Dampingilah Pengantin Baru Sebelum Memasuki Malam Pertama

Singgasana pengantin sudah mulai diturunkan. Meja, kursi, piring, gelas, dan peralatan makan lainnya sudah mulai diberesi. Berangsur-angsur. Tampak wajah-wajah kelelahan, tapi tergambar kepuasan dalam ronanya. Mereka itulah keluarga yang punya hajat dan beberapa panitia pada acara sakral yang diselenggarakan sekali dalam masa hidup seorang perempuan.

Sementara itu, sang pangeran sedang bersiap-siap memasuki kamar pengantin. Ia tengah beberes di kamar mandi, berganti baju, mencuci badan, mengambil air wudhu, dan mengenakan aneka ‘ramuan’ yang direkomendasikan oleh orang tua, ustadz, dan seniornya yang lain.

Dalam jenak, Ayah dari pengantin putri masuk ke dalam kamar anaknya. Rupanya, sang putri masih malu-malu. Ia terpaku dengan kebingungannya. Wajarlah, ini pernikahan pertamanya. Gadis yang belum tersentuh sekali pun.

Melihat Ayah sang pengantin perempuan masuk, sahabat-sahabat wanita yang menemaninya terperanjat. Di antara mereka pun berlindung di balik tirai. Satu di antaranya, Asma’ binti ‘Umais. Namun, saat hendak beranjak pergi, sang Ayah pengantin putri yang tak lain adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mencegah, “Tetaplah di tempatmu semula. Siapakah engkau?”

“Aku,” ujar Asma’ santun, “adalah penjaga putrimu, wahai Rasulullah.” Dalam jenak, wanita ini menerangkan maksud keberadaannya, “Sesungguhnya malam ini, putrimu akan memasuki awal kehidupan barunya.” Karena itu, tuturnya menjelaskan, “Harus ada yang mendampinginya dari keluarga dekatnya.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun mendengarkan dengan seksama. “Jika dia ada keperluan atau membutuhkan sesuatu, aku akan memenuhinya,” pungkasnya menjelaskan. Kemudian, Asma’ meminta agar Nabi mendoakan dirinya.

Kepada Asma’, Nabi mendoakan, “Sesungguhnya aku memohon kepada Rabbku agar menjagamu dari segala penjuru; depan, belakang, kiri, dan kanan dari gangguan setan yang terkutuk.”

Di antara hikmah yang terkandung dalam riwayat yang dikutip oleh Dr. Thal’at Muhammad ‘Afifi Salim dari Hilyatul Auliya’ dalam Diary Kehidupan Shahabiyah terkait salah satu episode dalam pernikahan ‘Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Muhammad ini, adalah perlunya pendamping bagi kedua sosok pengantin. Pendamping dari orang terdekat yang bisa bijak menyampaikan nasihat terkait malam pertama yang pasti dialami oleh masing-masing pengantin.

Pasalnya, bahagia dan tidaknya sebuah pernikahan sangat erat dengan suasana malam pertamanya. Jika malam pertama saja bak neraka, maka rasa surga akan sukar didapatkan oleh keduanya di hari-hari setelahnya.

Maka, memasuki malam pertama dibutuhkan ilmu, bukan sekadar naluri. Minimal, masukilah dalam keadaan berwudhu, berdoa dengan khusyuk, awali dengan kecup kening seraya panjatkan doa, shalat sunnah dua rakaat, meminum dari tepi gelas yang sama, dan kerjakan dengan santai, tidak terburu-buru, serta sesuaikan dengan kesepakatan bersama.

Selanjutnya, terserah Anda. 😀 [Pirman]

Terbaru

- Advertisment -