Nasihat untuk Aktivis yang Loyo Setelah Menikah

0
sumber gambar: www.hobbiesforcouples.com

Laki-laki bernama asli Fathi Muhammad ‘Inayah ini lahir di Tripoli pada 9 Februari 1933. Beliau merupakan ‘alim pergerakan yang sangat masyhur di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam. Namanya tak asing, banyak buku tulisannya yang bisa dinikmati kaum Muslimin karena telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Di negeri ini, misalnya, salah satu buku beliau yang paling terkenal berjudul Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah. Dalam buku yang telah berpuluh kali cetak ulang itu, beliau berwasiat kepada diri sendiri dan kaum Muslimin agar senantiasa berada di dalam barisan dakwah, memperjuangkan tegak tingginya kalimat Allah Ta’ala hingga ajal menjemput.

Dalam catatan sejarah, laki-laki yang wafat pada 13 Juni 2009 ini merupakan pemimpin Front Amal Islam Lebanon dan dekat dengan organisasi pergerakan Islam Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Imam Hasan al-Banna.

Sebagai pemimpin organisasi pergerakan Islam, beliau lebih banyak di luar. Berkunjung ke banyak tempat untuk berdakwah, melakukan konsolidasi hingga bersilaturahim ke berbagai pihak untuk menjalin sinergi.

Meski demikian, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan keluarga. Beliau mengingatkan kepada para aktivis agar tetap menjaga haknya untuk anak dan istri sekaligus menyampaikan taujih agar istri menjadi penguat dakwah, bukan penghalang atas nama urusan keluarga.

“Janganlah hubungan saya dengannya (istri) hanya sebatas hubungan biologis. Di atas itu adalah adanya kesamaan fikrah, mentalitas dan emosi.” ujarnya sebagaimana dikutip Islam Digest Republika (Ahad, 28/2/2016).

Beliau pun memberikan contoh. “Seperti, melaksanakan aktivitas ibadah secara berjamaah, menyelesaikan urusan rumah tangga bersama-sama, di samping waktu bercanda ria dan bergurau.”

Apa yang beliau sampaikan hendaknya menjadi perhatian serius bagi siapa pun yang mengaku sebagai aktivis dakwah dan kaum Muslimin pada umumnya. Jangan sampai malas atau absen dari aktivitas dakwah karena alasan istri atau anak-anak. Pasalnya, banyak sekali aktivis yang justru loyo dan tak punya stamina dakwah setelah menikah.

Apa yang dinasihatkan oleh Syeikh Fathi Yakan sejatinya merupakan tafsir dari apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Beliau sering membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah, balap lari dengan Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar, juga bergurau dengan istri-istrinya yang lain.

Bagaimana dengan rumah tangga kita?

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]