Pernikahan

Persiapan Ruhani Sebelum Menikah

Jangan asal menikah. Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, menikah juga butuh persiapan. Baiknya persiapan akan menjadi salah satu penentu sukses atau gagalnya pernikahan. Penting menjadi catatan, persiapan haruslah berkualitas. Sehingga tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk berlama-lama menunda menikah dengan dalih persiapan.

Persiapan Ruhani

Hampir semua persoalan kehidupan dimulai dari ruhani. Baik dan bagusnya kehidupan seseorang menjadi penanda bahwa ruhaninya senantiasa terhubung kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, siapa saja yang hidupnya tidak jelas, banyak menzhalimi Allah Ta’ala, Rasululllah, orang tua, diri sendiri, dan orang-orang sekitar, pastilah ruhaninya bolong-bolong dan amburadul.

Pun terkait pernikahan. Ianya dimulai dari kualitas ruhani seseorang. Maka, sebelum memutuskan untuk melamar, sebaiknya seorang laki-laki benar-benar memulainya dengan niat menikah karena melakukan perintah Allah Ta’ala dan menjalankan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jangan sampai menikah hanya karena kebelet, apalagi dipaksa karena orang tua tersandera hutang, atau niat remeh lainnya.

Dengan niat yang benar, seorang laki-laki akan berusaha memperbaiki dirinya secara optimal. Membenahi shalat yang berantakan, mendawamkan dzikir sebagai penghubung kepada Allah Ta’ala, membaca dan berakrab ria dengan al-Qur’an sebagai panduan kehidupan, dan amalan-amalan lain yang memiliki khasiat memperbagus kualitas ruhaninya.

Bagi seorang wanita, jangan menerima lamaran hanya karena calonnya ganteng, karir dunianya melejit, keturunan ningrat, apalagi hanya karena terlanjur berpacaran bertahun-tahun. Niatlah menikah untuk menyempurnakan separuh agama. Menikahlah untuk belajar mengabdi kepada suami yang shalih dan kelak menjadi ibu bagi para pejuang di jalan Allah Ta’ala.

Maka, yang menjadi kesibukan laki-laki dan perempuan muslim adalah mengasah potensi ruhiyah. Sama sekali tidak berorientasi akut terhadap dunia, apalagi sibuk berpacaran dengan dalih bersiap-siap.

Jika hal ini yang dilakukan, dengan senantiasa mengharap pertolongan dari Allah Ta’ala, maka yakinlah bahwa pernikahan kalian akan senantiasa diberkahi. Memang, tidak mudah jalannya. Berkah bukan bermakna senang selalu atau bahagia selamanya. Berkah ialah bertambahnya kebaikan. Entah senang atau susah, jika diberkahi, maka peristiwa itu akan semakin mendekatkan masing-masing individu kepada Allah Ta’ala.

Sebaliknya, jika niatnya salah sehingga tiada berkah di dalamnya; mau mobilnya sepuluh, rumahnya tujuh, asetnya ratusan milyar, tanahnya seluas hutan belantara, hal itu semua justru membuat mereka semakin jauh dari Allah Ta’ala.

Karenanya, waspada dan bersungguh-sungguhlah terkait niat ini. Jangan main-main! Apalagi jika Anda menganut falsafah wajibnya menikah hanya sekali seumur hidup. 😀 [Pirman/keluargacinta]