Inspirasi

Ibu Kok Memalukan

Ada krisis karakter akut yang menyerang generasi muda kita. Mereka malu untuk mengatakan nama ayah dan ibunya. Fenomena ini terjadi hampir di segala jenjang usia sekolah. Bahkan ada anak yang benar-benar berat untuk mengatakan siapa nama ayah dan ibunya. Yang lebih parah, mereka tidak mengetahui nama ayah dan ibu kandungnya.

Remaja ini bertutur dengan polos tentang bapak dan ibunya. Ia mengaku malu dengan teman-teman satu kelas dan satu sekolah karena kelakuan ibunya, yang ditaqdirkan berada dalam satu sekolah yang sama.

Si ibu terkenal dengan bermacam jenis keanehan yang tak layak dikisahkan. Ia bukan hanya ‘memalukan’ di kalangan sesama guru sampai menjadi perbincangan saat mengawas ujian di sekolah lain, tapi juga menjadi buah bibir negatif dalam percakapan para muridnya.

“Untungnya,” tutur remaja ini, “saya tidak mengikuti kelakuan ibu. Saya lebih dekat secara emosi dan karakter dengan bapak.”

Ia kemudian mengisahkan banyak kelakuan ibunya saat di rumah. Terutama saat ia mulai bisa menilai orang lain.

Lalu meluncurlah berbagai kisah yang benar-benar tak kuasa untuk kami ceritakan.

“Ibu tahu, kenapa ibu mengalami kehidupan seperti ini?” tanya sang anak dengan nada menggugat

Sang ibu diam, lalu si anak melanjutkan, “Ibu tahu kenapa ibu sakit-sakitan dan hidup seburuk ini?”

“Ini karena azab dari Allah, Bu.” seru si anak.

Si ibu kemudian membalas, “Ibu seperti ini karena Allah ingin menguji, siapa di antara kalian yang benar-benar sayang kepada ibu atau sebaliknya.”

Dialog-dialog selayak ini yang dituturkan kepada kami.

Memang, si ibu juga tidak sempurna. Si ibu tentu memiliki banyak catatan. Bukankah baik dan buruk merupakan salah satu kepastian dalam hidup?

Namun, si anak juga tak bisa dibenarkan hingga melontarkan kalimat ‘azab Allah’ kepada ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan merawatnya. Bukankah semua jasa besar itu tak akan pernah bisa dibayar dengan dunia dan seisinya? Apakah keburukan yang dikerjakan oleh si ibu bena-benar layak dijadikan alasan bagi si anak hingga menuturkan semua keburukan ibunya dan melontarkan kalimat-kalimat yang tak layak?

Selayaknya bagi kita, para orang tua, untuk melakukan muhasabah besar-besaran.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]