Indah dan Romantisnya Pernikahan Kedua


ilustrasi @ask.fm
ilustrasi @ask.fm

Murid terbaik ini urung mendatangi majlis sang guru. Bukan, bukan karena malas ataupun sibuk. Tapi, ada duka yang menggelayut manja di dalam hatinya. Alasannya, istri pertamanya wafat. Sedih? Tentu saja. Tapi, takdir harus dihadapi dengan gagah. Karena kedalaman ilmunya itu pula, ia tak meratapi. Yakinnya pasti, Allah Swt tak mungkin menzalimi hamba-hamba-Nya.

Barulah pada hari keempat selepas perginya sang istri terkasih, lelaki itu kembali menekuni ilmu di majlis utama sang guru. Maka, karena kehilangan muridnya selama tiga hari itu, sang guru bertanya meski telah mengetahui jawabannya, “Mengapa kau tak menghadiri majlisku?” Sang murid menjawab teduh, “Istriku meninggal, ya Syeikh.”
Sebelum melanjutkan pertanyaan, sang guru mendoakan istri muridnya itu, “Semoga Allah Swt memberi ampun terhadap dosa istrimu dan memasukkannya ke dalam surga-Nya.” Murid yang rendah hati itu hanya menunduk, sembari mengamini doa gurunya.

Selang beberapa jenak, sang guru kembali bertanya, “Apakah kamu sudah menikah lagi?” Meski agak bingung, sang murid menjawab juga, “Tentu saja belum, ya Syeikh.” Dengan nada serius yang tak disadari muridnya, Syeikh ini melemparkan tanya ke tiga, “Bagaimana jika kunikahkan dirimu dengan putriku?”

Diam. Hanya itu yang dilakukan sang murid. Pikirannya bingung. Tak sedikit pun ia memahami maksud gurunya. Sangkaannya, sang guru hanya bergurau. Sebab mengira demikian, sang murid menjawab, “Tentu saja, kuterima nikah putrimu, ya Syeikh.”

Setelahnya, sang murid pulang menuju rumahnya sebab merasa tak terjadi apa pun dari percakapannya dengan sang guru. Hingga menjelang larut malam, sang murid tetap berada di dalam kamarnya.

Tiba-tiba, ada yang mengucap salam sembari mengetuk pintu rumah sang murid. Bergegas, ia menjawab salam sembari membukakan pintu. Rupanya, yang datang adalah sang guru beserta anaknya. Sambil menatap sang murid, guru nan baik hatinya itu berkata, “Aku kira kau lupa, maka kuantarkan anakku ini. Ia sah menjadi istrimu.”

Rupanya, pertanyaan sang guru siang tadi bukan basa basi. Beliau benar-benar menikahkan putrinya dengan murid terbaiknya itu. Ketika sang murid berkata menerima nikah putrinya disaksikan oleh beberapa temannya, sahlah pernikahan keduanya.

Kedua pengantin baru itu pun masuk ke dalam kamarnya. Sang murid bingung. Ia sampaikan kepada istrinya, “Maaf, di rumahku hanya ada sepotong roti dan segelas air.” Nada ucapannya, khawatir.

Seraya menyindir, sang istri menukasi, “Celakanya ayahku, mengapa dia menikahkanku dengan orang yang lemah imannya?” Lanjutnya, “Ia merasa khawatir, padahal masih memiliki roti dan air minum.”

Malam pertama pun berlalu seperti manisnya malam pertama pengantin-pengantin lainnya. Keesokan harinya, saat sang suami hendak mendatangi majlis sang guru, istrinya mencegah dengan tanya, “Bukankah merupakan hak seorang perawan untuk ditemani selama tujuh hari?” Cukup dengan mengangguk mengiyakan, sang suami pun urung menghadiri majlis ilmu dan memenuhi hak istri ke duanya itu.

Pada hari ke delapan, sang suami kembali bergegas meminta izin kepada sang istri untuk berangkat menuju majlis sang guru. Lantas, ditanyakan lagi oleh istrinya, “Apa yang kau pelajari dari ayahku?” Kemudian dijawablah bahwa ia belajar banyak hal kepada sang guru yang kini telah menjadi mertuanya. Tanpa disadari sang suami, istrinya menjawab, “Kalau begitu,” katanya, “duduklah.” Lajut sang istri, “Belajarlah kepadaku. Semua yang ada di kepala Said bin al-Musayyib telah ada di kepalaku juga.”

Allahu Akbar, bukankah ini keberkahan bersebab taatnya seorang murid kepada gurunya yang shalih? Bukankah ini merupakan kebaikan berlapis yang dikaruniakan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang beriman?

Semoga Allah Swt memberkahi pasangan anak Said bin al-Musayyib dan suaminya itu. Pasangan yang nikahnya bukan lantaran rumah, mobil, atau sawah yang luas. Tapi mereka menikah hanya karena Allah Swt, dan karenanya, Dia memberikan yang terbaik dalam hidup dan teladan yang tak kan pernah kering oleh panasnya kehidupan.

Duh, indah dan romantisnya pernikahan kedua ini! [Pirman]


5 tanggapan untuk “Indah dan Romantisnya Pernikahan Kedua”

  1. Assalamualaikum…izinkan saya bertanya, saya laki2 umur 29 thun, saya sudah memiliki istri dan pernikahan kami sudah berlangsung hampir 4thn. Dasar saya menikah tidak didasari cinta, tpi karena kebaikan istri saya dan amanat almarhum mertua saya. Saya berfikir mungkin dng menikah saya bisa mencintai istri saya, ternyata sampai sekarang pun saya masih belajar dan belum bisa, diri saya penuh kebohongan pada istri saya dan saya merasa berdosa padahal istri saya sangat baik terhadap saya juga sangat sabar. Hingga akhirnya saya menyukai wanita dan masih ragu apakah saya mencintai wanita ini, akhirnya saya jalankan istiharah,dan mlm saya bermimpi tapi anehnya bukan istri saya ataupun wanita itu yg muncul melainkan wanita lain yg karakternya sangat dewasa dan agamanya cukup bagus, saya masih blm percaya, petunjuk yg q inginkan adalah jika ngga istri saya ya wanita itu, tpi wanita ketiga ini trus hadir setelah istiharah saya sampai 4x berturut-turut. Tapi saya merasa ga mungkin dng wanita ini karena dia adalah wanita yg sangat dewasa dan cukup tau syariat agama, tapi setelah beberapa kli dia mimpi, saya mulai timbul perasaan dng wanita ini dan mulai menyayanginya, saya takut salah arah, apa yg harus saya lakukan sekarang, mudahan ada jawaban yg bisa menenangkan saya, terimakasih, Wass…