Apa Sih Enaknya Jadi Istri?!


Apa sih enaknya jadi istri? Anda harus berubah dari gadis yang bebas ke mana-mana menjadi istri yang terikat dengan banyak aturan syar’i, norma masyarakat dan kesepakatan yang dibuat bersama pasangan.

Jika Anda seorang wanita, sebelum menikah boleh menggunakan apa saja, main ke mana saja, sampai jam berapa pun, juga melakukan banyak hal seperti bekerja, mengunjungi teman-teman masa sekolah, nonton film-film terbaru di bioskop, tidur sampai pegel, atau gak ngapa-ngapain selama sehari penuh.

Tetapi, setelah resmi dinikahi oleh seorang lelaki, kebebasan itu seperti dirampas dari diri Anda. Mau pergi, harus izin ke suami. Jika diizinkan, bisa jalan. Jika dilarang, harus urungkan niat untuk pergi. Andai nekat menerabas, resiko dosanya menunggu.

Pertama kali membuka kelopak mata di pagi hari, bekerja atau pun tidak, Anda harus bergegas ke dapur. Masak air untuk menyeduh minuman kebutuhan dan kesukaan suami, memasak sarapan untuk lelaki yang kini menjadi teman tidur Anda itu. Risikonya; jika enak, sedikit dipuji; jika tidak enak, kemungkinan dicemberutin bahkan dimarahi terbuka lebar. Apa sih enaknya?!

Jika Anda bekerja atau pergi dan pulang terlambat, jangan tanya lagi. Mula-mula, suami akan bertanya lembut. Jika terulang kedua kali, lembutnya berkurang. Jika terus-menerus, apalagi alasan yang disampaikan terkesan dibuat-buat menurut logika kelelakiannya, marah bisa jadi meluncur deras dari lisannya. Apa sih enaknya dimarahi?

Belum lagi jika suami Anda membebankan seluruh tugas rumahan. Mulai memasak tiga kali dalam sehari, tujuh hari dalam sepekan, empat pekan dalam sebulan, dua belas bulan dalam setahun. Maka jika pernikahan Anda memasuki angka satu tahun saja, sudah lebih dari seribu kali Anda harus memasak untuk suami.

Jika dikaruniai anak, menu yang dimasak pun akan bertambah. Belum lagi kemungkinan gagal, jika masakan gak dimakan oleh anak atau suami, dan hal-hal tak menyenangkan lainnya. Padahal, masakan tak lebih dari sekadar penuhi kebutuhan perut yang bertahan beberapa saat saja. Selebihnya? Menjadi kotoran. Lalu, apa enaknya menjadi istri?!

Belum lagi dengan tugas cucian, jika ditugaskan kepada istri sepenuhnya. Bisa gak dihitung, berapa kali mengayunkan tangan untuk menyikat? Menaburkan bubuk deterjen? Membilas? Mengganti air? Memeras? Lalu menjemur, mengangkatnya setelah kering, merapikan, menyetrika, menyemprotkan pewangi, dan merapikan di lemari baju? Bisa dihitung? Lalu, di mana letak enaknya, hah?!

Masih banyak hal takenak lainnya. Belum lagi jika Anda lelah pulang kerja. Lalu suami minta dilayani. Manja. Lebih manja dari bayi. Udah gitu, suami menuntut pelayanan ekstra. Apa enaknya, hah?!

Tapi anehnya, ada begitu banyak wanita yang galau saat belum menikah. Bahkan, banyak di antara mereka yang bersedia dijadikan istri kedua.

Tahu kenapa? Karena di dalam amal-amal yang terlihat menyusahkan, jika dilakukan dengan ikhlas demi melakukan perintah Allah Ta’ala, insya Allah ada surga yang disediakan bagi seorang wanita bergelar istri shalihah. Semoga, istri shalihah itu kamu. [Pirman/Keluargacinta]


7 tanggapan untuk “Apa Sih Enaknya Jadi Istri?!”

  1. Sayangnya banyak perempuan yang nekat menikahi lelaki gak jelas dengan alasan terlanjur cinta hanya untuk melengkapi penderitaannya.

  2. Aamiin..semoga hamba bisa memjadi istri yg solehah ya اَللّهُ ..walopun tiap hr sumur dapur kasur yg diurus semoga bisa jadi ladang amal..kadang2 kangen jg masa2 kerja dulu..tp tugas sekarang adalah menjadi istri yg solehah..semoga اَللّهُ selalu memberikan kesehatan kepada istri2 solehah lainnya agar selalu bsa melayani suami drumah

  3. sedihnya lagi banyak suami yg tidak berterimakasih dengan istrinya..malah sebaliknya perlakuan buruk sering ddapatkan istrinya, sering sekali suami menyakiti hati istrinya padahal begitu setianya istri mendampingi suami, menuruti segala keinginannya yang kadang tidak melihat situasi dan kondisi