Poligami (bukan) karena Nafsu


Ada begitu banyak persimpangan yang kelak kita jumpai dalam kehidupan nyata ini. Bukan hanya persimpangan soal pekerjaan, soalan pilihan ganda dalam jodoh pun tak bisa dielakkan. Bukan hanya soal jodoh pertama, persimpangan tentang jodoh kedua hingga keempat sering kali tak bisa dihindarkan lantaran satu dan lain sebab.

Laki-laki tiga puluhan tahun ini bertutur. Ia sangat puas dan ridha dengan layanan istri pertama yang telah memberinya tiga buah hati. Akan tetapi, karena pekerjaan yang dia jalani, keluar kota seperti keharusan. Sering pulang malam, banyak godaan di tempat kerja, pun pemandangan-pemandangan wanita lain yang sukar dihindari, sebagai salah satu konsekuensi pekerjaan.

Semakin pelik, ketika dia harus menghadapi tingkat stress yang tinggi dan aneka jenis riak-riak hingga gelombang dalam hidup. “Saya khawatir tergelincir,” tuturnya sampaikan kesaksian. “Maka, saya memutuskan untuk menikah lagi.”

Bukan omong belaka, laki-laki keturunan Sunda ini benar-benar mempersunting gadis kedua, tetangga provinsinya. Usianya tak jauh dari usia istri pertama, kualitas akhlaknya pun berimbang. Hanya sedikit lebih kinclong lantaran kehidupan yang dia jalani. Istri kedua lebih mapan, punya usaha, dan kolega bisnisnya.

Bagi sebagian kita, para pemuja pernikahan monogami, mungkin saja akan serta-merta mengatakan bahwa laki-laki ini berpoligami karena nafsu. Hanya mengikuti syahwat. Atau yang lebih kejam ‘bosan dengan istri pertama.’

Sebaiknya, Anda bersikap sesuai akal. Jangan kedepankan perasaan, apalagi nafsu jahat yang ada di dalam imajinasi sempit Anda. Jangan menghakimi perbuatan orang lain dengan apa yang ada di otak Anda.

Jika laki-laki ini menikah dengan wanita kedua, ketiga, atau keempat demi menjaga nafsunya, bukankah niat menjaga nafsu itu yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat perintahkan kita menikah untuk pertama pula?

Kita tidak boleh mengadili nafsunya, sementara dia dan semua laki-laki pun tak banyak berdaya di hadapan nafsu, apalagi saat hasrat mendesak-desak untuk segera dituntaskan. Justru, terhadap mereka yang berniat menjaga diri dengan menikah agar tidak terjerumus dalam zina yang mengenaskan, kita harus memberikan apresiasi.

Doakan dengan tulus, sampaikan saran dan nasihat sebagai sesama Muslim. Itulah sikap terbaik. Tak perlu mengadili, apalagi menuduh. Sebab jika berada di konsdisi seperti dia, mungkin saja Anda akan melakukan langkah serupa.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]