Dalil Bolehnya Mertua Ikut Campur Rumah Tangga Anaknya

2
sumber gambar: elshinta.com

Di antara salah satu sebab maraknya perceraian ialah kurang pedulinya orang tua (mertua) dengan rumah tangga anak-anaknya. Angapan bahwa anak sudah memiliki kehidupan sendiri dimaknai secara serampangan, tanpa batasan yang jelas, hingga berdampak buruk bagi kedua belah pihak.

Padahal, jika menilik dari kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, kita mendapati peran aktif orang tua dalam mendidik anak-anaknya, setelah mereka menikah. Bahkan, banyak sekali teladan keikutcampuran orang tua (mertua) atas konflik rumah tangga anaknya.

Pernah suatu ketika, Abu Bakar ash-Shiddiq diundang ke rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sang menantu, Nabi Muhammad, meminta mertuanya untuk menjadi penengah atas konflik kecil yang terjadi di rumah kenabian itu. Abu Bakar datang, di sana sudah ada Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Namanya wanita, ‘Aisyah tak bisa menyembunyikan kecenderungannya yang reaktif, apalagi di hadapan ayah dan suaminya. Kalimat keras pun terucap di hadapan dua manusia paling mulia di muka bumi ini. Tak disangka, sang ayah justru hendak melemparkan tamparan ke muka anaknya. Ia tak sabar, tak menyangka jika anaknya akan bersikap seperti itu di hadapan Utusan Allah Ta’ala, dan manusia yang paling dia sayangi.

Dengan gerak refleks yang cepat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencegah tindakan mertuanya, Ummul Mukminin ‘Aisyah berlari kecil, bersembunyi di belakang tubuh suaminya. Sang Nabi, melihat kejadian itu, lantas tersenyum dan memberikan nasihat kepada Abu Bakar, sebagai seorang sahabat.

Manusia paling baik akhlaknya ini, lalu meminta Abu Bakar untuk kembali ke rumahnya. Sebab dalam kondisi emosi, amat mustahil bisa melahirkan solusi yang jernih.

Setelah kepulangan Abu Bakar, Nabi dan istrinya itu segera berdamai, secara naluriah, dengan sendirinya. Hingga sore harinya, Abu Bakar berkunjung ke rumah anaknya itu. Hendak mengecek, andai masih ada konflik yang belum selesai.

Saat Abu Bakar datang, Nabi dan Ummul Mukminin ‘Aisyah tengah bercanda dengan mesra. Sang Shiddiq pun berujar kepada keduanya, “Sebagaimana kalian sertakan aku dalam konflik, ajak pula aku dalam damai di antara kalian.”

Betapa mulianya akhlak mertua ini. Betapa agungnya perangai menantu kepada mertuanya ini. Betapa kisah ini seharusnya menyadarkan kita, ada begitu banyak konflik dalam rumah tangga yang solusinya hanya bisa didapatkan dari mertua atau orang tua kita.

Namun demikian, hendaknya kisah ini tidak dijadikan alasan bagi orang tua untuk mencampuri semua urusan anaknya. Sebab ada begitu banyak pula masalah yang hanya bisa dikelarkan berdua, antara suami dan istri.

Jadi, bersikap bijaklah.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

2 KOMENTAR

  1. secara naluriah memang keluarga atau orang tua mana yang tidak menginginkan yang terbaik untuk anak/ saudaranya.., akan tetapi, dengan adanya tindakan seperti itu, tidak akan pernah sekalipun sikap netral akan dapat di temui.., pasti akan cenderung memihak ke salah satu pihak. Dan akibatnya malah akan semakin memperkeruh permasalahan itu sendiri.

Comments are closed.