Punya Pacar Kok Alhamdulillah!

Demi mengikuti sunnah Nabi untuk merapikan rambut dan menyenangkan hati istri yang sudah lama menyarankan agar saya mencukur rambut, sore itu sengaja mampir ke tempat pangkas rambut di pinggiran jalan Kiyai Haji Hasyim Asyhari Tangerang. Setelah seorang pemuda usai mendapatkan pelayanan, saya bergegas menduduki tempat serupa, mendapat giliran dilayani oleh laki-laki berkulit putih yang terlihat kurus dan kurang bersemangat.

Sejenak menjelaskan model potongan, dia langsung memulai pekerjaannya dengan mengesankan. Terkesan rapi dan hati-hati. Seperti biasa, saya memulai obrolan, agar pemuda yang melaksanakan tugasnya itu tidak bosan. Kami berbicara ringan seputar kehidupan masing-masing.

Pemuda itu usianya dua puluh dua tahun. Potongan rambutnya kekinian. Rapi. Ia yang berasal dari salah satu daerah di Jawa Barat ini mengenakan celana jins dan kaos warna merah putih. Paduan yang cocok dengan  warna kulitnya.

“Aa sudah menikah?” tanyanya di tengah perbincangan.

“Alhamdulillah, sudah.” jawab saya datar.

“Kalau Akang?” tutur saya, berbalik tanya.

“Belum.” katanya sembari tersenyum masam.

“Sudah punya pacar?” ujar saya selanjutnya.

“Alhamdulillah, sudah.” jawabnya diiringi tawa agak renyah.

Seketika itu, saya tercengang. Pandangan saya menerawang. Kulit di dahi mengerut. Kehabisan kata-kata. Betapa kalimat jawabannya benar-benar membuat hati miris teriris. Dia menyandingkan kalimat maksiat dengan pujian kepada Allah Ta’ala.

Tanpa diminta, pemuda ini pun mengisahkan pacarnya. Sudah dua kali berpacaran. Satu kampung. Pacar pertamanya berbeda kota. Dia mengalami kepedihan lantaran ditinggal nikah oleh pacar pertamanya. Kini, pacar pertamanya sudah cerai dengan suaminya. Resmi menjadi seorang janda.

“Perih, Aa,” tuturnya. “Kita usaha sungguh-sungguh untuk menabung agar bisa menikahi, tak tahunya dia menikah dengan laki-laki lain.”

Saya kemudian menyampaikan sedikit kiat yang seharusnya dia kerjakan.

“Harusnya, cari bekal dulu. Baru cari calon. Kerja yang rajin. Nabung. Cari ilmu yang banyak. Baru cari calon. Insya Allah lebih gampang dan selamat daripada nyari calon (pacar) lebih dulu.” nasihat saya kepada si pemuda yang hampir kelar melaksanakan tugasnya itu.

“Iya ya A’? Enakan begitu.” sahutnya sepakat.

“Iya. Kalau pacaran itu rentan. Banyak kasus pacaran dalam waktu yang lama, tahu-tahu menikah dengan orang lain yang bukan pacarnya.” pungkas saya mengakhiri obrolan.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

Terbaru

Baca Ayat Kursi, Mimpi Buruk Pergi dan Bangun pun Lebih Pagi

“Ummi, Hamzah nggak mau mimpi.” Tiba-tiba anak ketiga kami mengadu. Waktu itu ia masih duduk di bangku Playgroup. Setelah ngobrol lebih lanjut,...

Meski Sudah Berkeluarga, Jangan Pernah Lupakan Ibu

Jika ada 1000 orang yang mencintaimu, akulah yang pertama.Jika ada 100 orang yang mencintaimu, akulah yang pertama.Jika ada 10 orang yang mencintaimu,...

Bahagiakan Keluarga di Hari Asyura, Niscaya Kau Bahagia Sepanjang Tahun

Membahagiakan keluarga tak perlu menunggu waktu tertentu. Tapi membahagiakan keluarga di hari asyura bernilai spesial. Sebab ada hadits yang menyebutkan, ia akan...

Dosa Ghibah Lebih Berat dari Zina? Baca Hadits-Hadits Ini

Ghibah bukanlah dosa yang remeh. Para ulama memasukkannya dalam kategori al kabair; dosa-dosa besar. Bahkan ada yang menyebut, dosa ghibah lebih berat...