Pernikahan

Menikah setelah Tujuh Kali Ditolak

Ada keunikan dalam setiap kisah perjalanan seseorang menuju pernikahan. Ada yang menitipkan harapan kepada ustadz untuk dicarikan calon, ada yang melalui orang tua, ada juga yang menemukannya dengan bantuan tetangga, teman kerja, atau pun atas upayanya sendiri.

Apa pun jalannya, selama tidak melanggar aturan Allah Ta’ala dan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, insya Allah kesudahannya adalah berkah dunia dan akhirat.

Jika ada yang langsung ‘deal’ dalam sekali kenalan (ta’aruf) secara syar’i, maka banyak pula kisah kegigihan seorang laki-laki (ikhwan) yang bolak-balik ditolak hingga akhirnya menemukan cinta terbaiknya. Penolakan itu, bukan dua atau tiga kali. Bahkan seorang ikhwan dalam kisah ini, ditolak hingga tujuh kali.

Sebagaimana banyaknya alasan untuk menerima calon suami, banyak pula dalih yang bisa digunakan untuk menolak siapa yang datang demi menyempurnakan separuh agama. Ikhwan ini, sebut saja namanya Ahlu Ta’aruf, justru mengalami penolakan yang alasannya tidak semestinya.

Pasalnya, di antara sekian banyaknya wanita (akhwat) yang menerima proposal ajuan dirinya, di antara mereka menolak secara halus, sedangkan yang lainnya kasar atau pergi tanpa pesan. Duh!

Jika halus, bentuknya bisa melalui pesan singkat kepada sang perantara, “Maaf, saya menark diri dari ta’aruf ini.” Kemudian tatkala ditanya alasannya, dengan enteng disampaikan jawaban, “Saya tidak menemukan wajahnya dalam mimpi-mimpi saya setelah shalat Istikharah.”

Sedangkan yang kasar, penolakannya lebih cepat. Hanya melihat sekilas datanya, kemudian tahu siapa sosoknya, maka penolakan itu lebih kepada tinggi badan seorang laki-laki yang hanya 155 sentimeter, atau alasan fisik lainnya. Padahal, yang tampan atau pun tidak, semuanya diciptakan oleh Allah Ta’ala dan ukurannya pun sangat relatif.

Maka beruntunglah Ahlu Ta’aruf ini. Semakin sering ditolak, ia tak pernah patah arang. Bahkan, semangat bajanya menemukan momentum dalam perkenalannya yang kedelapan. Iya, delapan.

Dan karunia penerimaan itu, amat menggegerkan seisi aktivis kampusnya kala itu. Sebabnya, wanita muslimah yang menerima lamaran si lelaki adalah sosok yang cantiknya di atas rata-rata dari tujuh wanita yang menolaknya sebelumnya.

Kemudian, setelah pernikahan keduanya, terbukalah alasannya; mengapa wanita shalehah nan cantik itu mau menerima lamaran Ahlu Ta’aruf yang ‘tak sebanding’ jika ukurannya adalah fisik. Oleh si muslimah terdengarlah jawaban menyejukkan, “Dia adalah sosok yang paling ikhlas dalam menerima tawaran mengisi kajian di kampus.”

O, rupanya itu alasannya. Semoga Allah Ta’ala berkahi pernikahannya. Aamiin. [Pirman]

Rujukan: Dua Jiwa Satu Surga

4 Comments

  • ferisa 2 Mei 2015

    Ustadz saya ingin menikah …
    saya perempuan udh cukup dewasa mungkin 35 tahun saya udh berikhtiar namun belum jg jodoh itu dtng..
    mungkin ada solusi

    • moh. ali 13 Mei 2015

      saya siap mendampingi anda, insya allah…….. ini nmr kontakku :08889563122

  • Mas Edyy 22 Mei 2015

    سبحان الله

  • Sukron 15 September 2015

    Jodoh yg baik dipertemukan ditempat yg baik, waktu yg baik dan dgn cara yg baik pula. Barokallohu lakuma..

Comments are closed.