.

Penjelasan Ulama Salaf

Menurut sebagian ulama seperti Ibnu Hajar Al Asqalani, larangan ucapan “bir rafa’ wal baniin” terkait dengan dua hal. Pertama, di dalam ucapan itu tidak terkandung nama Allah dan pujian kepada-Nya. Kedua, di dalamnya terdapat isyarat kebencian kepada anak laki-laki karena secara khusus “al banin” berarti anak laki-laki. Dan hal itu, ketiga, berarti menyamai orang-orang jahiliyah yang biasa mengucapkan doa ini, sangat menyukai anak laki-laki sekaligus membenci anak perempuan.

Doa yang lebih baik; barakah

Rasulullah melarang mendoakan pengantin “semoga bahagia dan banyak anak” dan beliau menganjurkan umatnya untuk mendoakan dengan ucapan:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَ بَارَكَ عَلَيْكَ وَ جَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ

“Semoga Allah menganugerahkan barakah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barakah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan”

Hari-hari setelah pernikahan tidak selalu merupakan hari yang bahagia. Orang yang menikah juga belum tentu memiliki banyak anak. Maka membayangkan setelah menikah akan selalu bahagia dan memiliki banyak anak adalah hal yang tak sepenuhnya benar, tak spenuhnya bisa menjadi kenyataan bagi tiap orang.

Sebagaimana fase kehidupan lainnya, hari-hari dalam kehidupan berumah tangga juga diwarnai oleh dua hal: kadang kita menemukan hal-hal yang kita sukai, kadang kita menemukan hal yang tidak kita sukai. Kadang kita mengalami hal-hal yang kita inginkan, kadang kita mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan. Kadang kita menjumpai perkara dan peristiwa yang membuat hati kita senang, kadang kita menjumpai perkara dan peristiwa yang membuat hati kita tidak senang. Pada kedua sisi itu, kita berharap ada barakah. Pada kedua sisi itu, kita mendoakan pasangan suami istri selalu mendapatkan barakah. Inilah yang kita tangkap dari doa ini. Dan inilah yang jauh lebih baik daripada “bahagia dan banyak anak.”

Dalam doa yang diajarkan Rasulullah ini, ada kata laka dan ada ‘alaika. Meskipun sama-sama keberkahan yang diminta, tetapi dengan adanya preposisi yang berbeda ini, maknanya menjadi: barakah pada hal-hal yang disenangi dan sekaligus barakah pada hal-hal yang tidak disenangi. Jadi kita mendoakan pengantin muslim senantiasa mendapatkan keberkahan baik dalam kondisi yang mereka senangi maupun tidak mereka senangi. Misalnya saat mereka diluaskan rezekinya oleh Allah, mereka berada dalam keberkahan dengan sikap syukur dan banyaknya infaq. Dan ketika suatu saat mereka berada dalam keterbatasan ekonomi, mereka juga berada dalam keberkahan dengan sikap sabar dan iffah-nya.

Dengan mendoakan barakah, berarti kita merangkum sekian banyak kebaikan dalam satu ikatan. Seperti saat menyuruh seseorang untuk shalat dengan khusyu’, sesungguhnya untuk dapat mencapai perintah itu harus thaharah dulu, berwudhu dulu, memenuhi syarat dan rukun shalat. Demikian pula dengan barakah.

Ada suami istri yang banyak berbahagia di dunia, tetapi di akhirat masuk neraka. Tentu bukan itu yang kita harapkan terjadi pada saudara kita pengantin baru. Pun ada suami istri yang pernikahannya langgeng dan abadi di dunia, tetapi keduanya masuk neraka. Seperti Abu Lahab dan istrinya yang di-nash Allah dalam surat Al Lahab. Tentu pula, bukan seperti ini yang kita harapkan pada saudara kita pengantin baru. Kita mengharapkan mereka memperoleh banyak kebaikan; kendati bahagia dan duka datang silih berganti, dan tak semua pasangan suami istri memiliki anak yang banyak. Dan doa yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itulah doa yang paling tepat. [Muchlisin BK/Keluargacinta.com]

Berita sebelumyaAgar Suami Istri Tak Saling Marah dan Menyalahkan
Berita berikutnyaTips Terapi Ngompol
CEO BedaMedia Grup, Inspirator di Trustco Gresik, Sekretaris Yayasan (Pendidikan) Al Ummah

33 KOMENTAR

  1. Ah, tidak jelas teks Hadits tidak disebutkan hadits mana yang melarang mendoakjan bahagia dan banyak anak ? ini kayak dalailuntuk ber-KB mendukung program pemerintah ?

    • Hadits-haditsnya cukup banyak dan populer, diantaranya adalah sebagai berikut:

      عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ قَالَ تَزَوَّجَ عَقِيلُ بْنُ أَبِى طَالِبٍ فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقُلْنَا بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ. فَقَالَ مَهْ لاَ تَقُولُوا ذَلِكَ فَإِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ نَهَانَا عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ قُولُوا بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَبَارَكَ لَكَ فِيهَا
      (HR. Ahmad)

      قَدِمَ عَقِيلُ بْنُ أَبِى طَالِبٍ الْبَصْرَةَ فَتَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ بَنِى جُشَمٍ فَقَالُوا لَهُ : بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ. فَقَالَ : لاَ تَقُولُوا ذَاكَ ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَانَا عَنْ ذَلِكَ وَأَمَرَنَا أَنْ نَقُولَ : بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ
      (HR. Ad Darimi)

      عَنْ الْحَسَنِ قَالَ تَزَوَّجَ عَقِيلُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ امْرَأَةً مِنْ بَنِي جَثْمٍ فَقِيلَ لَهُ بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ قَالَ قُولُوا كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ وَبَارَكَ لَكُمْ
      (HR. An Nasa’i)

      عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عَقِيلِ بْنِ أَبِى طَالِبٍ أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ بَنِى جُشَمٍ فَقَالُوا بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ فَقَالَ لاَ تَقُولُوا هَكَذَا وَلَكِنْ قُولُوا كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِمْ
      (HR. Ibnu Majah)

  2. kalo boleh minta tolong… bisa di tunjukkan hadist Nabi yang melarang hal tersebut…???

    • Hadits-haditsnya cukup banyak dan populer, diantaranya adalah sebagai berikut:

      عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ قَالَ تَزَوَّجَ عَقِيلُ بْنُ أَبِى طَالِبٍ فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقُلْنَا بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ. فَقَالَ مَهْ لاَ تَقُولُوا ذَلِكَ فَإِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ نَهَانَا عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ قُولُوا بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَبَارَكَ لَكَ فِيهَا
      (HR. Ahmad)

      قَدِمَ عَقِيلُ بْنُ أَبِى طَالِبٍ الْبَصْرَةَ فَتَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ بَنِى جُشَمٍ فَقَالُوا لَهُ : بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ. فَقَالَ : لاَ تَقُولُوا ذَاكَ ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَانَا عَنْ ذَلِكَ وَأَمَرَنَا أَنْ نَقُولَ : بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ
      (HR. Ad Darimi)

      عَنْ الْحَسَنِ قَالَ تَزَوَّجَ عَقِيلُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ امْرَأَةً مِنْ بَنِي جَثْمٍ فَقِيلَ لَهُ بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ قَالَ قُولُوا كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ وَبَارَكَ لَكُمْ
      (HR. An Nasa’i)

      عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عَقِيلِ بْنِ أَبِى طَالِبٍ أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ بَنِى جُشَمٍ فَقَالُوا بِالرِّفَاءِ وَالْبَنِينَ فَقَالَ لاَ تَقُولُوا هَكَذَا وَلَكِنْ قُولُوا كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِمْ
      (HR. Ibnu Majah)

  3. Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata ‘Birafa’ Wal Banin’, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa’ Wal Banin (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam. Dari Al-Hasan, bahwa ‘Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : ‘Birafa’ Wal Banin’. ‘Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : “Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya :”Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?”. ‘Aqil menjelaskan : “Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka ‘Alaiykum” (mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).

  4. Do’a yang biasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah : “Baarakallahu laka wa baarakaa ‘alaiyka wa jama’a baiynakumaa fii khoir” Do’a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do’a : Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir (mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan). (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).

  5. infonya bagus, kita bisa tau doa yang terbaik buat yang menikah,
    tp klo bisa, hadist yang melarang itu, sebutkan juga…..

  6. Alhamdulillah….bukan maksud kami mencemooh artikel ini…..kita kan sebagai muslim pedoman kita adalah qur’an dan hadist jadi untuk artikel yang bersifat dakwah harus disertai risalah dari qur’an dan hadist…terima kasih untuk infonya dan harap maklum

  7. Heran dg artikel ini…
    Jika Rasulullah ‘melarang’ tolong tunjukkan haditsnya juga…
    Memang doanya spt yg diajarkan: barokallohu laka wa baraka alaiik…
    Tapi bukan berarti dilarang, jika nash hadistnya bukan melarang.
    Judul boleh provokatif, tp jangan menipu. Ini urusan sumber ilmu Islam, tidak perlu dilebih2kan.
    Apa yg dilarang artinya diharamkan, hukumnya dosa. Menghukumi dosa dlm agama juga tidak sembarangan

  8. Maaf NIh TApi sedari TAdi Saya BAca Tidak Ada Hadistnya Yg Mengatakan Tentang Pelarangan Tersebut yah… ???

  9. mudah-mudahan akan menjadi bertambahnya ilmu bagi saya…
    amin…
    buat yang berkomentar minta penjelasan tentang hadist yang melarang hal tersebut…
    melarang/tidak memperbolehkan bukan berarti pas mengharamkan, disini hanya bagaimana cara kita bisa memahami kata2 tersebut.

  10. Masya Allah, atas commentarnya byk pendapat,,, dalam kutipan tsb Rasulullah SAW. mengajarkan hal yg baik kepada ummatnya,,, dan apabila dalam kutipan tsb membuat saudara merasa kurang puasa atas penjelasan tentang pelarangannya, toh kita perhatikan saja saudara2 kita yg sdh berpengalaman setelah menikah kalimat ini mgkn perlu di baca dan di pahami seksama “Hari-hari setelah pernikahan tidak selalu merupakan hari yang bahagia. Orang yang menikah juga belum tentu memiliki banyak anak. Maka membayangkan setelah menikah akan selalu bahagia dan memiliki banyak anak adalah hal yang tak sepenuhnya benar, tak spenuhnya bisa menjadi kenyataan bagi tiap orang.

    Sebagaimana fase kehidupan lainnya, hari-hari dalam kehidupan berumah tangga juga diwarnai oleh dua hal: kadang kita menemukan hal-hal yang kita sukai, kadang kita menemukan hal yang tidak kita sukai. Kadang kita mengalami hal-hal yang kita inginkan, kadang kita mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan. Kadang kita menjumpai perkara dan peristiwa yang membuat hati kita senang, kadang kita menjumpai perkara dan peristiwa yang membuat hati kita tidak senang. Pada kedua sisi itu, kita berharap ada barakah. Pada kedua sisi itu, kita mendoakan pasangan suami istri selalu mendapatkan barakah. Inilah yang kita tangkap dari doa ini. Dan inilah yang jauh lebih baik daripada “bahagia dan banyak anak.” Kata SEBAIKNYA adalah hal yg wajar utk di pahami,,, bukan hal yg DILARANG, boleh2 saja sebenarnya,,, tp masuk akal tdk nya kembali kpd diri masing2. 🙂

    • ID. Rie Takagii would like to improve my English sklils in order to communicate with many people in the world !I really look forward to meet all of you and having time together!英語ってなぜおもしろいと思いますか?とみなさんにお伺いしてみたいです☆第一部、第二部いずれも参加を希望します。どうぞよろしくお願いします★

  11. Subhanallah walhamdulillah,stdknya saya mndptkan ilmu mskpun blm menikah,ini saya jdikan ilmu,insyallah manfaat.untuk para komentator pro dan kontra itu penting demi membangun agama kita,tp jgn d landasi hati dengki semua insan sbg ank adam pasti ingin menjaga Agamanya 🙂 barokallah

  12. Thanks.
    Do’a yang dianjurkan ya… Kedepan akan saya rubah do’a untuk teman teman yang menikah, atau pun untuk anak anak mereka yang menikah.
    Barakallahu.

  13. Telaahnya bagus…detail.analisanya logis…ragam pendapat…beda persepsi dan pemahaman….itu buasa…setidaknya dengan perbedaan pendapat ada peluang atau alternatif pemahaman….yg perlu di pahami adalah ” PERBEDAAN Pendapat itu gak masalah….yang bikin.maslah jika perbedaan pendapatan….gmn splisinya….

  14. Doa yang benar adalah doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, karena haditsnya shahih, dan yang tidak digunakan atau dilarang (tidak pernah digunakan Rasulullah SAW) tidak perlu dipertanyakan, lebih baik dan paling baik digunakan doa untuk pengantin adalah yang diajarkan Rasulullah SAW

  15. Kalo memang rasull melarang mendoakan banyak anak. Kenapa rasull memberi saran kepada umatnya untuk mencari pasangan yang bisa memberikan keturunan yang banyak. Dan salah satu tujuan menikah itu agar memiliki keturunan yang di harapkan bisa menjadi penerus perjuangan islam. Maaf saya cuma belum percaya kalo cuma dapet dalil make “KATANYA” Islam terutama saya yang tergolong aswaja berpegang teguh pada al-Qur’an hadits ijma’ dan qiyas. Tolong kasih rferensi dri pedoman saya itu.

  16. Tidak semuanya kita menuntut semua pakai dalil, dan itu adalh keniscayaan bg kita di zaman sekarang , para mujtahid dan para madzahibul arbaah adalh rujukn dan keilmuan dn kehukuman , halal, haram, dan lainnya dari ketidak di temukannya dalm alquran dan hadist.. Namun perkara apaun toh sumber dan rujjukannya dari Al quran dan hadist, karenanya jgn kemudian kita di tuntut untuk dari semua arah dn lini kehukuman harus tahu .. Keilmuan dari setiap kita berbeda isi dan kapasitasnya, apalagi kita manusia punya latar belakang yg berbeda , pendidikn yg berbeda, pekerjaan yg berrbeda, Karenanya kita serahkn kpd ahlinya , dan guru2 kita ulama2 kita, yg memang mumpuni di bidangnya.. Merekalah yg akn memberikan pencerahan kpd manusia tentang keilmuan yg harus kita ikuti, teladani, dan kita amalkan dalm beramal dn beribadah…!!

  17. Alhamdullillah,dpt ilmu baru saya.saya sangat setuju kl semua doa yg kita ucapkan meniru Rosullulloh Muhammad SAW.

Comments are closed.