Keterbukaan yang Berujung Perceraian


Laki-laki ini berkisah dengan kelu. Tak dinyana, sikap keterbukaannya terhadap istri justru berujung perceraian. Setelah bertahan dalam badai selama empat tahun dan dikaruniai satu anak perempuan penyejuk pandangan mata, rumah tangganya kandas. Ia tak kuasa menahan luapan marah dari sang istri, saban hari.

Duda ini bekerja di sebuah kantor swasta. Sebagai salah satu perwujudan prinsip keterbukaan dalam rumah tangga, ia membebaskan istrinya untuk membuka ponsel yang biasa dia gunakan. Ponsel dibiarkan tanpa kata kunci.

Akan tetapi, sebab istrinya bersifat pencemburu buta, hampir setiap hari marah-marah. Padahal, pesan-pesan yang terdapat di ponsel sang suami, nadanya datar. Tiada indikasi kenakalan, menggoda rumah tangga orang lain, atau menjurus pada perbuatan selingkuh.

“Hampir setiap hari, istriku marah. hingga akhirnya kami sepakat untuk berpisah.” kenangnya menerawang sembari melihat si kecil imut yang tak berdosa.

Setelah menikah, suami-istri memang satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan. Keduanya pun harus senantiasa terbuka, saling berkisah, dan tak pelit dalam membagi pengalaman hidup atau kejadian yang dialami di kantor atau kehidupan di luar rumah.

Meski demikian, masing-masing juga tetap harus memiliki privasi. Sebab keduanya juga makhluk individu yang tak mungkin dinafikan memiliki urusan pribadi yang tak bisa dicampuri satu dengan yang lainnya.

Maka dalam menjalani hidup rumah tangga, seorang suami dan istri harus mampu bersikap bijak. Terkait ponsel misalnya, harus didudukkan persoalannya dengan baik. Jika pun ada hal-hal privasi terkait pekerjaan dan sebagainya, bolehlah dibicarakan apakah pasangan berhak mengetahui kata sandi yang digunakan sebagai keamanan dari ikut campur pihak luar.

Di tahap ini, suami dan istri harus saling percaya. Tidak boleh ada buruk sangka. Tidak dianjurkan main selidik bak detektif terhadap pelaku kesalahan yang sedang dicari ketarangan dan bukti kekeliruannya.

Jika pun ada sesuatu yang ingin diketahui, hendaknya seorang pasangan bertanya langsung kepada pasangannya dengan bahasa yang baik dalam suasana yang tepat. Tak perlu mencuri-curi agar bisa mengakses perangkat komunikasi pasangan yang justru bisa menimbulkan buruk sangak bahwa Anda tak lagi menaruh kepercayaan kepadanya.

Sejatinya, mengetahui privasi pasangan juga penting. Utamanya soal hal-hal buruk yang mungkin dilakukan oleh pasangan kita. Tujuannya, agar bisa saling mengingatkan jika ada kesalahan yang dilakukan. Sebab hidup rumah tangga merupakan sarana agar kita bisa menuju surga dengan adanya sosok setia yang senantiasa mengingatkan, membimbing dan menguatkan.

Bukankah menjadi permasalahan pelik jika suami pasangan Anda-misalnya-memiliki hobi melihat gambar tak senonoh dan tayangan audio-visual tanpa baju tanpa akhlak hingga menyebabkan persoalan rumah tangga yang lebih rumit? Jika tak mengetahui kata kunci ponsel dan perangkat canggih yang dia gunakan, dari mana Anda bisa mengetahui hal itu?

Timbanglah baik-baik. Bicarakan dengan bijak. Sebab dalam masalah yang terkesan remeh ini, rumah tangga Anda dipertaruhkan.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]


2 tanggapan untuk “Keterbukaan yang Berujung Perceraian”

  1. Jika Aku bukan jalanmu,
    Kukan berhenti mengharapkanmu,
    dan jika aku memang tercipta untukmu,
    Kukan memilikimu,
    Jodoh pasti bertemu,
    seperti pelangi sehabis hujan,
    itulah janji setiaMu Tuhan.