Inspirasi

Nikmatnya Ramadhan Bagi Para Bujangan

Satu-satunya status yang seringkali mendapat sasaran bully adalah para bujangan. Padahal, bujangan hanyalah sebuah fase kehidupan yang dialami oleh begitu banyak manusia di muka bumi ini. Apalagi saat Ramadhan dan menjelang Idul Fithri, pertanyaan ‘kapan menikah?’ menjadi salah satu momok yang-barangkali-membuat mereka muak.

Sejatinya, bujangan adalah status terhormat. Apalagi bagi mereka yang berhasil menjaga diri dalam status jomblo sebelum menikah. Mereka yang berhasil menahan rayuan setan terkutuk inilah sosok bujangan-bujangan terhormat, yang karenanya, amat direkomendasikan untuk dijadikan suami atau istri.

Lantas, seperti apakah bujangan jenis ini? Pasalnya, di Ramadhan berkah ini, mereka memiliki kebiasaan khusus yang tak dimiliki atau asing bagi bujangan jenis lain yang menghabiskan waktu dalam pacaran haram dan berbagai jenis kesia-siaan dan kemaksiatan lainnya.

Mereka terjaga di awal pagi. Lepas panjatkan doa yang disunnahkan, mereka bergegas membersihkan diri dan bersuci. Lalu kenakan pakaian dan wewangian secukupnya untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala dalam berdiri, rukuk, duduk, dan sujudnya. Tahajjud. Itulah kegemarannya.

Jika telah usai, mereka pun melanjutkannya dengan dzikir, doa, tilawah, dan tafakkur hingga mendekati Subuh, lalu bersahur dengan makanan berkah, meski seadanya. Sederhana, tapi tetap bergizi sebab mampu menguatkan tubuhnya dalam menyembah Allah Ta’ala.

Saat kumandang adzan Subuh mengalun syahdu, kaki mereka berkejaran dalam gegas memenuhi panggilan cinta. Berjamaah di masjid adalah kesukaan dan kerinduan yang senantiasa dijalaninya berkali-kali dalam sehari si sepanjang usianya.

Maka, jangan heran jika senyumnya menginspirasi, kalimatnya bijak penuh hikmah, tatapan matanya teduh nan sejuk, serta memancarkan semangat bagi sekitarnya. Saat bertemu dengan manusia, mereka siramkan senyum penuh kesejukan, dan sampaikan salam kepada saudara sesama muslim, juga jabat tangan dan ekspresi keakraban berbalut akidah.

Tunai Subuh berjamaah awal waktu di masjid bersama imam, mereka lakukan upaya sungguh-sungguh agar tidak sengaja tidur. Sebab, mereka mengerti; pada pagi terdapat berkah sebagaimana doa Nabi. Maka, yang menjadi pilihannya adalah lantunkan dzikir pagi yang diselingi dengan tafakkur terhadap makna kalimat-kalimat pujian kepada Allah Ta’ala itu.

Selain dzikir, yang menjadi kebiasaannya lepas Subuh adalah tilawah, menghafal, dan mengulang-ulang hafalannya, serta berolahraga agar fisiknya tetap sehat, bugar, dan tangkas. Tak jarang, mereka juga mengawali hari dengan membaca buku yang mengggugah jiwa, menghafal hadits, atau menuliskan ide-idenya untuk mencerahkan umat.

Maka atas bekal yang diasupkan ke badan, pikiran, dan jiwanya itu, mereka menjadi seperti singa di siang hari; yang bertebaran di muka bumi untuk belajar, bekerja, atau amalan-amalan sosial lainnya sebagai salah satu wujud mengabdikan diri kepada Allah Ta’ala.

Bukankah mereka-mereka ini sosok yang tak layak ditolak lamarannya, jika seorang lelaki? Dan, sosok yang harus dilamar, jika wanita dan belum menikah? [Pirman/Keluargacinta]

1 Comment

  • chelsea fans community 27 Juli 2015

    subhanallah

Comments are closed.