Nasihat Pernikahan dari Tukang Rujak


Siang itu, mentari terasa menyengat sebagaimana siang-siang sebelumnya. Panas makin terik nan menusuk sebab beberapa bulan terakhir, hujan belum juga turun. Hendak merehatkan badan, si lelaki kurus ini menepi sejenak. Di sebuah bengkel, yang di depannya terdapat seorang penjual rujak kecil-kecilan.

Lepas memilih dua jenis buah yang harganya sudah naik lima puluh persen atas pengaruh harga global yang kian tak terkendali, lelaki yang baru dua tahun menikah ini meminta kepada abang penjual untuk mengiris buah tersebut, lalu disambali agak banyak. Si lelaki pembeli ini, memang penyuka makanan pedas.

Tunai dipenuhi permintaannya, si lelaki pun menyodorkan dua lembar uang rupiah. Nilainya setengah dollar Amerika. Tanpa kembalian. Di sepanjang prosesi menunggu buah siap saji, ada sebuah dialog menarik yang berlangsung. Temanya, pernikahan. Rupanya, penjual rujak yang murah senyum ini sudah menikah.

“Jadi,” ungkapnya memulai kisah, “saya tinggal di sini sudah enam tahun, Mas.” Rupanya, lelaki yang bertubuh agak hitam ini berasal dari Cirebon, Jawa Barat. “Nah, istri saya itu asalnya Randudongkal, Pemalang,” lanjut sang juru rujak. Bukan kebetulan, si lelaki kurus pembeli rujak ini pun berasal dari kota berjuluk Ikhlas di bilangan Jawa Tengah ini.

“Saya,” akunya, “bertemu dengan calon istri juga di sini.” Ceritanya, berdasarkan penuturan lelaki yang biasa belanja buah di Pasar Anyar Kota Tangerang ini, “Saya nekat menikah. Mulanya, saya berjualan es buah. Istri saya pegawai di apotek.”

“Kepada calon istri saya itu,” ungkapnya penuh antusias, “saya bilang apa adanya. Bahwa saya dari keluarga kurang mampu. Kerja juga hanya jualan es buah, sedangkan dia pegawai yang gajian tiap bulan.”

Setelah menyampaikan itu, saya bilang, “Bismillah saja, ayo kita nikah.”

Sesingkat itu. Dengan iman yang terlihat tak begitu tebal jika di banding sebagian laki-laki berpenampilan syar’i, intelek dan terlibat dalam dakwah kampus, laki-laki ini mengajarkan kepada kita satu hal, keyakinan kepada Allah Ta’ala bagi siapa yang niat menikah untuk mensucikan dirinya.

Perhatikan kalimatnya, “Bismillah”. Bukankah kalimat ini yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi siapa saja yang hendak melakukan amal shalih? Bacalah nama Allah Ta’ala sebelum melakukan amal, niscaya pahalanya tunai diberikan, tidak diganggu setan, dan senantiasa berada dalam keberkahan.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan keberkahan kepada abang tukang rujak murah senyum ini, yang di siang terik kala itu masih sempat-sempatnya mencandai si lelaki kurus, “Mas, duduk sini. Jangan panas-panasan. Nanti hitam loh mirip kulit saya…” [Pirman/Keluargacinta]