Ayah Paling Bahagia


Si Sulung sudah beranjak dari pembaringannya sekitar satu jam sebelum adzan Subuh berkumandang. Lalu bergegas ke kamar mandi, tunaikan hajat, dan berwudhu. Lepas tunaikan dua rakaat Tahajjud pendek, ia pun mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, “Bu, Yah, bangun. Tahajjud.” Tak lama, terdengar suara sahutan dari dalam kamar, ibunya. “Ya, Nak. Makasih ya.”

Saat kedua orang tuanya bergantian ke kamar mandi dan mengambil air suci, si Sulung mulai membangunkan adik-adiknya. Satu-satu. Dimulai dari yang paling besar, berurutan sampai ke yang paling kecil. Tak lebih dari sepuluh menit kemudian, adik-adiknya sudah sadar dari ‘kematiannya’ yang sementara, dan rapi dalam balutan baju ibadah; mukena serba putih, dan sarung serta baju lengan panjang.

Seisi rumah mungil itu pun larut dalam munajat panjang kepada Allah Ta’ala. Sendiri-sendiri. Ada yang kelarkan Tahajjud dalam rakaat panjangnya, sebagiannya berdzikir dengan perbanyak istighfar, yang lainnya terdengar sayup syahdu membaca ayat-ayat Allah Ta’ala, sedangkan sisanya merenung dalam memikirkan Kekuasaan Allah Ta’ala. Terus begitu hingga Subuh memanggil.

Tepat setelah adzan berkumandang, anggota keluarga yang laki-laki dipimpin oleh ayahnya bergegas menuju masjid. Beriringan. Mirip konvoi. Sebab, jumlah mereka lebih dari lima orang. Terlihat damai dan sedikit ramai. Sebab, si kecil asyik mencandai kakaknya. Maklum, dunia mereka adalah bermain.

Tiba di masjid, beberapa jamaah terlihat khusyuk dalam munajat-munajatnya. Ada yang shalat, komat-kamit melafal kalimat thayyibah, sayu nan hening membaca al-Qur’an, dan ibadah sunnah lainnya. Wajah mereka teduh, air mukanya cerah, meski terlihat bekas tidur yang belum sepenuhnya pergi dari beberapa di antara mereka.

Lalu, sekeluarga itu pun bergabung dengan jamaah lain. Menjalankan sunnah Tahiyyatul Masjid, Qabliyah Subuh, kemudian berdoa hingga waktu iqamah menjelang. Iqamah dikumandangkan, semua jamaah tunduk dalam munajat yang dikomandoi imam. Pagi itu, beberapa jamaah menangis tersedu saat mendengarkan imam membaca ayat-ayat Makkiyah, terkait surga dan neraka.

Tunai dzikir, semuanya kompak mendatangi ayahnya. Saling bersalaman. Sang anak menyalami, kemudian mencium punggung tangan ayahnya. Ayahnya pun membalas dengan senyum tulus dan kecupan ringan di kening anak-anaknya itu. Damai. Sejuk. Beberapa jamaah terlihat memerhatikan mereka. Ada yang menggeleng takjub, ada juga yang berdecak kagum.

Dalam perjalanan pulang, ayah kurus kecil ini tak henti-hentinya menatap langit. Malu-malu. Sebab, ia merasa anugerah-Nya amat besar, padahal amalnya sangatlah sedikit. Sepanjang jalan itu, dia sibuk melafal syukur dan istighfar. Persis seperti yang dilakukan Nabi dan sahabat-sahabatnya saat Penaklukan Kota Makkah; maka mereka bertasbih dengan memuji nama Allah Ta’ala dan memohon ampun dalam istighfar.

Percayalah padaku, dialah ayah yang paling bahagia di muka bumi ini. [Pirman/Keluargacinta]