Mengapa Harus Berbuat Baik kepada Istri?


Berbuat baik kepada istri adalah salah satu sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat mulia. Beliau adalah manusia terbaik dan paling baik sikapnya terhadap istri-istrinya. Karenanya, dalam sebuah riwayatnya, Nabi bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

Sampai di sini, jelas sudah persoalan pertama. Bahwa berbuat baik kepada seorang istri hendaknya diniatkan sebagai ibadah dalam rangka menjejaki sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hanya dengan niat itulah, amalan yang dilakukan sepanjang usia seorang laki-laki ini akan menjadi tabungan kebaikan baginya kelak di akhirat.

Pertanyaan kedua, bagaimana seharusnya berbuat baik kepada seorang istri? Adakah tuntunan Nabi dalam hal ini secara spesifik atau global?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim, “Berbuat baiklah kepada wanita. Sesungguhnya seorang wanita tercipta dari tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kamu luruskan, ia akan patah. Dan, jika dibiarkan, ia akan tetap bengkok. Maka, berbuat baiklah terhadap wanita.”

Di dalam ajaran Nabawi ini, ada beberapa hal yang harus kita pahami sebagai seorang suami, kakak, orang tua, atau secara umum sebagai seorang laki-laki. Rasulullah secara jelas memberikan kiat kepada kita tentang bagaimana seharusnya bersikap kepada para wanita-wanita, khususnya yang menjadi tanggungan (diamanahkan) kita, sebagai apa pun.

Bahwa wanita-wanita itu memiliki karakter bak tulang rusuk yang harus diperlakukan sesuai dengan tabiat asasinya. Sebab, jika dipaksa bisa patah. Dan saat dibiarkan, ia bisa semakin bengkok. Karenanya, sikap terbaik terhadap seorang wanita dalam rangka berbuat baik adalah memperlakukannya sesuai dengan tabiatnya tersebut, sesuai dengan karakter fisik, psikis, dan juga psikologisnya.

Sampai di sini, seorang lelaki-khususnya para suami atau ayah-harus mengupayakan secara sungguh-sungguh ilmu-ilmu terkait kewanitaan. Baik tentang karakter fisiknya, kecenderungan perasaannya, ketertarikan pikirannya, dan sebagainya. Hanya dengan mengetahui sifat dasar seorang wanita-istri-, maka seorang suami baru bisa berbuat baik kepada wanita yang menjadi istrinya itu.

Singkatnya begini. Dalam memahami hubungan badan, misalnya, seorang wanita lebih pada penerimaan, perlakuan dan bukti cinta. Sedangkan lelaki memiliki kecenderungan tiba-tiba, seketika, dan ingin segera selesai.

Maka, jika ingin menjadi suami yang berbuat baik kepada istrinya, upayakanlah untuk berpikir seperti wanita. Niatkan untuk melayaninya, meski Anda sedang tidak dalam keadaan meluap-luap. Berikan perlakuan yang baik sesuai dengan kecenderungannya dalam berhubungan. Agar, cintanya semakin merekah, berbunga, dan kuncupnya mekar lantaran benih cinta yang kautanamkan dengan cara yang baik.

Pun, terkait hal-hal lain dalam interaksi suami-istri, bersikaplah secara ksatria dengan memperlakukan istrimu sebagaimana karakteristik dan kecenderungannya, bukan dengan maumu. [Pirman]