Istri Salehah yang Memarahi Suaminya


Lepas ‘Isya’ di malam Nishfu Sya’ban ini, kami mengunjungi salah satu tetangga. Esok, ia akan berangkat ke sebuah kota di Jawa Tengah. Mengadakan syukuran pernikahan anaknya di kampung halaman. tetangga sekitar turut hadir dalam acara sederhana yang penuh kekeluargaan itu. Dalam perbincangan nan seru itu, terhidang pisang, semangka, jeruk, berbagai jenis gorengan, kue dan makanan ringan lainnya.

Suasana semakin akrab saat teh hangat dihadirkan sebagai teman bercengkrama. Semakin hangat selepas suasana hujan dua kali dalam sehari ini; siang hari sekitar jam dua, dan malam menjelang ‘Isya’. Keakraban pun bercampur tawa saat Bang Ipung, salah satu tetangga kami, berseloroh, “Ini,” ucapnya sambil mengangkat segelas air teh, “kalau di Jepang,” hentinya sejenak membuat kami terpusat memandanginya, “adalah minuman untuk orang-orang terhormat.”

Dan, tawa pun pecah seiring dengan mendaratnya bibir gelas di bibir sosok yang kemarin gagal menjadi ketua rukun tetangga itu. Tak lama, ada sosok kurus yang menimpali, “Emang di Jepang ngapain, Bang?” Saat akan menjawab, ia menghentikan gerakan mulutnya sebab didahului oleh mertuanya, “Jadi pemulung.”

Sontak saja, tawa kami semakin pecah. Tak terbendung.

Selanjutnya, pembicaraan mengalir ke sana ke mari. Hingga, mengalirlah kisah pada sepasang suami istri yang-sebut saja-namanya Bapak Saleh. Saleh adalah nama anaknya, sehingga sang istri pun dipanggil Ibu Saleh.

Oleh sosok gemuk yang duduk di samping kami, sepasang suami-istri yang sehari-hari berjualan bakso bakar ini dikisahkan sebagai pasangan religius. “Kalau ke masjid berdua. Rajin ikut dzikir dan sholawatan. Kalau pulang dari masjid juga paling akhir,” ungkapnya yang memakai jersi salah satu klub Liga Inggris.

Sedangkan Bang Ucok yang duduk di samping sosok gemuk tadi turut sampaikan kesan. Katanya yang juga berjualan kelontong di sekitar kampung kami, “Padahal, usahanya berjualan bakso bakar sebelum beralih ke ayam bakar, hasilnya lumayan juga loh…”

Pasalnya, tetangga sempat heran dengan sebuah episode yang di luar nalar. Meski terkesan harmonis-romantis, sepasang suami-istri ini pernah bertengkar di jalanan. Babkan, sang istri memarahi suaminya tepat setelah sang suami memberikan sejumlah uang yang banyak, melebihi jumlah hasil berjualan.

Usut punya usut, sang suami pun mengakui, “Uang itu hasil menang judi online.” Dan, lantaran itulah, “Ibu Saleh menolak mentah-mentah. Dan, ia memarahiku saat itu juga.”

Beruntungnya Bapak Saleh. Ia sempat terjerumus. Hanya beberapa kali. Kemudian bertaubat. Dan, istrinyalah yang membuat dirinya tersadar, bahwa harta halal adalah sumber keberkahan, sedangkan yang haram adalah sumber petaka.

Kepada Ibu Saleh, setidaknya kita belajar satu kaidah, “Istri salehah adalah sosok yang tegas dan berani memarahi suaminya saat lakukan salah, apalagi terjerumus kepada sesuatu yang haram.” [Pirman]