Niat Beri Solusi, Tindakan Istri Ini Justru Perparah Masalah


Menjalani kehidupan rumah tangga bukanlah sesuatu yang rumit. Ia juga merupakan kehidupan yang tidak mudah hingga layak diremehkan. Menjalani kehidupan rumah tangga adalah satu fase kehidupan yang hanya bisa dinikmati ketika masing-masing anggota menguasai ilmu untuk mengarunginya.

Laki-laki sebagai suami memiliki begitu banyak perbedaan dengan wanita sebagai istri. Bukan hanya perbedaan fisik, tapi juga cara berpikir, respons terhadap masalah, perasaan, terkait masalah biologis, dan banyak hal lainnya.

Lantaran perbedaan ini pula, masing-masing pihak harus memiliki ilmu jika menghendaki rumah tangga yang bahagia dan dipenuhi berkah. Sebab jika menjalani rumah tangga tanpa ilmu, seseorang tak ubahnya menjerumuskan diri ke lubang nestapa. Bahkan sesuatu yang diniati untuk memberi solusi justru bisa memicu timbulnya masalah lain yang lebih besar.

Kelak dalam rumah tangga, akan ada masa tatkala suami pulang dalam keadaan berdiam diri. Tanpa bicara. Wajahnya ditekuk. Ada begitu banyak beban kehidupan yang terbaca jelas di sorot mata dan gurat wajahnya.

Saking peliknya persoalan, badan suami pun melemas. Bak tanpa daya. Tiada energi. Benar-benar loyo.

Sebagai istri, Anda tentu berpikir keras. Mencari solusi, minimal untuk mengetahui masalah apa yang tengah dihadapi oleh sang suami. Kemudian Anda banyak melontarkan pertanyaan kepada suami, sebagaimana kecenderungan wanita yang memang banyak bertutur untuk mendapatkan informasi.

Di sinilah masalah muncul. Sebab bagi suami, sederet pertanyaan tidak membuat beban di pundaknya ringan, tapi justru semakin bertambah berat.

Pertanyaan-pertanyaan istri tidak keliru. Hanya kurang tepat. Sebab yang dikehendaki oleh suami tatkala hadapi masalah adalah diam. Diam untuk mengumpulkan strategi. Diam untuk menyusun langkah. Dia juga butuh kepercayaan untuk melakukan yang terbaik.

Karenanya, istri harus bijak. Hindari banyak bertanya kepada suami saat ada masalah pelik. Tunggu saja sampai dia mau berkisah.

Cukup sediakan minuman dan makanan kesukaan, lalu menyerahkan diri sekehendak suami. Biasanya, saat memanggul banyak masalah kehidupan itulah suami membutuhkan sentuhan dan diri Anda sebagai istri, seutuhnya.

Pun para suami. Harus bijak. Tidak perlu reaktif. Cukup berkata, “Aku tidak apa-apa, Sayang. Tunggu dulu ya. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Nanti aku ceritakan.”

Jangan dingin. Peluklah istri Anda. Sebab halal, berpahala, berkah, dan nikmat.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]