Seedan-edannya Zaman!


Ialah zaman ketika wanita tak malu-malu diajak jalan bersama laki-laki lain. Wanita itu dekat-dekat, bahkan meminta dipegang atau melakukan interaksi fisik lainnya tanpa malu-malu, pun saat orang tua telah ingatkan, berikan peringatan keras, bahkan lakukan upaya pencegahan.

Adalah zaman saat wanita hilang malunya. Dulu, Nabi bilang, wanita itu, kalau gadis, saat dilamar kemudian diam, diamnya itu bermakna ‘iya’. Kini, wanita-wanita itu, dengan gamis dan kerudung panjangnya yang dipakai tak sampai ke sanubari, tanpa malu mengatakan ‘iya’ menerima lamaran sembari menenteng segepok duit dan emas, atas nama cinta versi mereka.

Zaman saat laki-laki malas mencari ilmu, sibuk dengan perangkat yang disebut canggih di tangannya, bisa dibawa kemana saja untuk perbarui informasi saban detik, tapi otak penggunanya sering tidak benar, lebih seringnya lagi gila dan eror.

Bayangkan, di benak kebanyakan mereka, nikah itu soal cinta semata, hanya urusan di antara paha semata, cukup masalah uang.

Boro-boro syarat dan rukun nikah, bahkan mereka tak tahu hukumnya berhubungan saat bulan puasa atau saat istrinya sedang kedatangan tamu.

Inilah seakhir-akhirnya zaman. Seedan-edannya masa.

Inilah masa ketika orang tua luput memohon ampun kepada Allah Ta’ala atas lalai dan lemahnya diri, padahal saldo dosa mereka senantiasa bertambah saat anak-anaknya bermaksiat, pun jika jalan berdua dalam satu motor dan berkata ‘gak ngapa-ngapain’, ‘kami tahu batasan’.

Betapa mereka ini tak tahu, bahkan sekadar melangkah dari rumah menuju pacarnya itu lebih dari sekadar ‘ngapa-ngapain’.

Inilah sebabnya, orang beriman itu gak betah hidup di dunia. Mereka terpenjara. Tapi ia gegas dalam taubat, ilmu, dan amal, lalu berharap segera bertemu Allah Ta’ala melalui pintu husnul khatimah.

Mblo, aku berwasiat, jika laki-laki, jangan berlaku pengecut. Datangi saja walinya, minta izin. Jika perlu, mintalah dinikahkan saat itu juga, seketika hatimu telah cocok dengan anaknya dan kaukira bisa bersama menuju ke surga dengannya.

Dan kalian, para muslimah, gak usah nambah dosa dengan jadian atas dalih ikuti perkembangan zaman. Sebab dosa yang kau tanggung bukan dirimu saja yang menerima. Orang tua yg telah capek mengurusi, kelak akan dicincang juga di neraka jika kau terus-terusan menumpuk dosa dan berlaku sombong bin songong.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta


Satu tanggapan untuk “Seedan-edannya Zaman!”

  1. pancen wolak-waliking jaman.
    amenangi jaman edan.
    ora edan ora kumanan.
    sing waras padha nggagas.
    wong tani padha ditaleni.
    wong dora padha ura-ura.
    beja-bejane sing lali,
    isih beja kang eling lan waspadha.