Pernikahan yang Mengerikan

Anda dan pasangan, mungkin menjalaninya karena keterpaksaan. Bisa karena dipaksa orang tua sebab memiliki hutang dengan pihak yang kemudian menikahi Anda; dipaksa oleh keadaan karena sudah hamil sebelum sah; atau keterpaksaan lain yang tidak ada maksud baik di dalamnya.

Setelahnya, sebab diawali dengan ketidakbaikan, maka yang langsung Anda rasakan sesaat setelah laki-laki yang berucap akad itu resmi menjadi suami Anda adalah neraka. Mengerikan; banyangan keburukan senantiasa mendominasi di setiap jenak kehidupan.

Memasuki kamar pengantin untuk yang pertama kali, mungkin tak ada rasa berdebar dalam jiwa Anda berdua. Selain sudah pernah merasakan ‘itu’, tak ada lagi rasa malu atau ritual suci yang disunnahkan; shalat sunnah berdua, berdoa dengan linangan air mata, serta membicarakan visi dan misi untuk esok hingga akhir kehidupan cinta Anda.

Jika pun mungkin melakukan ‘itu’ di malam pertama, bisa jadi hanya pelampiasan nafsu setelah terakhir kali mengerjakannya secara haram, sehingga tak ada sedikit pun perasaan kepuasaan batin yang dirasakan. Maka kamar pengantin yang seharusnya termaknai sakral; rasanya semembara panas neraka. Innalillah.

Esok hari dan seterusnya, barang kali panas di rumah yang seharusnya menjadi serambi surga bagi Anda berdua sudah semakin menyala dan terpantik dengan percikan-percikan kecil yang seharusnya tak menjadi gejolak api.

Sekadar terlambat menyediakan kopi atau teh saja, misalnya, bisa menjadi petaka berkepanjangan, “Kamu itu! Sudah berubah ya? Kesiangan! Emang semalam kamu ngobrol dengan siapa? Dasar! Atau, jangan-jangan?!”

Padahal, suami Anda itu masih gagah dan memiliki riwayat terbiasa menyeduh minuman sendiri saat bujangnya. Tapi, sesaat setelah menjadi suami, ia seperti memiliki wewenang untuk memaki-maki Anda sebagai istrinya.

Sebagai balasan, saat suami terlambat bangun sehingga urung berangkat kerja, sang istri tak kalah sadisnya, “Dasar laki-laki! Kerjanya makan-tidur-makan-tidur! Malas kerja! Makan maunya yang enak saja! Gak mikir!”

Padahal, kemarin ia pulang lembur dan kelelahan. Dan, si istri, dulu saat menjalin pacaran yang berdosa, terbiasa berkata lembut lewan pesan singkat atau telepon di pagi hari, “Sayang, bangun dong. Sudah siang nih. Ayo segera berangkat kerja. Agar tabungan semakin banyak, dan kita bisa segera menikah.”

Aduhai, celakanya; bermesra dalam dosa, namun berkasar-bengis dalam ibadah. Terus seperti itu, hingga pernikahan menjadi sangat mengerikan.

Maka, jangan main-main. Tempuh pernikahan dengan cara yang baik. Niatkan karena Allah Ta’ala, jalani sesuai sunnah Nabi-Nya. Jadikan hadirnya pasangan sebagai sarana agar surga semakin dekat untuk dirasakan. Ingat, surga! Bukan neraka! [Pirman]

Previous articleMengapa Suami ‘harus’ Meminta Izin Berpoligami kepada Istrinya?
Next articleJika Anda Harus Bercerai…

2 COMMENTS

  1. Jadi bagaimana jalan keluarnya bagi mereka yang terlanjur mengalaminya, apakah perceraian jadi jalan keluar dari kekeliruan itu?
    Mohon sarannya, trimakasih..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.