Enam Potret Keluarga, Dimanakah Keluarga Kita?

ilustrasi @dumpaday
ilustrasi @dumpaday

- Advertisement -

Ustadz Umar Hidayat menjelaskan keterangan yang disampaikan oleh Ustadzah Yoyoh Yusroh dalam salah satu sesi acara Rumah Keluarga Indonesia.

Oleh ustadzah dengan 13 anak dan telah berpulang ke rahmat Allah Swt beberapa tahun lau, ada enam potret keluarga sebagaimana dituliskan dalam buku Menikah Memuliakan Sunnah.

Pertama, potret keluarga kuburan.

Di dalam keluarga ini, jarang bahkan tak ada tegur sapa antara anggotanya. Bahkan, suami dan istri saling mendiamkan. Apalagi anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Masing-masing anggota sibuk dengan urusannya sendiri sehingga sering terjadi salah paham antar masing-masing anggotanya.

Kedua, potret keluarga pasar.

Masing-masing anggota amat perhitungan dalam banyak hal, utamanya materi. Dalam tahap akut, salah satu merasa paling banyak diuntungkan dan pihak lain merasa dirugikan. Hubungan yang terjadi bukan lagi saling memahami, tetapi siapa yang lebih cerdas dan bisa memanfaatkan, dialah yang akan mendapatkan paling banyak keuntungan.

- Advertisement -

Ketiga, potret keluarga arena silat.

Lebih parah dari keluarga pasar dan kuburan, di dalam keluarga ini perselisihan dan pertengkaran menjadi amat biasa. Tak jarang, diantara mereka terjadi adu fisik mulai tingkat terendah hingga derajat yang paling akut. Tak ada kedamaian, yang ada hanyalah konflik yang makin meruncing dan rumit seiring bertambahnya hari.

Keempat, potret keluarga rumah sakit.

Analoginya seperti yang terjadi di banyak rumah sakit negeri ini. Ketika ada pasien miskin, akan ditolak atau mendapat pelayanan kelas dua. Saat yang datang orang kaya, sertamerta dilayani dan diperlakukan seperti raja.
Dalam keluarga rumah sakit ini, ketika uang berlimpah, maka sayang pun meruah. Saat uang tak ada, analogi “tak ada uang abang ditendang” langsung berlaku tanpa komando sebelum maupun selepasnya. Aduhai merananya.

Kelima, potret keluarga sekolah.

- Advertisement -

Dalam keluarga jenis ini, terjadi interaksi saling belajar yang amat sehat. Tak jelas siapa yang menjadi guru maupun murid karena masing-masing anggotanya saling belajar dengan semangat perbaikan diri yang lelah dan tanpa jeda. Ketika ada yang salah, siapa yang melihat terlebih dahulu akan meningingatkan, tak peduli usianya berapa dan siapa yang mengingatkan atau diingatkan.

Keenam, potret keluarga masjid.

Inilah yang diidamkan oleh kaum muslimin. Selain sarana belajar, keluarga adalah ladang untuk meningkatkan kualitas hubungan masing-masing anggotanya kepada Allah Swt. Tujuan dalam keluarga ini pun menjadi amat mulia. Masing-masing mereka kompak untuk menggapai bahagia di dunia dan keselamatan akhirat melalui keluarganya itu.

Visi besarnya, masing-masing mereka menjaga dan saling menyelamatkan agar terhindar dari siksa api neraka.

- Advertisement -

1 KOMENTAR

Comments are closed.

Terbaru

Keutamaan Membaca Ayat Kursi di Malam Hari

Ada dua waktu istimewa di malam hari untuk membaca ayat kursi. Kedua-duanya memiliki fadhilah alias keutamaan yang istimewa. Dua...

Pengakuan Bantal, Saksi Bisu Gersangnya Hubungan

Judul Pengakuan Bantal ini mengadopsi tulisan Dr Karim Asy Syadzili dalam bukunya, Kado Pernikahan. Isinya telah dikembangkan agar lebih relevan dengan kondisi...

Mengapa Muslimah Dilarang Cerita Kecantikan Teman pada Suaminya?

“Mas, temanku si Anita itu cantik banget. Ia rajin facial. Pakai skincare mahal..” Pernah mendengar kalimat seperti ini? Atau jangan-jangan Anda sendiri pernah ngomong...

Ini 32 Dosa Suami yang Meresahkan Hati Istri

Pernikahan adalah ibadah paling panjang waktunya. Jika sholat hanya sekitar 6 menit, sehari semalam hanya setengah jam. Puasa yang sehari 14 jam pun, hanya...