Inspirasi

Kisah Cinta Pertama Sang Ahli Tafsir

Cinta pertama selalu memiliki kesan yang mendalam. Ia tak mudah dilupakan, meski pecinta menemukan banyak cinta lain setelahnya. Kesan yang mendalam itu, kadang tumbuh dan subur dalam lahan yang keliru. Sangat disayangkan.

Lelaki yang merupakan pemikir Muslim modern ini mengalami hal itu. Di masa kecilnya, ketika masih menempuh pendidikan di sekolah dasar, ia jatuh cinta kepada seorang gadis kecil, di sekolah yang sama; satu kelas.

Banyak gadis lain, tapi mengapa cinta itu tertuju kepada si gadis kecil itu?

“Di mata Sayyid Quthb,” tulis Dr. Shalah Al-Khalidy dalam ‘Biografi Sayyid Quthb’, “gadis cantik hanya dia seorang.”

Shalah menerangkan, kecantikan si gadis merupakan pancaran dari sifatnya yang berbeda dengan gadis lain seusianya. “Rahasia kecantikan gadis itu terletak pada sifatnya yang berbeda dengan gadis-gadis lain.” lanjutnya.

Cinta pertama Sayyid, ternyata tertanam dan tumbuh di hatinya. Lama-lama, cinta itu kian subur. Bahkan ketika Sayyid merantau ke Kairo di usia 14 tahun, cinta pertama itu tak hilang. Sampai ketika Sayyid pulang dari perantauannya, cinta pertama itu bahkan kian subur di jiwanya.

Tetapi sangatlah malang. Kata sebagian orang, tak ada yang lebih menyakitkan di hati para pecinta melebihi sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tak hanya sakit, ia juga menyayat, apalagi ketika orang yang dicintai ternyata mencintai-menikah dengan-orang lain.

Maka sepulang dari Kairo, Sayyid berupaya mencari kekasihnya untuk dihalalkan. Tak serupa dengan pemuda jahiliyah masa lalu dan masa kini yang lekas mengutarakan cinta, Sayyid berupaya sekuat tenaga untuk menjaga kesuciannya.

Setelah memendamnya dalam masa yang lama, Sayyid berupaya mencari gadis pujaan hatinya. Dia, secara naluriah, ingin mengetahui kabar wanita yang telah memikat hatinya untuk pertama kali.

Sayang seribu sayang, cinta itu layu sebelum ditanam. Sayyid harus memanen sedih dan pedih ketika mengetahui bahwa cinta pertamanya itu telah dihalalkan oleh lelaki lain.

“Remaja tanggung ini merasa perlu menarik diri sejenak dari keramaian, sembari menyaksikan tetes demi tetes air mata mengucur dari kedua pelupuk matanya,” pungkas Al-Khalidy mengisahkan cinta pertama Sayyid Quthb dalam bukunya.[Keluargacinta]