Salah Memilih Rezeki


Ada begitu banyak pilihan dalam hidup yang kita jalani. Yang baik, biasa-biasa saja, hingga yang nyata keburukannya. Jika pilihan hidup adalah rezeki, faktanya banyak di antara kita yang salah dalam memilih rezeki. Mengenaskan. Tapi, begitulah adanya.

Dalam dua puluh empat jam yang kita jalani saban harinya, sebab seorang Muslim, tentulah kita memahami bahwa sepanjang hari itu akan ada lima kali panggilan Allah Ta’ala melalui muadzin. Lima panggilan shalat, lima kali ajakan kemenangan, lima kali seruan agar kita mendekat dan panjatkan kebaikan yang kita inginkan dalam hidup di dunia dan akhirat.

Maka, apa pun kegiatan dan profesi yang kita jalani di sepanjang hari itu, seharusnya kita menyadari waktu datangnya panggilan yang jadwalnya sudah pasti sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat Allah Ta’ala dan diperjelas dalam sunnah Nabi-Nya yang amat mulia.

Sayangnya, lagi-lagi, meski seorang Muslim, kita amat sering salah dalam memilih rezeki. Itulah faktanya.

Jika tak percaya, buktikanlah. Dari sekian ratus atau ribu orang di dalam sebuah komunitas terkecil yang mendengar panggilan kemenangan itu, coba hitung; berapa yang mempersiapkan diri jauh sebelum panggilan datang untuk bergegas mendatanginya? Berapa banyak yang datang tepat ketika panggilan mulai dikumandangkan, atau tepat ketika panggilan usai? Siapa saja yang terburu-buru hingga berjalan dengan setengah berlari sebab rakaat terakhir imam akan segera ditunaikan? Atau, berapa banyak yang santai, bahkan memilih untuk tidak berangkat dengan dalih tanggung dan aktivitas lain yang lebih menjanjikan menurut pertimbangan nafsunya?

Setelah itu, tak perlu melirik apalagi melihat orang lain, coba bertanya pada hati masing-masing; kita ada di golongan yang mana?

Bagi mereka yang salah memilih rezeki dengan enggan mendatangi, mari doakan agar ia mendapatkan hidayah-Nya. Dan, bagi mereka yang bergegas, doakan pula agar istiqamah hingga ajal menjemputnya.

Satu hal, yang menjadi bagian dari salah memilih rezeki pula, rupanya ada banyak pilihan bagi mereka yang bergegas dan sudah rapi dalam barisan shaf saat panggilan telah berkumandang sembari menunggu waktu iqamah menyapa.

Ada di antara mereka yang khusyuk dengan mendirikan rakaat-rakaat Rawatib yang disunnahkan; sebagiannya menikmati dzikir dengan panjatkan permintaan ampun sembari mengangkat kedua tangannya penuh harap dan cemas; yang lainnya memilih menafakkuri apa yang termaktub di dalam al-Qur’an dalam tilawah-tilawah tartilnya; ada pula yang bercengkerama dengan sesamanya sebab baru bertemu, dan ibadah-ibadah lainnya yang disunnahkan.

Namun, ada pula di antara mereka yang lebih memilih asyik dengan perangkat canggihnya bernama gadget. Benar jika ada di antara mereka yang menggunakan piranti teknologi itu untuk tilawah, tapi tak bisa dipungkiri; ada pula di antara mereka-dan jumlahnya banyak-yang justru memilih berselancar di dunia maya, baik hanya mencari pengetahun, atau aktifkan media sosial dan hal-hal lain yang tak ada kaitannya sedikit pun dengan waktu mustajab yang ada di antara adzan dan iqamah itu.

Lagi-lagi, tak usah melirik atau melihat orang lain. Cukup menatap dalam-dalam hati kita, kemudian bertanya, “Kita ada di bagian mana?” Dan semoga, kita tak salah memilih rezeki. [Pirman]