Rumah Tangga

Hindari Penyebab Utama Hancurnya Rumah Tangga

ilustrasi © weather.com
ilustrasi © weather.com

Tidak ada pernikahan tanpa ujian di dalamnya. Mustahil sebuah rumah tangga yang tidak terdapat masalah nan mengiringinya. Dalam sebuah keluarga, selalu ada riak gelombang kehidupan di dalamnya. Sebab untuk diuji itulah, kita dihidupkan di dunia ini.

Ujian adalah bentuk sayangnya Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Jika orang tua menguji anak-anaknya agar mereka bertumbuh dewasa, Allah Ta’ala menguji manusia dengan Kuasa-Nya; apakah dengan ujian itu seorang hamba semakin dekat dengan-Nya, atau sebaliknya. Maka dalam setiap episode ujian, ada pertaruhan di dalamnya.

Dibutuhkan sikap yang bijak dalam menghadapi ujian rumah tangga. Sebab banyak penyebabnya dan oknum yang terlibat di dalamnya. Baik anggota keluarga itu sendiri, maupun pihak ketiga yang kebanyakannya memperkeruh suasana. Sebab, ketika tidak disikapi dengan bijak, ujian rumah tangga bisa berujung petaka. Na’udzubillah…

Saat ujian semakin membesar dan bertambah pelik, cobalah menepi sejenak. Telitilah ke dalam hatimu, utamanya jika kau adalah kepala keluarga. Jujurlah. Amati detail kehidupanmu; sejak membuka mata hingga terpejam kembali. Layaknya sebuah kendaraan, keselamatan keluarga sangat tergantung kepada bagaimana sikap pengemudinya.

Telitilah dengan seksama. Bagaimana visi-misimu dalam membangun keluarga? Adakah dunia sebagai orientasi utamanya? Apakah hanya kemewahan dan kekayaan yang dikejar? Sehingga karenanya, banyak hak-hak Allah Ta’ala yang kauabaikan? Bagaimana shalatmu? Apa kabar al-Qur’an di rumahmu? Shalat jamaahmu di masjid-Nya? Adakah ia terjaga? Ataukah terlupa? Atau, sengaja kaulupakan sebab lalai, lalu berdalih sibuk, mencari nafkah, kemudian berkelit, “Itu kan ibadah juga…”

Setelahnya, sampaikan kepada istrimu, berlanjut kepada anak-anak dan keluargamu yang lainnya. Katakan pada mereka, bahwa maksiatlah yang menyebabkan kehidupan seseorang hancur. Sampaikanlah, dosalah yang membuat seseorang sengsara di dunia dan akhirat. Kesalahanlah yang menjadikan hidup seseorang muram dan tak ada harapan di dalamnya.

Iya, kemaksiatan. Itulah sumbernya. Itulah satu-satunya sebab. Kemaksiatan dalam segala aspek, yang terkecil hingga terbesar, baik terkait hak kepada Allah Ta’ala untuk dimurnikan ibadah kepada-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya, maupun hak kepada sesama anggota keluarga maupun sesama manusia.

Kemaksiatan, bentuknya tak mesti berzina. Permulaannya, bisa karena kedua pasangan tak menjaga pandangannya. Bukankah ini yang menjadi pintu masuknya setan? Maka, al-Qur’an berwasiat agar orang beriman menundukkan pandangan. Di dalamnya ada ketenangan yang tak terbayar dengan sebanyak apa pun harta duniawi.

Bantulah pasanganmu untuk itu. Sebab memang, tak mudah melakukannya di zaman ketika dunia berlomba memamerkan gemerlapnya; ditambah dengan oknum-oknum penjaja aurat dengan bangganya, bahkan dibayar dengan dunia yang tak sedikit karenanya.

Telitilah, dengan seksama. Sebab maksiat masuk ke dalam rumah tangga kita dengan amat halus. Kelak, kesadaran kita baru tergugah saat kemaksiatan itu menyebabkan retaknya rumah tangga, bertambah kerusakannya, dan mahligai pernikahan yang dijalin benar-benar hancur berkeping-keping. Di situlah kelak, sedih mendominasi. Meskipun memang, sedih tinggalah sedih. Hanya taubat dan kesungguhan untuk memperbaikinya. Sebab waktu, hingga kapan pun tak mungkin kembali. Begitupun dengan kehidupan.

Semoga Allah Ta’ala menjaga rumah tangga kita dari kejahatan setan dan kekejian maksiat yang dibisikkannya. Aamiin. [Pirman]