Inspirasi

Ibu; Seorang Wanita Malang

Ketika usianya masih dua puluhan, wanita yang kelak bernama ibu ini bermimpi memiliki seorang suami yang shalih, sehat fisik dan ruhani, serta bertanggungjawab terhadap diri dan anak-anaknya kelak. Wanita bernama ibu muda ini juga bermimpi, semoga kelak anak-anaknya adalah laki-laki dan wanita-wanita shalih-shalihah yang menjadi pejuang di jalan-Nya seraya meninggikan kalimat-kalimat Tuhannya Yang Mahaagung.

Wanita bernama ibu muda itu juga menghajatkan rumah tangga yang penuh nilai-nilai dakwah islamiyah, saling menginspirasi, senantiasa berbagi nasihat, dan bersinergi atas nama iman dan taqwa. Mimpi-mimpi sang wanita bernama ibu itu amat menyenangkan sekaligus mengundang optimisme bagi dirinya dan siapa pun yang mengetahuinya.

Sayangnya, semuanya tinggallah mimpi. Bermula dari pernikahan yang tak diharapkan, kehidupannya justru hancur-lebur. Si lelaki yang diimpikan menjadi suami idaman sebab takut kepada Allah Ta’ala itu, justru bersifat sebaliknya; enggan mendirikan shalat dan sering meninggalkannya, kasar ucapan dan perilakunya, serta hobi main perempuan sebab buasnya nafsu.

Bermula dari laki-laki yang kala itu menjadi suaminya pula, kehidupan sang wanita bernama ibu berangsur memburuk. Selain menjadi sasaran tinju dan pukul suaminya, hatinya makin kacau lantaran anak-anaknya pun turut menjadi korban. Mulai dari warisan sifat dari ayahnya, hingga bisikan-bisikan setan yang secara berangsur menjadi tabiat bagi mereka. Bengal. Sukar diatur. Malas. Dan, tak jauh dari pohonnya.

Bertambah pelik ketika si wanita bernama ibu itu meninggal dunia. Sedihnya tak terkira. Anak-anak masih butuh bimbingan, suami belum bertaubat, kewajibannya sebagai seorang hamba pun banyak yang terbengkalai; zalim kepada Allah Ta’ala yang telah menciptakannya.

Maka di hari meninggalnya, tak ada yang tumpahkan air mata sedih. Si suami baru pulang ketika jenazah kelar diurus oleh tetangga dan keluarganya, sedangkan anak-anaknya sibuk dengan gadget menghubungi entah siapa. Ironis, anak-anaknya itu pun tak kuasa panjatkan doa untuk wanita bernama ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan merawatnya hingga sebesar itu.

Ketika para palayat kembali ke rumahnya satu-satu, malaikat kubur pun menungguinya dengan gemas dan sangar. Seraya bersiap menimpakan siksa, mereka pun siap menunjukkan amalan buruk suami dan anak-anaknya di setiap sore atas amalan pagi mereka, dan setiap pagi atas amalan sore anak-anak dan suaminya.

Sungguh, inilah derita di atas derita. Maka, jangan main-main ketika gelar ibu sudah tersandang di dalam dirimu. Pun sebelum  itu. Sebab, menjadi ibu itu; tak mudah! Tak ringan! [Pirman/Keluargacinta]