Pernikahan

Agar Tak Kecewa atau Menyesali Jodoh Pilihan Anda

Jangan membuat masalah yang sederhana menjadi rumit sebab kebodohan diri. Tak perlu mempersulit persoalan yang mudah sebab menuruti anggapan dan sangkaan yang tak berbukti. Mudahkan yang mudah, jangan mempersulit yang sukar. Letakkan segala sesuatu sesuai kadarnya. Jangan berlebihan. Sebab akibat utama dari setiap yang berlebihan adalah keburukan.

Menikah itu mudah. Sebab, tak mungkin Allah Ta’ala memerintahkan sesuatu yang sukar dijalani oleh makhluk-Nya yang bernama manusia. Meskipun memang ada banyak faktor, tapi amat tak layak jika hal-hal itu dijadikan alasan untuk mempersulit pelaksanaannya.

Di antara bentuk mempersulit diri adalah pikiran bodoh terkait masa depan dengan dalih persiapan, padahal sejatinya merupakan bentuk berpanjang angan, dan hal itu tidak dianjurkan. Pikiran bodoh itu, salah satu bentuknya adalah argumen-argumen kerdil yang diciptakan oleh diri sendiri.

Misalnya, “Bagaimana jika ternyata dia tak sebaik yang dikenalkan?”, “Jika ternyata ia menipuku hanya karena mengharapkan kecantikan/ketampanan, harta, dan nasabku yang terhormat, bagaimana?”, “Andai ternyata dia mengecewakan dan tak sesuai impian-impian yang pernah disampaikannya?”, dan pikiran-pikiran bernada ‘andai’, ‘jika’, ‘ternyata’, dan seterusnya.

Padahal, terkait masalah ini, Islam sudah jauh-jauh hari mengaturnya dengan sangat baik. Dalam Islam, ada dua kiat khusus yang dianjurkan untuk dilakukan oleh seseorang yang hendak menikah; agar mereka tidak kecewa atau menyesali pilihan yang diambilnya itu.

“Tidak akan kecewa orang yang istikharah”, lanjut Nabi, “tidak akan menyesal orang musyawarah,” dan tutup beliau, “tidak akan melarat orang yang hemat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani.

Maka, istikharahkanlah sosok yang diniatkan untuk dipilih menjadi pendamping hidup Anda. Ialah sebentuk ungkapan ketidaktahuan dari seorang hamba kepada Rabbnya Yang Mahatahu. Sebab memang, Anda mustahil mengetahui secara detail sosok yang akan dipilih menjadi pendamping hidup itu.

Karena itu, seseorang melakukan istikharah sebagai salah satu wujud meminta pertimbangan kepada Allah Ta’ala, agar hatinya yakin, pikirannya mantap, dan mengupayakan segala sarana yang memudahkan dalam pelaksanaan niat baik itu.

Jika istikharah sudah tunai didirikan, selanjutnya adalah musyawarah. Mintalah pertimbangan dari keluarga dekat; orang tua, sesepuh, ustadz, ataupun anggota keluarga lain yang memiliki pendapat nan bijaksana.

Dengarkan dengan baik, pertimbangkan dengan hati yang jernih, dan pikiran yang bijaksana; agar Anda bisa mempertanggungjawabkan setiap pilihan yang diambil.

Pasalnya, sebijak apa pun pendapat orang lain, Andalah yang akan melaksanakan dan merasakan langsung atas keputusan yang diambil. [Pirman]

13 Comments

  • fitri 2 Mei 2015

    Semoga jodoh saya jodoh yang baik

    • NuRohim 23 Mei 2015

      Aamiinn,

  • 01031993 3 Mei 2015

    Semoga apapun keputusan
    perlindungan hanya dari ALLAH S.W.T

  • BihaR UIN Alauddin Makassar 3 Mei 2015

    Semoga apapun keputusan
    selalu dalam perlindungan ALLAH S.W.T

  • Exbal Zambri 4 Mei 2015

    Assalammu’alaykum
    Jazakumullah, luar biasa artikel – artikelnya pak Ustadz. Saya sangat senang membaca artikel tulisan pak Ustadz
    Maaf sebelumnya, Kalau boleh saran, untuk iklan di laman page ini dipilah dan kendalikan. Ada beberapa iklan yg sepertinya tidak pas ada dilaman web ini

  • Muh. Agus Safar H. 10 Mei 2015

    Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik… (TQS 24: 26)..

  • emyn sainuddin 25 Mei 2015

    Insya Allah da jalan kalau kita da niat baik

  • kaiya 25 Mei 2015

    Moga saya jg dapat jodoh yang baik 🙂

  • adi tri cahyono 26 Mei 2015

    insyaAllah dapat jodoh yang terbaik dan yang mampu membahagiakan dan saling sayang.

  • Ali Imron 28 Mei 2015

    bagus isi artikelnya,,,

  • Vientin Hamid 28 Mei 2015

    Insya Allah .Ya Allah ya Mujibu du’aa
    terus memperbaiki diri dan hijrah agr menjadi yg lbh baik lagi ttp istiqomah smkin dekat dgn Allahu Robby Aamin

  • eni megowati 29 Mei 2015

    Assalamualaikum wr. Wb
    Saya sedang bingung dalam menjalani suatu hubungan. Saya ada niat serius dengan seirang laki2 yang sangat aku cintai, ketika aku sudah bilang mantap dan siap menuju untuk serius dia memaksa untuk dia bisa dengan saya. Dengan alasan dia tidak bisa sayang dengan ku. Memang dulu dia ngajak aki serius tapi aku suruh nunggu 1 tahun dulu. Setelah aku memberi jawaban IYA bisa menikah secepatnya dia malah udah berubah pikiran gak bisa lagi sama saya. Aku bingung dengan semua masalah yang ku hadapi ini.
    Mohon solusiny

  • eni megowati 29 Mei 2015

    Semoga jodoh ku di perdekatkan

Comments are closed.