Mertua Selalu Benar!

Di antara konflik yang pasti hinggap dan menggelayut dalam kehidupan rumah tangga adalah konflik antara menantu dan mertua. Jika tidak disikapi dengan bijak, konflik ini bisa benar-benar menghancurkan rumah tangga berkeping-keping.

- Advertisement -

Konflik dengan mertua bisa bermula dari hal-hal remeh sampai yang paling rumit. Bahkan kesalahpahaman yang tidak segera dikonfirmasi bisa benar-benar menghancurkan. Di sini, rumah tangga mutlak membutuhkan ilmu komunikasi dan semangat untuk mengamalkannya sebaik mungkin.

Di siang hari selepas malam pertama, konflik ini bisa bermula. Lantaran belum pindah ke kontrakan atau rumah sendiri, seorang menantu ikut di rumah mertuanya. Kelelahan kemarin dan malam tadi tidak terelakkan, lantas si menantu tidur hingga agak siang setelah shalat Subuh.

“Dasar kucing pemalas! Sesiang ini masih tidur!” ujar mertua, membentak kucing tetangga yang saat itu tidur-tiduran di lantai rumah mereka.

Sang menantu yang berada antara kondisi tidur dan terjaga ini mendengar kalimat tersebut dengan jelas, meski tidak mengetahui konteks kalimat sang mertua.

Marah. Tentu saja. Apalagi saat si menantu merasa disamakan dengan kucing.

Jika kejadian sehari setelah menikah ini bisa meruncingkan konflik, maka ianya bisa makin bertambah seiring lamanya masa pernikahan.

- Advertisement -

Seorang istri mendatangi guru ngajinya. Dia mengadukan persoalan rumah tangganya. Bukan konflik dengan suami, tapi masalah kecil yang mengganjal hatinya, dengan mertuanya. Betapa sang istri menghadapi dilema saat sang suami lebih memihak kepada ibunya itu.

Sang istri berkisah secara teliti. Kronologis. Kemudian sang guru ngaji memberikan penjelasan singkat. Lantas menyimpulkan, “Sabar. Nikmati saja. Kalau masalah itu, semua pasangan suami istri pasti menghadapinya. Kuncinya sabar dan komunikasi. Dan ingat, mertua selalu benar.”

Mula-mula harus dibentuk pemahaman bahwa mertua adalah orang tua kita juga. Ia harus dihormati dan diperlakukan sebagaimana perlakuan kita kepada orang tua kandung. Binalah hubungan positif dengannya. Komunikasi yang santun dan jangan sampai menyakiti, meski secuil.

Jika terjadi masalah, jangan diendapkan berlama-lama. Segera kelarkan dengan cara yang amat bijak.

Terakhir, jika kesalahpahaman atau kemarahan mertua bak api, berlakulah sebagai air. Jangan sekali-kali menjadi minyak karena hal itu hanya akan memperumit persoalan.

- Advertisement -

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

- Advertisement -

Terbaru

Keutamaan Membaca Ayat Kursi di Malam Hari

Ada dua waktu istimewa di malam hari untuk membaca ayat kursi. Kedua-duanya memiliki fadhilah alias keutamaan yang istimewa. Dua...

Pengakuan Bantal, Saksi Bisu Gersangnya Hubungan

Judul Pengakuan Bantal ini mengadopsi tulisan Dr Karim Asy Syadzili dalam bukunya, Kado Pernikahan. Isinya telah dikembangkan agar lebih relevan dengan kondisi...

Mengapa Muslimah Dilarang Cerita Kecantikan Teman pada Suaminya?

“Mas, temanku si Anita itu cantik banget. Ia rajin facial. Pakai skincare mahal..” Pernah mendengar kalimat seperti ini? Atau jangan-jangan Anda sendiri pernah ngomong...

Ini 32 Dosa Suami yang Meresahkan Hati Istri

Pernikahan adalah ibadah paling panjang waktunya. Jika sholat hanya sekitar 6 menit, sehari semalam hanya setengah jam. Puasa yang sehari 14 jam pun, hanya...