Rumitnya Masalah ‘Ranjang’ setelah Menikah

1
sumber gambar: www.akhwatindonesia.net

Wanita ini bertutur dengan nada lirih. Ada sayatan hati yang menghiasi setiap bulir katanya. Kepedihan yang tak pernah dibayangkan. Kesedihan yang tiada terlukiskan. Keperihan yang sama sekali tak pernah dipikirkan.

Suaminya tidak menderita penyakit. ‘Kebanggaannya’ masih berdiri. Tegak. Belum mengalami disfungsi. Tampilannya pun gagah, rapi, dan wangi. Khas pengusaha.

Namun, sudah beberapa puluh bulan terakhir, laki-lakinya itu tak lagi berminat kepadanya. Padahal, wanita ini jauh dari kesan kumuh. Pakaiannya masih cerah, air mukanya segar, aromanya khas wanita-wanita berduit, bawaannya pun menyenangkan.

Jika dilihat dari kaca mata umum, tak ada alasan bagi si laki-laki untuk tidak menyentuh bunga yang menawan dan mengeluarkan aroma membangkitkan keinginannya untuk bersenang-senang.

Sayangnya, apa yang dipahami hanya pemahaman. Suaminya benar-benar tak menyentuh. Bahkan sekadar ‘main-main’, mencium, dan memeluk pun tak pernah lagi.

“Dingin. Malas mandi.” Kata laki-lakinya sampaikan alasan. Padahal, di rumah mewah mereka, ada pemandian yang lengkap dengan air hangat. Pun alasan-alasan lain yang benar-benar menemukan jalan buntu bagi si wanita yang sejatinya masih membutuhkan haknya dalam hal nafkah biologis.

Selain si wanita dan laki-lakinya di atas, kasus serupa juga dialami banyak pasangan di luar sana. Ada wanita-wanita yang benar-benar pilah-pilih waktu ketika suami memintanya ‘bertugas’. Mulai alasan repot mengurusi rumah, sibuk mengasuh anak, banyak pekerjaan dari kantornya, hingga alasan remeh semisal dandan berjam-jam.

Bak laki-laki dalam kisah pertama, banyak istri-istri berpikiran serupa. Ada yang malas keramas malam-malam, sebab rambutnya lebat hingga mandi dalam masa yang lama lalu merasa kedinginan. Atau sibuk mematut diri agar tetap cantik di rumah, padahal yang dimaui suaminya bukan sekadar cantik, tapi pemenuhan kebutuhan biologisnya sebagai laki-laki normal.

Alhasil, masalah ‘ranjang’ ini, tak sertamerta gampang sebagaimana imajinasi para bujangan yang sering mengelak untuk dimotivasi agar menikah. Dalam pikiran mereka, urusan ‘ranjang’ ya, gitu aja. Gak repot. Gak susah. Tinggal ‘klik’.

Padahal, faktanya, tak semudah itu. Ada begitu banyak faktor. Ada banyak sebab. Ada ilmu-ilmu dan pemahaman-pemahaman yang memang harus dimiliki oleh masing-masing pasangan. Pun dengan update pengetahuan sebab kebosanan kerap menjalari pasangan-pasangan yang memang sudah lama hidup bersama dalam kamar dan selimut serupa.

Maka sebagai solusi, baiknya berbicara empat mata. Berupaya mencari solusi terbaik. Sebab, jika urusan ini tak segera dikelarkan, ianya menjadi salah satu pintu masuk bagi pihak ketiga yang kelak mengantarkan pada perceraian.

Yang paling penting, bacalah sejarah kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama para istrinya, dan kehidupan sahabat-sahabat beliau. Baca dan pahami hadits. Dengan demikian, ada motivasi suci yang Anda bawa saat suami atau istri mengajak melupakan beban hidup sejenak dengan bernikmat-nikmat yang bernilai pahala sedekah.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

1 KOMENTAR

  1. Ya Allah karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau~lah Maha Pemberi (karunia).

Comments are closed.