Bahkan, Umar Pun Tersinggung dan Marahi Istrinya


Dinukil dari riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim Rahimahumallahu Ta’ala, Ustadz Salim A. Fillah mengisahkan tentang perasaan tersinggung dan marahnya sayyidina Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu lantaran kurang tepatnya sikap sang istri ketika Khalifah kaum Muslimin ini tengah ditimpa masalah.

Saat sayyidina Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu tengah memikirkan sebuah persoalan, istrinya berkata tanpa diminta, “Bagaimana jika engkau melakukan ini dan itu?”

Bukan menyambut baik usul sang istri, Umar justru tersinggung dan marah seraya berujar, “Untuk apa engkau mencampuri urusanku?”

Laki-laki berbeda dengan perempuan, salah satunya dalam caranya menghadapi tekanan, masalah, cobaan hidup, dan aneka persoalan lainnya. Laki-laki memiliki kecenderungan diam, tidak banyak berkisah, dan memilih untuk menepi; memikirkan secara mendalam. Seorang diri.

Di tahap ini, laki-laki amat tidak suka jika dicampuri. Apalagi jika istri-istrinya, tiba-tiba menyampaikan pendapat tanpa diminta. Meski pendapat itu benar, cara yang salah dalam mengungkapkan amat memungkinkan memancing terjadinya konflik lain dan bisa berkepanjangan jika tidak lekas dikelarkan.

Yang terjadi pada diri sayyidina Umar bin Khaththab dalam riwayat ini adalah contohnya. Umar sebagai laki-laki memiliki kecenderungan berpikir mendalam dan tidak berkenan dicampuri. Saat ada yang menyela tanpa diminta, beliau merasa tersinggung. Merasa tidak dihargai kemampuannya.

Beruntung, sang istri bisa lekas menyadari kekeliruannya. Ia juga tidak takut menyampaikan kebenaran di hadapan laki-laki yang telah menjadi imamnya itu. “Alangkah mengherankannya engkau, wahai anaknya Khaththab? Engkau tidak berkenan saat aku mengingatkan dan menyampaikan saran, padahal putrimu (Hafshah binti Umar bin Khaththab, salah satu istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam), sungguh pernah mengingatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam (sebagai suami-istri).”

Hendaknya kita mengambil pelajaran dari kisah ini. Bahwa menikah bukan hanya siklus, tapi ibadah yang membutuhkan ilmu dalam mengarunginya. Tidaklah sebuah pernikahan menggapai bahagia dan berkah, kecuali jika dijalani dengan ilmu yang pondasinya adalah iman dan taqwa kepada Allah Ta’ala.

Kejadian yang dialami sayyidina Umar bin Khathtab ini hendaknya kita perhatikan, bahwa suami dan istri harus menjunjung tinggi kebenaran hingga terjalin budaya saling mengingatkan. Sebab tiada manusia yang bebas dari salah. Sebab kesalahan pasangan pasti akan berdampak langsung bagi pasangannya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]