Editorial

Jika Istrimu Izin Katakan “I Love You” kepada Laki-laki Lain

Hari ini saya mengikuti sejumlah diskusi tentang sebuah tema yang selalu rame di negeri yang kita cintai ini. Saya tak ingin sampaikan diskusi tentang apa, siapa yang melempar, kemudian ditangkap oleh siapa, dan sebagainya. Sebab jika detail, saya akan turut mempromosikan tema itu.

Singkatnya, seorang wanita meminta izin kepada suaminya untuk mengucapkan “I Love You karena Allah” kepada seorang laki-laki lain (bukan mahram).

Baiklah jika laki-laki itu telah dianggap sebagai bapak oleh sang wanita. Atau, laki-laki itu amat banyak jasanya kepada bisnis dan kehidupan sang wanita. Tapi, haruskah meminta izin secara terbuka? Haruskah menggunakan kata “I Love You”?

Lantas, jika suami yang dimintai izin adalah kita, kira-kira apa tanggapan yang akan kita sampaikan? Berikan izin, biarin aja, membalasnya secara terbuka juga, atau diam-diam saat berdua atau melalui pesan singkat secara pribadi?

Karena wanita itu bukan istri saya, dan saya bukan suaminya, maka saya tak perlu menyampaikan perkiraan jawaban. Apalagi, istri saya berkali-kali mengatakan, “Cintaku hanya kamu. Hanya kamu yang menyita perhatian dan seluruh jiwaku. Selainmu, nglirik aja ogah.”

Lalu, kira-kira, jika yang meminta izin adalah istri anda, apa tanggapan anda?

Pertama, mungkin Anda sudah mengetahui betapa dekatnya sosok laki-laki tersebut dengan istri Anda dalam urusan bisnis dan karirnya.

Anda juga memahami betul bahwa tak ada masalah asrama (baca: asmara) di antara keduanya. Murni karena ikatan bisnis yang saling menguntungkan satu dengan yang lainnya, atau keduanya memang memiliki visi yang sama dalam beberapa hal.

Kedua, memberikan opsi kalimat lain. Sebab, menurut Anda, “I Love You”nya istri itu hanya untuk Anda seorang, atau laki-laki yang termasuk mahram (bapak, anak, dan seterusnya). Maka, kata yang mungkin Anda usulkan adalah “Terimakasih”, dan selainnya yang maknanya sama; penghargaan.

Dua hal ini, hanya bisa dilakukan oleh suami yang benar-benar mengerti sebab-sebab ‘turunnya’ kalimat permintaan izin itu dari sang istri. Sebab, jika tak memahami dengan baik, sang suami bisa jadi meminta izin balik, “Mi, gimana kalau saya katakan “I Love You” kepada artis yang jadi anggota dewan itu?”

Lantas, ketika sang istri menunjukkan wajah kesalnya dan berkata, “Jangan! Bukan mahram!”

Sang suami yang cerdas pun akan berkata, “Ya sudah, Aku nikahin dia dulu aja. Biar dia jadi adikmu.”

Dan, ketika sang istri mulai mengambil pisau, golok atau alat perang yang lain, sang suami dengan santai mengatakan, “Kan, kemarin Mami juga minta izin mengatakan kata itu kepada lelaki lain yang bukan mahram juga…” Duh, duh, duh. Ada ada saja ya… [Pirman]

1 Comment

  • f2na 6 Mei 2015

    saya mohon di bantu tentang kegaluan hati saya saat ini, saya sudah menikah dan punya anak 3, tetapi saya dan suami beda keyakinan, saat ini saya sangat beban atas perkawinan ini.
    bersamaan dengan kegalauan saya akan perkawinan ini saya di pertemukan dengan teman saya semasa sma, dan dia tahu seperti perkawinan saya. dan dia ingin saya kembali dengan dia untuk menjalankan perkawinan selayaknya perkawinan agama islam.jujur dalam hati saya sangat ingin dan sangat merindukankan untuk suatu keluarga dalam satu akidah , tetapi saya bingung harus bicara dengan suami saya karena dia tidak ada salah selain agama ini saja. dalam 4 bulan ini sering terjadi pertengkaran karena agama ini, saya bingung harus bagaimana? plese bisa kasih pendapatnya, makasih

Comments are closed.