Bincang-bincang Rezeki dengan Anak Kita


Bersama dua anaknya, laki-laki ini menjemur cucian istrinya di halaman rumah saat mentari belum membuka kelopak matanya. Masih buta. Jamaah Shubuh juga baru saling pulang dari masjid dengan sumringahnya. Terlihat kompak, si laki-laki memeras baju, anak pertama meletakkannya di gantungan, dan yang satunya menata supaya posisinya stabil.

Ketika keseruan di pagi buta itu baru berjalan setengahnya, ada suara motor yang direm. Berhenti. Tepat di sebelah rumah mereka. Laki-laki. Tinggi. Bersarung. Baju takwa. Dan motor agak butut. Rupanya, teman si Ayah yang tengah menjemur pakaian itu. Maka, ia pun berikan kode pamit kepada kedua anaknya seraya menyambut tamunya.

Terlihat berbincang, rupanya si tamu menolak untuk duduk sejenak dan menikmati kopi atau the hangat di pagi itu. Sebab, masih banyak tempat tujuan lain yang harus segera didatangi. Katanya, “Masih banyak amanah nih. Lain kali saja mampirnya, ya.” Ia pun berlalu setelah mengucap salam keberkahan. Tepat beberapa detik sebelum pamitan itu, laki-laki berpeci hitam ini menyerahkan sebuah amplop yang diterima oleh si Ayah dengan sumringah.

Sengaja, sesaat setelah kembali mendatangi dua anaknya yang asyik bercanda sembari menjemur pakaian, si Ayah membuka amplop itu di depan mereka. “Nak,” katanya, “lihat nih ya, berapa isinya.”

Namanya anak-anak, mereka pun penasaran. Antusias. Lalu dengan melambatkan gerak tangan membuka amplop dan menghitung jumlah lembaran perlahan yang diikuti oleh dua anak-anaknya, satu di antara mereka pun bersorak, “Empat ratus ribu rupiah.”

Si Ayah pun memperhatikan dengan seksama ekspresi kedua mata anaknya. Ada binar penasaran yang tak bisa disembunyikan. Tepat ketika itulah, laki-laki yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek ini berkalam cukup berat, “Inilah rezeki orang beriman. Diantarkan ke rumah.”

Di antara hal yang menyebabkan binar penasaran di mata kedua anaknya itu, mereka juga sedang menabung karena ingin membeli sesuatu. Tetapi, jumlah tabungan mereka yang sudah hampir sebulan itu kalah jauh jumlahnya di banding rezeki yang diterima oleh Ayahnya di pagi itu.

“Nak,” lanjut si Ayah, “lihat surat Thaha ayat 132. ‘Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.’

“Jadi,” simpul si Ayah, “kakak dan adik gak usah sibuk meminta upah. Kerja saja. Ibadah saja. Allah Ta’ala Maha Mencukupi dan Mahakaya. Dia tidak mungkin zhalim. Apalagi, di ayat tersebut jelas tertulis, ‘Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.’” [Pirman/Keluargacinta]