Pedihnya Derita Membujang setelah Pernikahan


Bagi mereka yang terbiasa dengan susah-payah-derita, kemudian Allah Ta’ala merasakan baginya bahagia-sekecil apa pun-, maka kebahagiaan itu sangat bermakna baginya, dan amat sukar untuk dilupakan kesannya.

Sebaliknya pun demikian; sosok yang terbiasa berada dalam suka-bahagia-nikmat, seketika setelah merasakan secuil kesedihan, maka kesedihan itu bagaikan neraka baginya. Pedih, perih, dan lara; tak terkira.

Demikian itulah tabiat jiwa manusia. Jiwa akan terbiasa dengan apa yang seringkali dirasakan olehnya, dan asing dengan sesuatu yang baru. Apalagi jika yang baru itu tidak mengenakkan bagi tabiat dan kecenderungannya.

Maka mereka yang baru sekali merasakan pernikahan-perempuan atau pun laki-laki-, setelah beberapa hari atau bulan merasakannya, kebanyakan mereka akan bergumam sangat sumringah, “Rupanya begini rasanya? Kok enak ya? Tahu begini mah, nikah dari dulu saja.”

Atau kalimat lain dengan makna yang sama. Apalagi jika mereka tidak pernah pacaran, baru pertama kali merasakan sentuhan, dan interaksi dengan lawan jenis dengan begitu intens hanya setelah ijab qabul pernikahan; ia persis seperti orang yang dimasukkan ke dalam ‘surga’ pernikahan setelah sebelumnya dicelupkan dan hidup di dalam ‘neraka’ kesendirian.

Dan, memang begitulah tabiat pernikahan yang membahagiakan. Suami-istri melakukan kerja-kerja cinta ‘saling’ dengan intensitas tertulus yang dimiliki, sehingga nikmatnya tak sebatas pada fisik, tapi mencerahkan pikiran dan menyejukkan jiwa.

Maka, istri adalah orang yang sangat perhatian dan melayani suaminya dengan sangat tulus di semua aktivitas; makan, minum, menyiapkan pakaian, dan sebagainya. Dan sang suami, adalah sosok yang menunjukkan kepedulian, pelayanan, kepemimpinan, dan tindakan-tindakan perlindungan lainnya. Persis seperti seorang pangeran yang melindungi sang permaisurinya.

Kenikmatan-kenikmatan setelah pernikahan inilah yang menjadi salah satu sebab bagi seseorang untuk senantiasa berada di dalamnya. Maka jangan heran, jika ada orang, khususnya laki-laki, yang langsung mencari pengganti ketika salah satu istrinya wafat.

Dan, kenikmatan-kenikmatan inilah yang menjelaskan bagi seorang sahabat yang bertandang ke rumah kami tempo hari. Ia yang sudah berusia 50-an tahun, memiliki tiga anak yang sudah besar-besar, dan sudah sekitar satu tahun berjarak dengan istrinya.

Tuturnya, “Sekarang kerasa deh. Tersiksa. Gak ada istri. Pagi kesiangan, gak ada sarapan. Langsung berangkat kerja. Siang makan. Pulang kerja lelah, ketiduran. Bangun malam, kelaparan. Gak ada makanan, terpaksa deh; keluar mencari warung yang masih buka.”

Kemudian, di akhir kisahnya, ia menegaskan, “Pokoknya setelah urusan kelar mau langsung pulang kampung. Gak betah lama-lama jauh dari istri. Tersiksa.” Padahal, kawan saya ini, hampir setiap bulan mudik. [Pirman]


2 tanggapan untuk “Pedihnya Derita Membujang setelah Pernikahan”

  1. Hanya sabar dan sabar yang bisa saya lakukan, demi buah hati tersayang