Mengapa Wanita disebut Kurang Akal dan Agama?

janji menikah

Allah Ta’ala menciptakan laki-laki dan perempuan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Keduanya adalah dua pribadi yang berbeda dan seharusnya saling melengkapi. Kelebihan dan kekurangan itu tidaklah diciptakan oleh Allah Ta’ala melainkan terdapat kebaikan yang banyak di dalamnya.

Jika banyak wanita yang menjadi ahli neraka semisal istri Nabi Nuh, istri Nabi Luth, istri Abu Lahab dan sebagainya; ada banyak pula wanita yang menjadi penghulu di surga seperti ‘Asiyah istri Fir’aun, Ummu Khadijah al-Kubra, Ummu ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq, Fathimah bin Muhammad bin ‘Abdullah dan sebagainya.

Meski demikian, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kebanyakan wanita menjadi penghuni neraka. Wanita juga dikatakan kurang akal dan agama. Apakah yang dimaksud dengan kurangnya akal dan agama ini?

Di dalam Shahih Imam Muslim diriwayatkan hadits agung dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar.” Sebuah nasihat lembut yang mengandung banyak kemuliaan.

“Karena,” lanjut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “aku melihat kebanyakan kalian sebagai ahli neraka.”

Maka bertanyalah salah satu di antara wanita yang hadir, “Mengapa kebanyakan kami menjadi ahli neraka, ya Rasulullah?”

“Sebab kalian banyak melaknat dan tidak berterima kasih kepada suami.” Lanjut Nabi, “Aku tidak melihat orang-orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih dapat menaklukkan seorang laki-laki berakal daripada kalian.”

Ingin mengetahui detail, wanita yang lain bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan kurang akal dan agama, ya Nabiyullah?”

“Yang dimaksud kurang akal,” jelas Nabi yang mulia ini, “karena kesaksian dua orang wanita sama dengan kesaksian satu orang laki-laki.”

Sedangkan yang dimaksud dengan kurang agama, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan, “Kalian berdiam diri selama beberapa malam; tidak mengerjakan shalat dan tidak berpuasa Ramadhan (karena haid dan nifas).”

Jika dilihat dengan hati yang jernih, riwayat ini adalah motivasi sangat agung dari manusia teragung sepanjang zaman. Bahwa lemah akal sejatinya bisa disiasati dengan banyak membaca, menulis dan mempelajari apa pun yang bermanfaat; selama tidak melanggar syariat Islam. Meskipun, terkait kesaksian itu, Allah Ta’ala Maha Mengetahui hikmah di dalamnya.

Sedangkan terkait ibadah yang tertunda selama berhalangan tersebut, bisalah kiranya disiasati dengan memperbanyak dzikir, silaturahim, mendengarkan taujih Rabbani, dan aktivitas-aktivitas kebaikan lainnya.

Semoga dengan melakukan itu, wanita akan senantiasa bersinar cemerlang dengan ketakwaannya. Sebab di tangan merekalah, nasib sebuah bangsa atau peradaban dipertaruhkan. [Pirman]