Sepiring Bangkai Daging untuk Pasangan Kita

Sepulang dari kantor, laki-laki dan perempuan pengantin baru ini menikmati waktu istirahat dengan bersantai di depan media siar. Ditemani secangkir kopi panas yang kental dan makanan ringan, keduanya terlihat romantis dengan sesekali bermanja, saling bersandar dengan sentuhan-sentuhan kecil penaut jiwa.

Mereka bergantain merebahkan badan di anggota tubuh pasangannya. Kepala si laki-laki dibaringkan di paha istrinya, kemudian si wanita bergantian menyandarkan kepala dan wajah di bahu dan dada sang suami. Saling menguatkan.

“Cin,” kata si suami, “tadi ada teman kantor yang didatangi penagih.”

“Emang kenapa, Sayang?” sahut sang istri, penasaran.

“Jadi, Pak Fulan itu membeli motor. Cicilan. Sudah tiga bulan ini cicilannya berhenti. Gak bisa bayar. Dia juga kabur-kabur terus saat ditagih.” terang sang suami.

“Nah,” lanjutnya bertambah semangat, “tadi itu kali ketiga. Pak Fulan sudah gak ada di kantor. Penagih pun marah-marah gak jelas.”

“Waduh,” tanya sang istri, “kok bisa gitu ya? Sudah ada yang menyampaikan ke Pak Fulan, Say?”

“Sudah. Atasan juga sudah mengingatkan. Karena ulahnya, orang kantor pun kena imbas. Terganggu. Tapi, ya itu. Terulang.” pungkas suami mengisahkan.

Pernahkah dialog semacam ini terjadi di rumah kita? Pernahkah kita sebagai suami mendapati kisah ini dari istri kita tentang teman kerjanya? Pernahkah Anda sebagai istri mengisahkan soalan sejenis ini kepada suami Anda di rumah saat santai menikmati kebersamaan?

Jika pernah, atau sering, mungkin Anda melupakan satu hal penting dari ajaran Islam yang mulia ini. Jika dialog dan obrolan sejenis ini hampir setiap hari terjadi di rumah, bahkan Anda yang memulai obrolan, maka ketahuilah bahwa Anda telah menghidangkan bangkai daging kepada pasangan yang-katanya-Anda sayangi itu.

Daging bangkai ini bukan mengada-ada. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengatakannya. Bahkan, Allah Ta’ala juga telah menyebutkan di dalam salah satu firman-Nya yang agung.

Apa yang Anda kisahkan kepada pasangan berupa keburukan orang lain dengan tanpa niat memperbaiki, maka Anda telah melakukan ghibah, pun jika materi pembicaraannya benar. Dan ghibah, sudah disepakati keharamannya. Ianya tak ubahnya memakan bangkai saudara kita sendiri.

Ya Allah, ampuni kami dari kekhilafan ini. Mudahkan kami untuk menjauhi larangan-Mu yang ini. Dan sibukkan kami dalam amalan-amalan ketaatan dan ketaqwaan. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

2 KOMENTAR

  1. Bagaimana jk niatnya agar di jadikan pelajaran untuk keluarga agar tdk melakukan perbuatan spt itu?

  2. Ya Allah, Ya Tuhan kami, ampuni kami dari kekhilafan ini.
    Mudahkanlah kami untuk menjauhi larangan-Mu yang ini, dan sibukkan kami dalam amalan-amalan ketaatan dan ketaqwaan.

    Ya Allah ampunilah kesalahan, kbodohan & keterlaluanku dalam segala urusan & ampuni pula segala dosa yang Engkau lebih mengetahui daripada aku.

    Ya Allah bersihkan hatiku dari segala bentuk kemunafikan, riya, keangkuhan,
    Dan penuhilah hatiku dengan keikhlasan, kejujuran dan kerendahan hati.

    Ya Allah Ya Tuhan kami, tunjukilah kami jalan yang lurus, Aamiin.

Comments are closed.

Terbaru

- Advertisment -