Bagi Anda yang Berkata: Istriku Semakin Tidak Cantik

Penurunan kualitas dan produktivitas merupakan satu di antara sekian banyak sifat makhluk yang tak bisa ditawar-tawar. Itu sunnatullah. Mau diingkari juga mustahil. Mengelak atau menghindar pun sangat percuma.

Motor, rumah, pakaian, makanan, atau apa pun. Orang tua, anak-anak, diri kita sendiri, tetangga, bahkan pasangan hidup; semuanya mengalami penurunan dalam banyak hal beriringan dengan berlalunya waktu.

Istri kita pun begitu. Ia mustahil tetap cantik. Ia mustahil senantiasa muda. Ia tak mungkin kencang dan lincah terus. Ia pasti mengalami penurunan kualitas; terutama pesona fisik.

Mas, gimana solusinya? Istri saya kok terlihat tambah kusut ya?

Udah kusut, bau juga.

Selain kusut dan bau, kulitnya berangsur melegam, keriput dan kasar.

Lalu, apa yang harus saya sampaikan atas curhatan-curhatan para suami yang bercanda dengan kalimat, “Lebih enak jamannya Soeharto, Mah. Waktu itu, mamah masih muda, cantik, dan kencang.”

Dikira, istri itu tali yang bisa dikencangkan atau dikendurkan sesuka hatinya?

***

Ada hal-hal yang bisa kita atur, selama masih dalam kendali diri. Selebihnya, ada banyak perkara yang tidak bisa kita jangkau, meski sekuat apa pun upaya yang kita lakukan.

Yang pertama ialah wiayah usaha. Yang kedua merupakan bagian dari taqdir. Kita tidak akan bisa mengelak.

Menua itu pasti. Bertambah keriput juga pasti. Tenaga berkurang apalagi; sangat pasti.

Maka, kita bisa memainkan peran di bagian pertama; penyikapan. Usahakan penyikapan terbaik atas apa yang kita dapati dalam hidup.

Istri yang semakin tidak cantik, misalnya, akan semakin rumit saat dihadapkan pada kondisi zaman yang makin suram nan kelam.

Di televisi dan media online, banyak wanita diperdagangkan. Semua yang harusnya ditutup justru diperlihatkan. Bentuknya pun beda dengan punya istri di rumah. Kalah mengkilap, kalah proporsional, kalah menantang, dan lain-lain.

Tapi, tidakkah Anda pernah berpikir; yang diluar itu, sebagus apa pun, hukumnya haram. Haram itu dosa sejak dilihat, dipelototi, atau dibayangkan.

Sedangkan yang di rumah itu halal serta berkah.

Dan, sadari satu hal lagi; yang di rumah jauh lebih enak. Itu pasti.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

Berita sebelumyaSuami Ketiga
Berita berikutnyaHidup Setelah Nikah Itu Konyol!

Terbaru

Nikmat Terbesar di Dunia dalam Surat Ar Rahman

Dalam Surat Ar Rahman, Allah Subhanahu wa Ta’ala memaparkan demikian banyak nikmat-Nya. Sebab Dialah Ar Rahman (Yang Maha Pengasih) yang tak ada...

Tips Mengelola Cemburu Agar Cinta Tak Terganggu

Bagaimana mengelola cemburu agar cinta tak terganggu? Cemburu adalah rasa yang pasti ada dalam jiwa manusia yang punya cinta. Sebab cemburu adalah...

8 Langkah Istri Jika Suami Mengalami Puber Kedua

Puber kedua memang ada. Ia bisa dialami oleh pria maupun wanita. Namun yang paling sering dijumpai, puber kedua ini terjadi pada pria.

Baca Ayat Kursi, Mimpi Buruk Pergi dan Bangun pun Lebih Pagi

“Ummi, Hamzah nggak mau mimpi.” Tiba-tiba anak ketiga kami mengadu. Waktu itu ia masih duduk di bangku Playgroup. Setelah ngobrol lebih lanjut,...