Pernikahan

5 Perbedaan Pria dan Wanita yang Harus Disadari Suami Istri

perbedaan pria dan wanita

Pria dan wanita memiliki sejumlah perbedaan. Bukan hanya dalam aspek fisik semata, tetapi juga dalam sifat. Ketika perbedaan-perbedaan ini tidak dipahami dengan baik, bisa membuat hubungan berkeluarga menjadi rumit, bahkan sering bermasalah.

Berikut ini 5 perbedaan pria dan wanita yang harus disadari dan dipahami oleh suami istri:

1. Pria lebih banyak diam, wanita lebih banyak bicara

Rata-rata, wanita berbicara sekitar 20 ribu kata per hari. Sedangkan pria hanya berbicara 7 ribu kata per hari. Penelitian Universitas Maryland yang dipublikasikan di Journal of Neuroscience dan dirilis Dailymail 21 Februari 2013 menemukan, hal itu dipengaruhi oleh kadar protein FOXP2 di dalam otak. Wanita memiliki protein FOXP2 30 persen lebih banyak daripada pria.

Dalam buku Usthuuratul Hubb (Mencintaimu Setulus hati) karya Dr Karim Asy Syadzili, dijelaskan bahwa wanita bicara untuk mengkomunikasikan perasaannya, sedangkan pria tidak terlalu merasa perlu melakukan itu. Pria lebih ‘tertutup’ untuk menyampaikan perasaannya. Wanita bicara ketika mencari sesuatu dan mendapatkan masalah, sedangkan pria bicara ketika ia telah menemukan solusi.

Bahkan ada anekdot, pria lebih banyak diam karena ia adalah kaum Adam. Coba ucapkan “Adam”, maka mulut Anda akan tertutup di akhir kata. Sedangkan wanita lebih banyak bicara karena ia adalah kaum Hawa’. Coba ucapkan “Hawa”, maka mulut Anda akan terbuka di akhir kata.

Memahami bahwa pria lebih banyak diam akan membuat istri memahami suaminya. Bahwa ketika ia tak banyak bicara, bukan berarti ia tidak peduli atau tidak cinta. Sebab sang suami merasa ia telah mengkomunikasikan cintanya dengan tindakan nyata: bekerja, mencari nafkah, mendampingi istri, menemani anak-anak dan seterusnya.

Pun, bagi suami. Jika ia memahami bahwa wanita memang banyak bicara, maka ia akan memahami istrinya. Bahwa wajar istrinya sering bicara, bukan berarti ia cerewet. Suami juga menjadi tidak mudah tersinggung ketika istri salah bicara karena wajar jika dalam 20 ribu kata ada pemilihan diksi atau kalimat yang tidak tepat.

2. Pria fokus ke satu hal, wanita multitasking

Pria umumnya hanya fokus ke satu bidang, sedangkan wanita melihat secara umum tidak memfokuskan diri pada satu aspek saja. Dr Karim Asy Syadzili dalam buku buku Usthuuratul Hubb mencontohkan, seorang istri ketika belanja ke sebuah pusat perbelanjaan, ia akan mengitari tempat tersebut untuk melihat-lihat dan membandingkan lalu setelah itu baru kembali ke lokasi yang tadinya ia lewati. Hal ini berbeda dengan pria yang umumnya ketika belanja, ia langsung menuju tempat yang ia tuju. Misalnya mencari televisi, maka ia langsung menuju toko elektronik.

Pria fokus ke satu hal dan wanita lebih general juga berlaku pada aktifitas. Umumnya pria hanya dapat melakukan satu aktifitas dalam satu waktu, sedangkan wanita bisa melakukan banyak aktifitas dalam waktu yang sama (multitasking). Coba perhatikan istri kita, ia bisa memasak, mengasuh anak dan menyetrika dalam waktu bersamaan. Ia menyalakan kompor, sambil menunggu masakan mendidih ia menyetrika satu dua buah baju sambil menggendong anak. Lalu ia menghampiri masakannya, menggantinya dengan masakan lain, lalu meneruskan menyetrika.

Penelitian dari Universitas Galsgow, Universitas Leeds dan Universitas Hertfordshire membuktikan kemampuan multitasking pada wanita tersebut. Otak wanita memiliki Corpus Collosum, yaitu sekelompok saraf yang menghubungkan belahan otak kanan dan kiri yang cukup besar.

Nah, jika ini disadari dengan baik, maka suami istri bisa saling memahami. Mengapa kadang suami tidak mau “diganggu” saat lembur di rumah atau mengerjakan suatu proyek, karena memang fokusnya ke satu bidang. Suami juga perlu memahami bahwa karena istri itu pandai multitasking, kadang ada efek negatif yang muncul. Yakni kadang-kadang istri lupa sesuatu dan cepat lelah.

3. Pria concern pada pekerjaan, wanita concern pada pergaulan

Perbedaan lain antara pria dan wanita adalah pria konsen pada pekerjaan, wanita konsen pada pergaulan. Maksudnya, pria konsen pada aktifitas dan tujuannya. Sedangkan wanita lebih pada hubungan, pergaulan, relationship. Pria juga mendapatkan identitas dari apa yang ia kerjakan, sedangkan wanita mendapatkan identitas dirinya dari pergaulan.

Saat menghadapi masalah, misalnya. Pria umumnya hanya menyampaikan masalahnya pada orang yang menurutnya mampu membantu menyelesaikan masalah; konsultan atau konselor. Sedangkan wanita, ia akan menyampaikan ke lebih banyak pihak yang memang ia dekat dengannya.

Memahami ini, istri tidak akan mudah berprasangka ketika suaminya datang atau berkonsultasi pada seorang ahli. Sebaliknya, suami juga menyediakan waktu untuk mendengarkan istri yang sering curhat.

Perbedaan ini juga berlaku dalam hal “bercinta.” Umumnya suami hanya konsen pada hasil. Sementara istri mengharapkan suasana, komunikasi, dan kenyamanan.

4. Wanita lebih mudah stres daripada pria

Ketika menghadapi masalah, pria cenderung terprovokasi. Fisiknya bertindak reaktif dengan marah, mengepalkan tangan dan sebagainya. Namun ia relatif cepat melupakan masalah itu setelah berlalu.

Sedangkan wanita, ia sering kali mengatakan “tidak ada apa-apa”, tetapi ia menyimpan emosi di dalam hati atau tertekan (stress) menghadapai masalah. Namun, indikasi bahasa tubuh bisa tampak. Air muka yang berubah, gerak yang lebih lambat, dan seterusnya. Suami perlu menyadari hal ini, sehingga selalu siap memeluk istrinya ketika ia terlihat menghadapi masalah dan selalu siap menyediakan pundak jika sang istri menangis.

5. Pria suka ‘imbalan’ saat itu juga, wanita mengharapkan kebaikan yang konsisten

Pria tidak banyak bicara. Namun ia suka ketika ia berbicara tentang rencana dan pemikirannya kemudian mendapatkan pujian dari istrinya. Ketika ia berhasil melakukan sesuatu, ia suka mendapatkan sanjungan dari istri saat itu juga.

Sedangkan wanita, ia lebih kebaikan-kebaikan kecil yang rutin dibandingkan dengan hadiah besar yang jarang didapatkan. Bagi banyak wanita, ucapan “aku cinta kamu” dan kecupan setiap hari lebih berharga daripada hadiah cincin yang diberikan sekali saja. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK]