Inspirasi Pernikahan

Bikin Baper, Begini Jawaban Muhammad Muda Saat Ditawari Nikah Pertama Kali

Sebagai manusia biasa, Muhammad bin Abdullah memiliki sifat-sifat manusiawi seperti lapar, haus, lelah, bingung, bahagia, sedih, galau, dan sejenisnya. Sifat-sifat ini merupakan kelebihan ajaran Islam dengan ajaran lainnya, karena sosok Nabi berasal dari jenis manusia hingga bisa diteladani dengan mudah dan nyata.

Salah satu sifat manusiawi Muhammad bin Abdullah yang kemudian menjadi imam para Nabi dan penutup Rasul Allah ialah sifat galau atau bingungnya saat ditawari menikah untuk pertama kali. Uniknya, meski tergambarkan perasaan bingung dalam dirinya, terdapat pula gambaran kedewasaan dalam kalimat-kalimat yang diucapkan sang Nabi.

“Apa yang mengahalangimu untuk menikah?”

“Aku orang miskin yang tidak punya harta.”

“Jika aku tanggung semua keperluanmu untuk menikah dan kupilihkan seorang wanita yang cantik, kaya, mulia, dan cocok untukmu, maukah engkau menikah dengannya?”

“Siapa wanita itu?”

“Khadijah.”

“Bagaimana mungkin?”

“Aku akan mengaturnya.”

Dialog yang dikutip oleh Abdul Mun’in Muhammad Umar dari Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat ini terjadi antara utusan Khadijah binti Khuwailid, Nafisah binti Umayah, dengan Muhammad bin Abdullah.

Perhatikan baik-baik. Ada sedikitnya dua kalimat yang menggambarkan kegamangan Muhammad ketika ditawari menikah untuk pertama kali. Muhammad gamang. Muhammad galau. Dan, ini manusiawi bagi seorang pemuda berusia 25 tahun.

“Aku orang miskin yang tidak punya harta.”

Amat jelas makna di balik kalimat ini. Amat terang kondisi perasaan pengucapnya. Bukan merendah, tetapi sekadar pengakuan. Sebab, laki-laki itu paham, menikah bukan soal pencitraan, tetapi kenyataan.

Ketika ada yang menjamin, kemudian sosok wanita calon istrinya disebutkan, Muhammad muda tak lekas menerimanya. Dia berpikir. Dia mencerna makna tawaran itu. Ia, juga tengah mengukur dirinya dengan wanita yang ditawarkan kepadanya.

“Apakah layak? Apakah cocok? Dia begitu aku begini, mungkinkah hidup bersama? Dia kaya raya, punya banyak usaha, terpandang, sedang aku pernah menjadi mitranya?”

Tetapi, Muhammad muda ini cerdas. Ia tak menunjukkan kalimat yang bermakna minder. Ia benar-benar sosok yang piawai menyusun diksi. Sehingga ia hanya berujar ringan dan singkat, “Bagaimana mungkin?”

Mari merenung sejenak. Mari mencoba membayangkan. Mari berandai-andai menjadi lelaki muda 25 tahun itu.

Apa yang bisa diandalkan? Apa yang mampu dibanggakan? Apa yang menjadikannya percaya diri hingga menerima tawaran menikah dari wanita yang sudah matang, berpengalaman dalam berumah tangga, berasal dari keturunan terhormat, pengusaha papan atas, cantik, dan penyayang kepada anak?

Minder, bukan? Sudah pasti. Tapi lelaki ini, yang ketika itu belum menjadi Nabi, menunjukkan kualitasnya. Mengagumkan!

Berkacalah, para jomblo. Harga diri itu penting, tetapi harus realistis dan pandai menangkap peluang. Ingat, peluang tak datang dua kali. Jika diabaikan, ia pasti disamber oleh orang lain yang lebih siap.

Wanita itu tak butuh janji, tetapi aksi nyata! [Mbah Pirman/Keluargacinta]