Terputusnya Jari Gara-gara Pacar

0
2413

Sebuah hikmah agung terlontar dari lelaki paruh baya yang usianya hendak memasuki angka setengah abad. Sampaikan riwayat hidup di sebuah sore hujan bercampur angin, ia menyesali tindakan masa lalunya; pacaran. Sayangnya, bubur mustahil menjadi nasi kembali.

Sebagai korbannya, satu ruas jarinya terputus. Gara-gara memikirkan pacarnya. Ketika akhirnya tak bisa menikahi wanita dambaan hatinya, dukanya semakin lengkap. Si gadis dijodohkan oleh orang tuanya. Tak bisa mengelak atas nama bakti kepada manusia yang paling besar jasanya itu.

Kisahnya bermula dari sebuah pertandingan sepak bola antar kampung. Sebelum bertanding, tim si laki-laki singgah di sebuah rumah warga yang disediakan oleh tuan rumah. Terjadilah obrolan di rumah itu. Hangat.

Rupanya, di rumah tersebut ada seorang gadis yang memperhatikan para pemain. Berlanjut dalam pengamatan di lapangan. Akhirnya, si gadis pun menitipkan salam kepada bintang kesebelasan yang bermain tandang itu.

Dasar jahiliyah, hubungan yang terjalin adalah zina pacaran. Agak lama, tapi berujung pada kata putus. Putusnya pacaran, sebabnya selalu sama dengan awal mula menjalin hubungan; ketidakjelasan.

Kisah berlanjut, si laki-laki seperti melihat sesosok gadis mantan pacarnya di sebuah tempat. Penasaran, ia pun memastikan. Mirip. Lantas, terjalinlah sebuah komunikasi. Rupanya, gadis yang kala itu ditemui merupakan adik dari mantan pacarnya.

Dasar mata keranjang, rambut panjang dan kulit putih sudah cukup menarik nafsunya. Sang adik pun dikadali. Diajak pacaran. Katanya, “Kali ini berat. Tapi saya tidak menyerah dan malah berambisi.” Akhirnya, mereka pun kembali berpacaran. Putus dengan kakaknya, adiknya pun diembat.

Nah, dalam kurun waktu menjalin hubungan tak resmi dalam zina pacaran itu, konflik pun senantiasa menghampiri. Namun, atas embusan bisikan nafsu setan, mereka senantiasa ‘berjuang’ (konyol) untuk mempertahankan hubungan zina itu.

“Suatu malam,” tuturnya, “saya begadang. Sedang ada masalah berat dengan pacar. Padahal, besoknya bekerja.” Sepanjang malam itu pula, ia tidak memejamkan mata hingga esok hari. Ketika pagi berangkat bekerja dan menyalakan mesin, otaknya masih memikirkan kekasih haramnya itu.

“Karena tidak fokus dengan mesin itu,” pungkasnya menyampaikan sejarah hidup, “jari ini terputus.”

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada kita untuk menjauhi zina, sejauh-jauhnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesadaran kepada siapa pun yang menentang aturan-Nya. Meski tidak semua orang yang berpacaran mendapati azab terputusnya jari, tapi kesombongannya pasti tumbuh di dalam hati sebab menentang aturan Tuhan yang telah menciptakan dan mengurusinya sepanjang waktu.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here