Pernikahan

Sikap Istri yang Membuat Suami Mampu Atasi Konflik Rumah Tangga

Perasaan dan kondisi dalam pernikahan itu dipergilirikan. Sebab pernikahan merupakan miniatur kehidupan yang warna-warni; kadang putih, lalu berubah ungu, hitam, dan seterusnya. Sehari bahagia, hari berikutnya sedih, dan sebagainya. Dipergilirkan antara suka dan duka, antara nikmat kebaikan dan ujian yang tidak disukai.

Dalam tahap ini, seorang suami-istri yang menjalani hidup bersama harus piawai mengatur rasa dan respons. Jangan berlebih-lebihan. Responslah sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Saat perahu rumah tangga berlayar dalam samudra dengan angin sepoi, mentari bersinar sempurna, dan ombak yang menenangkan, Anda sangat mudah untuk merespons kondisi ini dengan bahagia, santai, dan menikmati setiap jenaknya.

Akan tetapi, jangan lalai. Sebab di depan sana, perahu rumah tangga yang Anda layarkan tengah ditunggu angin membadai, mentari yang tak bersahabat dengan sengat panas atau awan gelap, dan ombak yang siap menghancurkan semua yang telah Anda mulai.

Saat seperti ini, Anda akan benar-benar oleng jika tak bisa menunjukkan diri sebagai seorang nahkoda yang baik. Ketika itu, kepemimpinan Anda dipertaruhkan. Meski akhirnya hancur, mampukan Anda membuat nyaman seluruh penumpang agar tetap tenang, sabar, dan berharap kepada Allah Ta’ala? Adakah Anda sudah melakukan usaha terbaik agar perahu pernikahan yang Anda layarkan benar-benar bisa selamat hingga pulau kemenangan dengan taburan bunga penuh bahagia?

Saat mendapati ujian ketidakbaikan yang jarang disadari oleh banyak calon suami-istri atau pasangan baru ini, sikap istri menjadi sangat utama. Sikap istri yang tepat mampu menguatkan suami. Sikap dari istri ini, dimaknai oleh suami sebagai ungkapan penuh keyakinan positif kepada Allah Ta’ala. “Sayang, yakinlah kepada Alah Ta’ala. Aku bahagia hidup bersamamu. Aku yakin dengan kepemimpinanmu. Aku percaya, bersamamu kan kugapai surga penuh kenikmatan, bagaimanapun kondisi badai meluluhlantakkan rumah tangga yang kita jalani di dunia ini.”

Ialah sikap sabar sang istri yang mampu membuat suami bersikap bijak dan kuat hadapi ujian. Tabah. Tahan uji. Bersungguh-sungguh. Tidak mengeluh. Dan senantiasa berbaik sangka kepada Allah Ta’ala.

Jika istri bersikap sebaliknya, mudah marah dan mengeluh, maka kepastiannya, rumah tangga yang Anda jalani benar-benar akan berantakan. Saling tikai. Tak henti bertengkar.

Maka, pastikan bahwa wanita yang Anda nikahi adalah sosok penyabar, atau didiklah pasangan Anda menjadi pribadi yang sabar.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

1 Comment

  • Rais 2 Februari 2016

    Sayang beribu sayang, istri sering menjadi musuh dalam selimut ketika rt dalam ujian. Disadari/tidak, sering kali istri menjadi lawan suami, bukan pendukung suami, meski diingatkan berkali-kali agar bertaqwa pd Allah Ta’ala. karena itulah satu2nya sandaran kita (perinsip saya) ketika saat2 genting.

    seringkali suami yang dipersalahkan, atas rusaknya kapal/bahkan tenggelamnya kapal biduk.
    padahal, rt, pelakunya bukan cuma suami, tapi ada istri juga. why ???!

    Oh, i wish you know…. its hard to struggle alone on the ocean dear!

Comments are closed.