Inspirasi

Keburukan dan Kejahatan Ayah

Ayah harusnya teladan. Ayah, kudunya adalah cinta pertama bagi semua anak perempuannya. Ayah adalah teman main yang baik, saingan dalam amal, dan pemantik semangat bagi anak laki-lakinya. Ayah, seharusnya adalah sosok sempurna yang memberikan keteladanan dengan berbagai kekurangan yang pasti melekat dalam dirinya. Sebab Ayah, hingga kapan pun, hanya seorang manusia.

Sayangnya, tidak semua Ayah bisa menjadi cinta pertama bagi putrinya. Bahkan, dalam banyak kisah dan fakta, Ayah justru menjadi sebab kebencian sang putri kepada sosok lelaki, sebab ayahnya jahat; Ayah juga menjadi pemicu bagi putrinya untuk membenci Islam, sebab Ayahnya hanya menggunakan Islam sebagai kedok, bukan jalan hidup.

Ayah juga tak jarang menjadikan dirinya sebagai musuh bagi anak laki-lakinya. Bahkan, ketika sang anak dimiripkan dengan Ayah yang telah meletakkan ‘saham’ hingga dirinya terlahir, sang anak lelaki justru marah dan berkata tegas, “Aku tak suka jika disamakan dengan Ayah!”

Sebabnya kompleks dan rumit. Dan tentu saja, kita tak mungkin menghakimi siapa pun. Tapi jelas saja, Ayahlah yang seharusnya menanggung ini semua. Sebab, lantaran dialah anak-anak itu terlahir ke dunia; bukan atas inginnya sendiri.

Maka menjadi Ayah, letaknya bukan hanya pada kata mampu untuk ‘membuatnya’. Sebab, itu naluri, dan binatang pun kuasa melakukannya. Meskipun, jika ‘membuat’ itu diniatkan karena Allah Ta’ala agar anak-anak kelak menjadi pejuang agama-Nya, maka niatnya itu amat mulai dan sangat dianjurkan oleh Nabi dan dipraktikkan dengan baik oleh generasi sahabat-sahabatnya.

Menjadi Ayah adalah tentang bertanggungjawab. Pada diri, pasangan hidup, anak-anak, dan Allah Ta’ala. Bukankah ini sebuah amanah yang amat besar?

Kepada pasangan, bentuk tanggungjawabnya adalah; Ayah harus memastikan bahwa sang pasangan hidup mendidik anak-anaknya dengan baik. Bukan membiarkannya, pura-pura sibuk dengan kerja, lalu menyalahkannya saat anak-anak menyimpang sebab satu dan lain hal.

Terhadap anak-anak, tanggungjawab Ayah ada pada bagaimana mendidiknya, memberikan keteladanan, dan fasilitas kebaikan yang lainnya. Peliknya, hal ini akan menjadi masalah besar; sebab Ayah, ternyata tak kuasa mendidik dirinya sendiri, lalu bagaimana mungkin akan mendidik anak-anaknya?

Maka yang terberat dari itu semua adalah tanggungjawab kepada Allah Ta’ala. Sebab anak adalah amanah-Nya. Dia memberikan kepada hamba-hamba-Nya bukan cuma-cuma, tetapi ada tugas berat yang dititipkan-Nya kepada para Ayah untuk mendidik anak-anaknya itu.

Kelak, pertanggungjawaban ini akan ditagih di akhirat; apakah Ayah telah melakukan kewajibannya dengan baik, atau sebaliknya?

Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah, “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada seorang anak tentang Ayahnya. Maka siapa yang melalaikan pendidikan terhadap anaknya dan meninggalkannya sia-sia tidak berguna, berarti dia telah benar-benar melakukan keburukan dan kejahatan.” [Pirman]