Rumah Tangga

Hidup Setelah Nikah Itu Konyol!

Jangan hanya membayangkan bahagia setelah kalian menikah. Karena itu hal yang sangat konyol dan bertentangan dengan fakta. Nikah itu tidak sebahagia bayangan kalian. Nikah itu tak seromantis adegan dalam film-film Korea, India, atau Barat. Tidak seperti itu!

Kukasih tahu ya? Hidup setelah nikah itu konyol. Sangat konyol. Tidak masuk akal. Tidak logis. Benar-benar konyol.

Menurut kalian, apa yang menggerakkan seorang wanita cantik bernama istri hingga dia harus bangun pertama kali di rumahnya? Jika belum dikaruniai anak, wanita cantik yang seharusnya mandi dan dandan itu justru berkebalikan.

Ia bangun paling awal, bersih-bersih badan secukupnya, menjalankan ibadah. Lalu ke dapur. Ia menyiapkan minuman hangat kesukaan suaminya. Teh. Kopi. Coklat. Susu. Air putih hangat. Atau yang lainnya.

Jika mereka sudah diamanahi anak, kejadiannya akan semakin repot. Bukan hanya minuman dan sarapan suami, ia juga harus menyiapkan segala keperluan anak-anak yang masih kecil.

Bayangkan; yang rewel bukan hanya anak-anaknya yang lucu, tapi juga suami yang rewelnya itu nyebelin lantaran usia yang tak lagi muda.

Bukankah ini konyol, kawan?

Ini baru pemandangan di pagi hari. Kejadiannya akan semakin panjang jika didetailkan dalam sehari saja.

Ketika suami berangkat kerja, sang istri harus tampil cantik sebab laki-laki ogah jika istrinya kusut. Apalagi jika di kantornya banyak yang bening. Kekusutan istri bisa menjadi dalih perselingkuhan.

Lalu istri yang cantik menyiapkan baju, keperluan kerja, sepatu, dan seterusnya. Ia menyalami tangan suami, dikecup di kening, cium pipi kanan-kiri dan kening, lalu melepas kepergian suami sampai pandangan terakhir.

Konyol, kan? Itu bukan cuma sekali. Tapi dua kali dalam sehari sepanjang usia pernikahan mereka.

Aduhai…

Setelah itu, istri harus tetap memberi kabar kepada suaminya. Apakah sudah makan? Anak-anak bagaimana? Di rumah ada tamu atau tidak? Sepanjang hari mengerjakan apa? Dan seterusnya.

Sore hari, si istri harus siap-siap menghidangkan makanan kesukaan suami. Harus siap. Ia juga harus cantik, wangi, dan bening. Gak boleh ada yang kurang. Gak boleh ada bedak yang tidak rata. Gak boleh ada bau yang menyerupai kentut.

Ia harus menyambut suaminya dengan senyum. Sembari bertutur, “Selamat datang, Sayang. Aku menunggumu sepanjang hari. Makanan sudah siap. Air hangat untuk mandi siap. Tempat tidur sudah rapi. Aku juga sudah ‘siap’.”

Sudah lelah seharian, ia harus melayani suami di rumah.

Konyol, bukan?

Apakah hanya istri yang alami kekonyolan selepas nikah? Tidak! Suami pun demikian.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]