Nikah Dulu, Nikah Lagi, Lagi-lagi Nikah

1
ilustrasi @fsialbiruni

Mereka yang gagal memaknai masa mudanya dengan karya, yang hanya menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia, saat dirinya tak mampu kelola sumber daya kebaikan untuk meledakkan potensinya, mungkin akan mengatakan “Nikah dulu” hanya sebagai dalih. Faktanya, mereka tak kunjung menikah dan hanya mondar-mandir mengunjungi banyak orang seraya berkata, “Saya akan nikah dulu, baru berkarya.”

Nyatanya, upayanya minimalis, niatnya tipis, usaha mengumpulkan ilmu dan modal pun nyaris habis sebelum terkumpul untuk melamar gadis dalam akad nikah yang manis. Miris.

Tetapi, ada banyak juga yang sadar-sesadarnya akan manfaat di balik menikah, kemudian bergegas melayakkan diri, segera menjalankan, dan membetulkannya sambil jalan. Mereka inilah yang benar tekadnya saat sampaikan maksud, “Doakan, saya nikah dulu.”

Lain lagi, ada juga yang berkilah dengan dalih ‘ibadah tak hanya menikah’, ‘sunnah selain nikah juga banyak’, ‘banyak orang saleh yang wafat sebelum menikah’, dan argumen lainnya; saat mereka mendapati nasihat agar bersegera melakukan ibadah yang di dalamnya akan dicicipkan sedikit nikmat surga ini, kilahnya dengan santai dan meremehkan, “Nikah lagi…”

Padahal, andai ia mau sedikit menundukkan egonya, kemudian melakukan serangkaian ritual doa dan usaha yang sungguh-sungguh sesaat dan setelah menerima nasihat itu, insya Allah hasilnya kebaikan. Jika pun tak kunjung bertemu dengan jodohnya, setidaknya dia telah berusaha sesuai dengan kemampuan terbaiknya.

Kelak, jika Allah Ta’ala berikan nikmat dan rezeki menikah kepada mereka, apa yang dikatakannya akan berbeda. Mungkin, dia akan berkata, “Tahu begini, saya nikah dari dulu.”

Tetapi, saat ia bersikukuh dengan keras kepalanya, mungkin saja ia benar-benar tak kunjung menikah. Dan, satu di antara akibat buruknya, ketika menemui nasihat pernikahan bernada sedikit provokatif saja, misalnya, ia akan berkata ketus, “Lagi-lagi nikah…”

Pada tahap tertentu, ketika yang menyampaikan nasihat pernikahan padanya dikaruniai nikmat menikah untuk yang kedua, atau ketiga, bisa jadi ia pun akan berkata, “Nikah lagi, nikah lagi… Dasar.”

Karenanya, nasihat hanyalah nasihat. Semuanya berpulang kepada yang dinasihati. Jika kebaikan dan diikuti, maka kebaikan pula baginya. Dan, sebaliknya. Namun, ketika nasihat kebaikan itu di-sinis-i dengan besar kepala, percayalah bahwa akibatnya akan buruk. Bukan bagi pemberi nasihat, tapi bagi mereka yang sinis dan tak sungguh-sungguh perbaiki niat. [Pirman/Keluargacinta]

1 KOMENTAR

Comments are closed.