Lama Nikah Tapi Belum Punya Anak? Berbahagialah…

Setelah menikah, ada banyak masalah yang akan menghinggapi sebuah rumah tangga. Jika tak lekas dikelarkan, masalah-masalah itu bisa membesar, menggunung, dan mengancam. Cepat atau lambat, jika akut, masalah-masalah itu bisa benar-benar menghancurkan sebuah bahtera bernama rumah tangga.

Di antara masalah pelik yang kerap dialami sepasang suami istri adalah anak. Sudah lama menikah, sudah menjalani hidup rumah tangga selama bertahun-tahun; tapi belum memiliki anak. Buah hati yang dikehendaki dan diinginkan sejak awal pernikahan tak kunjung hadir.

Jika persoalan ini yang tengah dihadapi oleh teman-teman, ada baiknya untuk memahami dan melakukan beberapa hal yang direkomendasikan oleh orang-orang shalih berikut ini.

Pertama, pahamilah bahwa anak merupakan investasi paling mahal di dunia dan akhirat. Imam Ibnul Jauzi menjelaskan secara khusus di dalam Shaid al-Khatir, anak yang shalih harus diusahakan karena bisa menjadi tabungan kebaikan setelah orang tuanya meninggal dunia.

Selain mewariskan banyak amalan-amalan kebaikan, anak yang shalih juga bisa mendoakan orang tua hingga mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala.

Namun, saat anak tak kunjung hadir, jangan tenggelam dalam kesedihan.

“Tulisan seorang ulama sama seperti anaknya yang terus mendatangkan pahala serta mengerjakan kebaikan dengan berpedoman pada ilmu yang mendasarinya, hingga ia pun tersebar luas dan ditiru banyak orang. Dan itulah amal yang tak akan pernah mati.”

Nasihat bijak nan indah ini disampaikan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Shaidul Khatir. Beliau bukan hanya menyemangati kaum Muslimin untuk berupaya mendapatkan anak dalam rumah tangganya, tapi juga memberikan solusi bagi suami-istri yang memang tidak dikaruniai anak setelah berupaya dengan sungguh-sungguh.

Ialah tetap bersemangat melakukan banyak amal shalih, termasuk menulis. Tulislah kebaikan. Jadilah pejuang literasi yang tulisannya bermanfaat untuk kaum Muslimin dan umat manusia secara umum.

Sebab, tulisan-tulisan itu akan abadi. Tulisan akan tetap hidup, meski penulisnya telah meninggal dunia. Sekali ditulis, tulisan akan senantiasa bermanfaat lintas generasi. Tulisan benar-benar abadi. Tulisan-tulisan yang bermanfaat akan terus bermanfaat hingga masa yang panjang.

Nah, jika tidak dikaruniai anak dan tidak menulis, apa tabungan amal kebaikan kita?

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

*Beli buku Shaidul Khatir tulisan Imam Ibnul Jauzi di 085691548528

Terbaru

Baca Ayat Kursi, Mimpi Buruk Pergi dan Bangun pun Lebih Pagi

“Ummi, Hamzah nggak mau mimpi.” Tiba-tiba anak ketiga kami mengadu. Waktu itu ia masih duduk di bangku Playgroup. Setelah ngobrol lebih lanjut,...

Meski Sudah Berkeluarga, Jangan Pernah Lupakan Ibu

Jika ada 1000 orang yang mencintaimu, akulah yang pertama.Jika ada 100 orang yang mencintaimu, akulah yang pertama.Jika ada 10 orang yang mencintaimu,...

Bahagiakan Keluarga di Hari Asyura, Niscaya Kau Bahagia Sepanjang Tahun

Membahagiakan keluarga tak perlu menunggu waktu tertentu. Tapi membahagiakan keluarga di hari asyura bernilai spesial. Sebab ada hadits yang menyebutkan, ia akan...

Dosa Ghibah Lebih Berat dari Zina? Baca Hadits-Hadits Ini

Ghibah bukanlah dosa yang remeh. Para ulama memasukkannya dalam kategori al kabair; dosa-dosa besar. Bahkan ada yang menyebut, dosa ghibah lebih berat...