Canda Istri-Istri Kita


Dua bidadari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq dan Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khaththab, hari itu berkumpul. Tak lama setelah itu, datanglah Ummul Mukminin Saudah binti Zum’ah dalam keadaan cantik karena sudah berdandan.

Seketika melihat kecantikan Ummul Mukminin Saudah, Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq berkata kepada Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khathtab, “Jika nanti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam datang, rasanya akan menjadi tidak enak. Sebab Saudah telah berdandan sehingga terlihat cantik, sedangkan kita belum mengerjakannya.”

Usul Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq yang disepakati oleh Ummul Mukminin Hafshah binti Umar, “Bagaimana jika kita rusak saja dandanannya?”

Ummul Mukminin Hafshah binti Umar yang sepakat dengan usul Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq pun segera berkata, “Wahai Saudah, si mata juling Dajjal telah datang.”

Ummul Mukminin Saudah binti Zum’ah pun ketakutan, panik, lalu berkata, “Di mana aku harus bersembunyi?”

“Lebih baik,” jawab Ummul Mukminin Hafshah binti Umar, “engkau masuk ke dalam kemah.”

Kemah para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam terbuat dari pelepah buah kurma. Digunakan untuk bersembunyi. Di dalamnya terdapat kuali dan beberapa sarang laba-laba yang belum dibersihkan.

Melihat gegas Ummul Mukminin Saudah binti Zum’ah menuju kemah, Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq dan Ummul Mukminin Hafshah binti Umar langsung tertawa. Terpingkal-pingkal. Hingga tak kuasa berkata-kata.

Berselang jenak selepas itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam benar-benar datang. Beliau bingung melihat tingkah kedua istrinya, lalu menyampaikan pertanyaan, “Apa yang membuat kalian tertawa sedemikian rupa?”

Dua bidadari surga ini, dengan kompak menunjuk ke arah kemah. Sang suami terbaik di seluruh dunia dan zaman pun bergegas mendatangi kemah, lalu melihat ke bagian dalamnya.

“Wahai istriku, Saudah, apa yang terjadi pada dirimu?” tanya Nabi ketika melihat Ummul Mukminin Saudah binti Zum’ah tengah bersembunyi ketakutan di dalam kemah.

“Ya Rasulullah,” jawab sang istri, masih ketakutan, “si mata juling Dajjal telah keluar.”

“Dia belum keluar sedikit pun, sekalipun suatu ketika dia pasti keluar.” jawab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

“Kemudian,” pungkas Ruzainah mengisahkan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dan Imam Abu Ya’la Rahimahumallahu Ta’ala, “Rasulullah mengeluarkan Ummul Mukminin Saudah binti Zum’ah dari dalam kemah dan membersihkan debu serta laba-laba yang menempel di tubuhnya.”

Kepada para suami yang jarang bahkan tak pernah bercanda atau mencandai istrinya, simak baik-baik kisah ini. Apakah yang menghalangimu untuk bercanda hingga istrimu tersenyum, padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam pun melakukannya kepada para istrinya?

Bercandalah dengan kebenaran. Agar istri semakin sayang dan cinta kepadamu.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]


Satu tanggapan untuk “Canda Istri-Istri Kita”

  1. kok cerita sama kesimpulannya ga nyambung ya. Yang bercanda kan sesama istri Rasulullah. bukan Rasulullah sama istri2nya.