Enaknya Jadi Suami…


Mulanya, Anda akan mengalami kaget dan canggung. Belum biasa. Bermula dari memasuki kamar wanita yang awalnya asing, shalat sunnah berjamaah, berdoa dalam tangis yang bersilang-tindih, kemudian menjalani aktivitas ibadah khusus suami-istri. Saat itu, cinta akan semakin tumbuh, dan akan terus berkembang seiring berjalannya bilangan waktu.

Jika Anda menjadi suami, ada amanah yang besar. Ada tanggung jawab yang tak ringan. Ada titipan agung yang dibebankan di pundak Anda. Sederhananya, jika hidup seorang diri saja belum tentu selamat, maka menjalani hidup bersama wanita yang Anda cintai itu, semoga menjadi jalan untuk semakin menguatkan Anda dalam penghambaan diri kepada Allah Ta’ala.

Enaknya, jika Anda adalah seorang suami, ada begitu banyak nikmat-nikmat yang tak pernah dirasa sebelumnya. Mulai dari hal paling kecil, biasa, hingga yang paling agung dan tidak bisa didapatkan kecuali melalui pernikahan yang diberkahi.

Pada dini hari, akan ada bidadari yang lembut perangainya. Ia, selalu membangunkan Anda dengan lembut, sedikit rabaan, cubitan mesra, atau percikan air perlambang sunnah. Jika Anda belum beranjak, jangan kaget jika ada cara-cara ‘nakal’ lain yang dipraktikkan oleh istri Anda itu.

Setelah tunai kesadaran Anda, lalu bergegas menuju kamar mandi, sekembalinya ke kamar, tak usah kaget jika di atas tempat tidur sudah terdapat baju untuk shalat Shubuh berjamaah atau seragam kerja kantor. Tak perlu canggung. Tinggal dipakai. Ia, telah memilihkan yang terbaik. Agar hatinya senang, tak perlu banyak bicara.

Oya, jika mau, bermanjalah sesekali atau sering kali, “Sayang, bantu pakai kan, ya? Sudah terlambat nih.”

Setelahnya, ia akan melepas Anda dengan seluruh rindu dan cinta yang dimiliki. Maka, jabat dan cium tangan yang dilanjutkan ke pipi kanan-kiri dan kening, akan terasa menyejukkan hati, menyegarkan pikir, dan menguatkan raga. Istri Anda itu, seakan-akan berkata, “Berangkatlah menjemput harta yang halal, Sayang. Aku mendoakan di setiap mili detik yang kumiliki. Semoga Allah Ta’ala berkahi, berapa pun yang kau bawa pulang untukku dan anak-anak kita kelak.”

Rasakanlah itu dengan segenap jiwa. Nikmatilah tiap jenaknya. Tak usah canggung. Biasakanlah. Dan jadikan setiap aktivitas setelah pernikahan sebagai persembahan cinta kepada ia yang Anda cintai.

Bimbing istri Anda. Sebab, tak bermaknalah kebersamaan di dunia jika kelak bercerai berai di akhirat. Semoga, istri Anda di dunia ini, kelak menjadi satu dari sekian banyak istri Anda di akhirat. Semoga, ia menjadi ratu dari puluhan bidadari yang diberikan kepada Anda. Aamiin. [Pirman/Keluargacinta]


2 tanggapan untuk “Enaknya Jadi Suami…”