Sering Disalahkan Mertua? Baca Hadits Ini dengan Iman

Teman-teman yang sudah menikah, bersabarlah dalam menghadapi ujian. Apa pun bentuknya. Dari mana pun asalnya. Entah dari pasangan (suami/istri), orang tua atau mertua, tetangga dekat atau jauh, atau keluarga besar. Bersabarlah. Di dalam sabar ada bahagia dunia dan selamat di surga.

- Advertisement -

Hari itu, datanglah seorang laki-laki kepada sahabat mulia Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu.

“Sampai hari ini, ayahku masih terus melakukan intervensi, mengaturku. Padahal aku sudah dinikahkan. Parahnya, kini beliau menyuruh aku untuk menceraikan istriku.” tutur si laki-laki sebagaimana dikisahkan oeh Ustadz Salim A. Fillah dalam Bahagianya Merayakan Cinta.

“Aku,” kata sahabat mulia Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu, “berlepas diri dari orang yang menyuruhmu mendurhakai orang tuamu. Aku juga berlepas diri dari orang yang menyuruhmu menceraikan istrimu.”

“Tapi, jika engkau bersedia mendengarkan,” lanjut sang sahabat dengan nada bijak, “aku hendak menyampaikan satu perkataan yang pernah aku dengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.”

Si laki-laki diam. Menyimak dengan teliti.

Sahabat Abu Darda pun bertutur, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam pernah bersabda, “Ayah adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, maka peliharalah. Jika tidak, tinggalkanlah.”

- Advertisement -

Hadits nan agung ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban Rahimahullahu Ta’ala.

***

Orang tua adalah mertua bagi pasangan kita. Orang tua pasangan adalah mertua kita. Dua-duanya sama derajatnya; orang tua yang harus kita hormati. Harus berbakti dan terlarang berlaku durhaka.

Namun, apa yang harus dilakukan jika orang tua atau mertua kita sering melakukan intervensi atas persoalan-persoalan pribadi dalam rumah tangga kita? Apakah kita dibolehkan menentangnya? Apakah tetap harus berbuat baik meski sudah keterlaluan bahkan memerintahkan agar kita menceraikan pasangan?

Hadits ini menjawab semua persoalan itu.

- Advertisement -

Jangan pernah durhaka. Jangan mudah menceraikan istri. Bicarakan dengan baik. Diskusilah dengan kepala dingin. Bermusyawarahlah dengan manusia setelah melakukan istikharah, meminta petunjuk dari Allah Ta’ala.

Sebab, tiada masalah yang tidak dijumpai solusinya. Seluruh masalah hadir, lengkap dengan penyelesaiannya. Hanya, kita perlu mencari dan menemukannya. Hanya, dibutuhkan kesabaran hingga solusi itu benar-benar kita dapatkan.

Selanjutnya, sabarlah. Nikah itu perjuangan. Nikah itu bukan senang-senang. Nikah bukan pula foya-foya. Jadikan hadits ini dan hadits-hadits serta al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup.

Semoga yang belum menikah segera menemukan jodoh ya. Sebab, nikah itu seru dan asyik.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

*Pesan buku Bahagianya Merayakan Cinta tulisan Ustadz Salim A. Fillah di 085691479667

 

- Advertisement -

Terbaru

Keutamaan Membaca Ayat Kursi di Malam Hari

Ada dua waktu istimewa di malam hari untuk membaca ayat kursi. Kedua-duanya memiliki fadhilah alias keutamaan yang istimewa. Dua...

Pengakuan Bantal, Saksi Bisu Gersangnya Hubungan

Judul Pengakuan Bantal ini mengadopsi tulisan Dr Karim Asy Syadzili dalam bukunya, Kado Pernikahan. Isinya telah dikembangkan agar lebih relevan dengan kondisi...

Mengapa Muslimah Dilarang Cerita Kecantikan Teman pada Suaminya?

“Mas, temanku si Anita itu cantik banget. Ia rajin facial. Pakai skincare mahal..” Pernah mendengar kalimat seperti ini? Atau jangan-jangan Anda sendiri pernah ngomong...

Ini 32 Dosa Suami yang Meresahkan Hati Istri

Pernikahan adalah ibadah paling panjang waktunya. Jika sholat hanya sekitar 6 menit, sehari semalam hanya setengah jam. Puasa yang sehari 14 jam pun, hanya...